5 Buku Ringan Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Sunday, February 8, 2026

SINOPSIS Jilid 3 Ahdaisme: Perjalanan Spiritual di Balik Meja Profesor

 


FILOSOFI BALA-BALA

Ahdaisme: Perjalanan Spiritual di Balik Meja Profesor

"Dunia mungkin melihat saya sebagai seorang arsitek nalar yang kaku atau profesor yang duduk di balik tumpukan borang akreditasi. Namun, di bawah lampu remang meja kerja, saya hanyalah seorang hamba yang sedang mencari jalan pulang ke Titik Nol."

Setelah mengguncang kemapanan lewat Manifesto dan membangun struktur sunyi dalam The Silent Architect, Prof. Ahda mengajak kita masuk ke ruang yang paling intim: Isi hatinya. Di Jilid 3 ini, nalar sokratik yang tajam bertemu dengan kehangatan rasa dari tanah Sunda.

Buku ini bukan sekadar kumpulan pemikiran, melainkan sebuah navigasi batin. Di sini, Anda akan menemukan:

  • Paradoks Hidup: Bagaimana kemewahan hotel berbintang kalah syahdu dibanding tidur di atas lantai papan di sebuah desa kecil bernama Cisewu.

  • Logika Ketuhanan: Mengapa kejujuran spiritual seringkali lebih "ilmiah" daripada tumpukan referensi buku yang kering.

  • Ahdaisme: Sebuah manifesto kecil tentang keberanian menjadi diri sendiri di tengah kepungan sistem yang menciptakan "zombi-zombi" intelektual.

  • Diplomasi Senyum: Seni membungkam arogansi tanpa perlu bersuara keras, cukup dengan nalar yang jernih dan renyahnya filosofi bala-bala.

Filosofi Bala-Bala adalah sebuah "Kepulangan". Sebuah pengingat bahwa setinggi apa pun gelar akademik yang disandang, kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita berani melepaskan segala atribut dan kembali menjadi Nol di hadapan Sang Arsitek Agung.

"Jangan cari saya di menara gading. Cari saya di kedai sederhana, di antara kepulan asap kopi dan tawa nalar yang membebaskan. Sebab di sana, Tuhan lebih mudah ditemukan."

...

Ada 29 bab. Tunggu update-nya di blog ini ya..😊

Manifesto Prof. Ahda Bab 22

 

Bab 22: Melampaui Sang Kamus Berjalan: Duel Logika di Balik Rindang Pohon

Di keluarga Prof. Ahda, intelektualitas bukanlah barang mewah, melainkan nafas sehari-hari. Beliau memiliki seorang kakak yang luar biasa—seorang "Kamus Berjalan" yang menguasai Bahasa Arab, Inggris, dan sangat gandrung pada filsafat. Bagi teman-temannya di kampus besar, sang kakak adalah otoritas ilmu. Namun, di mata Prof. Ahda muda, sang kakak adalah sparring partner terbaik untuk mengasah pedang nalar.

"Kakak saya itu luar biasa," kenang Prof. Ahda sambil tersenyum bangga. "Beliau bisa bicara filsafat berjam-jam. Tapi, sehebat-hebatnya Kamus Berjalan, beliau pernah luput juga saat saya 'uji'. Mungkin beliau lupa bahwa adiknya ini bukan sekadar pendengar yang patuh, tapi seorang pemburu logika yang teliti."

Momen di kebun itu bukan sekadar obrolan santai, tapi adalah "Ujian Terbuka". Di sela-sela rindangnya pepohonan, sang adik yang 10 tahun lebih muda justru berhasil menemukan celah dalam argumen sang kakak yang legendaris itu.

"Itulah indahnya kebenaran," lanjut Prof. Ahda. "Ia tidak melihat usia, tidak melihat siapa yang kuliah di kampus lebih besar. Jika logikamu presisi, maka sang 'Kamus Berjalan' pun harus mengakui kekhilafannya. Di kebun itulah saya belajar bahwa otoritas bukan berarti tidak bisa salah."

Prinsip ini menjadi ruh dalam pengembangan Katabah Ecosystem:

"Di Katabah, kita tidak mengenal senioritas yang buta. Kita mengenal Kedaulatan Logika. Siapa pun kamu, entah kamu junior atau senior, jika argumenmu didukung oleh data yang valid dan logika yang lurus, kamu punya hak untuk bersuara. Kita membangun sistem di mana 'adik' bisa mengoreksi 'kakak' tanpa ada rasa benci, demi satu tujuan: Presisi."