BAB 7: The Inheritance of Authority
(Warisan Wibawa: Dari "Lebok Hulu" ke "Logika Allah")
Saya sadar, keberanian saya ini tidak muncul begitu saja. Ada "struktur genetik" dari Ayah saya, Almarhum. Beliau adalah eksekutor lapangan sejati. Saat sekolah yang baru dipindah ke bekas kuburan di kampung mengalami kesurupan massal, Ayah turun tangan dengan gaya Jawara Sunda yang tak kenal takut. Beliau menggunakan gertakan yang sangat "bumi": "Tong ngaganggu budak aing, lebok hulu aing!" (Jangan ganggu anak saya, makan nih kepala saya!).
Ayah memiliki kekuatan diri, hasil dari kecerdasan dan proses berguru yang panjang. Beliau melawan kegelapan dengan cahaya yang beliau miliki sendiri.
1. Strategi "Lempar Tanggung Jawab" kepada Allah
Gaya saya sedikit berbeda. Saya tidak punya guru tenaga dalam, tidak punya ilmu kesaktian, dan saya sadar betul betapa lemahnya saya. Maka, ketika ada jin yang sombong menantang saya, saya tidak melawannya dengan "ego" saya. Saya justru tertawa ringan sambil berkata:
"Ah, kalau lawan saya mah kamu pasti menang, karena saya sangat lemah. Tapi kalau berani, coba lawan Gusti Allah saja. Saya yakin kamu tidak akan kuat sedikit pun."
Ini adalah teknik "Intelektual-Pasrah". Saya menggeser medan perangnya. Bukan antara Jin vs Ahda, tapi Jin vs Penciptanya. Siapa yang berani menang melawan Pemilik Semesta?
2. Kekalahan Telak Sang Penantang
Jin sering mengancam akan menghancurkan keluarga saya. Di saat manusia lain mungkin gemetar, saya justru menemukan "lubang logika" pada ancaman si Jin.
"Keluarga saya milik Allah, dan kamu... hei Jin, kamu pun milik Allah. Jadi silakan urus dirimu sendiri dengan Pemilikmu."
Seketika, "blueprint" kejahatan si jin runtuh total. Dia kalah telak bukan karena saya lebih sakti, tapi karena saya meniadakan diri saya dalam konflik tersebut. Inilah yang membuat saya merasa aman: Karena tidak ada "Aku" yang bisa diserang, yang ada hanyalah Kehendak Allah.
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda
No comments:
Post a Comment