9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Wednesday, February 25, 2026

Sakainget: Prof. Ahda Series Bab 1-3 Dilema Seni Sang Genius


Bab 1: Firewall Masa Remaja (Antivirus Lagu Malaysia)

Banyak orang bilang tahun 90-an adalah era keemasan melodi melayu. Kakak saya beli kasetnya, radio amatir tetangga memutarnya sampai speaker-nya serak. Dari pagi sampai ketemu pagi lagi, telinga saya digempur oleh lengkingan vokal yang meratapi nasib dan rindu yang mendalam.

Anehnya, memori saya melakukan "Auto-Reject".

Ribuan bait lirik galau itu lewat begitu saja seperti data sampah (junk data) yang tidak lolos filter firewall. Jangankan cengkoknya, lirik reff-nya pun mental! Kecuali dua file yang berhasil lolos sensor: Isabella (mungkin karena arsitektur lagunya yang megah) dan Suci Dalam Debu (atau "Andai Dipisah").

Kenapa otak seorang calon Arsitek Agung menolak lagu-lagu itu?

Mungkin karena sejak remaja, nalar saya sudah disetel untuk mencari Struktur, bukan sekadar Ratapan. Lagu Malaysia saat itu terlalu banyak "Drama Sistem", sedangkan saya lebih suka "Logika Sistem". Otak saya tidak punya codec untuk memproses kegalauan yang berlebihan.

Ini adalah bukti bahwa Bakat Introvert itu sudah bekerja sejak dini. Saat orang lain sibuk nyanyi bareng sambil nangis, saya mungkin sedang sibuk memperhatikan pola frekuensi radionya atau sekadar bertanya: "Ini penyanyinya kapan beres nangisnya?" wkwkwk.

**


BAB 2: "Anomali Nada di Tengah Harmoni"

"Di keluarga saya, gitar adalah bahasa kedua. Kakak saya bicara lewat dawai, adik saya bernyanyi lewat rasa. Tapi saya? Saya adalah 'Silent Track' di album keluarga.

Saya mencoba masuk ke dunia Rhoma Irama demi mencari pembenaran nalar dalam syairnya. Tapi tetap saja, memori saya menolak untuk menghafal. Seolah-olah sel-sel otak saya berkata: 'Tugasmu adalah merancang sistem, bukan menghafal tangga nada!' >

Saya bisa membedah struktur algoritma yang rumit, tapi gagal total menghafal satu bait lagu melayu. Mungkin inilah harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang Arsitek Agung: Diberi kemampuan melihat struktur semesta, tapi dicabut kemampuan untuk karaokean." wkwkwk.

Jadi, kalau ditanya seni apa yang Ahda kuasai?

"Seni Menata Semesta dalam Keheningan Tidur." 

**

BAB 3: "Dilema Seni Sang Genius"

"Katanya, orang jenius itu minimal punya satu hobi seni. Ada yang jago biola, ada yang melukis, ada yang puitis. Saya sempat panik mencari di mana letak seni saya. Main gitar gagal, nyanyi nggak hafal, lagu Malaysia lewat begitu saja.

Akhirnya saya menemukan jawabannya: Seni saya adalah tidur.

Tapi jangan salah, ini adalah seni tingkat 'Dewa Penidur'. Di saat orang lain terjaga karena kecemasan, saya memilih masuk ke mode 'Sleep' untuk merancang strategi. Tidur saya adalah laboratorium, mimpi saya adalah simulasi, dan bantal saya adalah server utamanya. Jika seniman lain berkarya di atas kanvas, saya berkarya di balik kelopak mata." wkwkwk.

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 10 Mitos "Sunnah Usia" dalam Pernikahan

 

BAB 10: The Systematic Parasite
(Parasit Sistemik: Membongkar Mitos "Sunnah Usia" dalam Pernikahan)

Dunia dakwah kita seringkali terjebak pada Arsitektur Kulit. Saya seringkali diserbu oleh para aktivis dakwah, baik di pesantren besar di Bandung hingga di dalam bus kota, yang dengan penuh percaya diri menyodorkan "Dalil Keramat": Menikah itu menyempurnakan setengah agama, dan Menikah di usia 25 adalah Sunnah Nabi.

Melihat kepedean mereka yang dangkal, nalar "Dosen Gila" saya langsung bereaksi. Saya kasih mereka paham tentang apa itu Keadilan Berpikir.

1. Sunnah Parsial vs Sunnah Komprehensif

Mereka bilang menikah usia 25 itu Sunnah. Saya tanya balik: Nabi Muhammad SAW di usia 25 itu sudah punya apa? Beliau sudah mandiri secara ekonomi, punya integritas (Al-Amin), dan sudah selesai dengan urusan kematangan jiwa.

Sementara kalian? Mau menikah di usia 25 tapi biaya mahar masih minta orang tua, biaya resepsi ngutang ke mertua, bahkan nanti punya anak susunya ditanggung ortu. Masa iya "Penjajahan Anak kepada Orang Tua" secara sistemik ini kalian namakan Sunnah? Nabi tidak pernah mengajarkan kita menjadi beban bagi orang lain atas nama ibadah.

2. Pernikahan Bukan "Pelarian"

Kalau cuma karena ngebet atau kebelet, silakan menikah. Itu manusiawi. Tapi jangan "sok-soan" membawa dalil agama untuk menutupi ketidakmampuan mandiri. Menikah itu membangun institusi, bukan sekadar memindahkan tempat tidur.

Mengejar angka "25 tahun" tapi melupakan aspek kemandirian dan kontribusi sosial adalah bentuk penyempitan makna agama. Bagi saya, nyunnah itu harus komprehensif. Jangan ambil angka usahanya saja, tapi ambil juga etos kerjanya dan kemandiriannya.

Kesimpulan Nalar:

Saya lebih memilih menunda "setengah agama" itu sampai saya benar-benar tegak berdiri di atas kaki sendiri. Daripada saya "menyempurnakan agama" dengan cara mendzalimi orang tua saya lewat beban ekonomi yang sistemik.

Ibadah itu membebaskan, bukan menjajah.

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda