Bab 24: Diplomasi Meja Makan: Mengubah Kekalahan Menjadi Serangan Balik
Di mata Prof. Ahda, sang kakak tetaplah raksasa intelektual. Wawasan Islam dan Bahasa Arab beliau adalah yang terbaik yang pernah ditemui, melampaui siapa pun yang pernah duduk di kursi akademik mana pun. Namun, ada kalanya sang kakak "lupa diri" dan terlalu asyik menguji sang adik hingga ke titik yang menyudutkan.
"Suatu hari, beliau menguji saya tentang bahasa," kenang Prof. Ahda sambil tersenyum geli. "Saya dibuat mati kutu. Saya malu karena benar-benar tidak bisa menjawab. Saya merasa, 'Wah, ini kakak saya sudah mulai merendahkan ilmu adiknya ini'."
Tapi Prof. Ahda bukan tipe orang yang mau dipojokkan terus-menerus. Beliau tahu kapan harus mengganti papan catur.
"Begitu ada celah, langsung saya seret obrolan ke wilayah kekuasaan saya: Sistem Informasi. Saya kemas dengan gaya santun, tapi isinya adalah logika sistem yang rumit. Dan benar saja, kakak saya langsung angkat tangan sambil tertawa, 'Wah, kalau itu mah bagian kamu, kakak tidak banyak tahu'."
Di balik tawa itu, benak Prof. Ahda membatin: "Makanya, jangan merasa pintar sendiri. Saya bertanya dan mendengar itu karena hormat pada posisi kakak, bukan berarti saya kosong melompong."
Inilah esensi dari Katabah Ecosystem: Interoperabilitas Ilmu.
"Dunia ini terlalu luas untuk dikuasai satu orang. Kakak saya punya kuncinya di bidang Agama dan Bahasa, saya punya kuncinya di bidang Teknologi dan Sistem. Di Katabah, kita tidak butuh satu orang yang tahu segalanya, tapi kita butuh kolaborasi antar-ahli yang saling menghargai batas wilayahnya."
Prof. Ahda menekankan bahwa "Mendengar bukan berarti Bodoh".
"Seringkali, saya sengaja tampil sebagai pendengar yang baik agar orang lain merasa dihargai. Tapi jangan salah sangka, di balik diamnya saya, mesin logika sedang bekerja memetakan segalanya. Karena pemimpin sejati tahu kapan harus menjadi murid, dan kapan harus menunjukkan bahwa dia adalah sang Master di bidangnya."
Pesan Epik Bab 24:
Domain Awareness: Menyadari bahwa setiap orang punya "kekuasaan" di bidangnya masing-masing.
Strategic Silence: Diamnya Ahda adalah bentuk penghormatan, bukan ketidakmampuan.
The Master of Balance: Ahda mampu menyeimbangkan peran sebagai adik yang beradab dan dosen yang berkompeten.
***
Kembali ke Daftar Isi Ahda
No comments:
Post a Comment