A
Arsitek Agung: Peran ideal seorang Manajer Proyek yang tidak hanya menguasai teknis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral, integritas nalar, dan empati kemanusiaan.
Arsitektur Nalar: Kerangka berpikir logis yang mendahului pembangunan sistem teknis; memastikan bahwa sistem dibangun berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren atau perintah buta.
B
Bala-bala (Diplomasi): Metode penyelesaian konflik non-formal dalam tim proyek yang dilakukan dengan suasana santai, soméah, dan penuh kekeluargaan guna mencairkan ketegangan teknis.
Buffer (Waktu Ngopi): Cadangan waktu strategis dalam jadwal proyek yang dialokasikan untuk mitigasi risiko tak terduga serta menjaga kesehatan mental tim agar tetap kreatif.
C
Cisewu (Jalur/Nalar): Simbol dari ketangguhan manajemen di tengah keterbatasan infrastruktur; kemampuan membangun sistem yang tetap handal meskipun berada di lingkungan dengan sumber daya minim.
D
Dinding Bilik: Sekat-sekat birokrasi atau ego sektoral dalam organisasi yang seringkali menghambat integrasi data dan komunikasi efektif dalam sebuah proyek TI.
H
Hade Tata: Kualitas sistem dari sisi teknis (performa, keamanan, dan struktur kode) yang rapi dan terstandar.
Hade Basa: Kualitas sistem dari sisi interaksi (antarmuka/UI-UX) yang santun, memudahkan, dan menghargai martabat pengguna.
L
Lantai Tanah: Realitas sosial dan kebutuhan mendasar masyarakat atau pengguna akhir; tempat di mana sebuah sistem informasi harus benar-benar diuji manfaatnya secara nyata.
M
Musibah Digital: Dampak negatif yang muncul akibat pembangunan sistem yang dipaksakan, tanpa nalar yang kuat, atau ditinggalkan begitu saja tanpa perawatan setelah serah terima.
N
Nalar Soméah: Pendekatan manajemen yang mengutamakan keramah-tamahan, diplomasi yang luwes, dan keterbukaan dalam berinteraksi dengan seluruh stakeholder.
P
Pabaliut: Kondisi proyek yang kacau balau, tidak terstruktur, atau memiliki alur data yang saling tumpang tindih akibat lemahnya perencanaan arsitektur.
S
Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asasi: Prinsip kepemimpinan humanis dalam mengelola anggota tim dengan cara saling mencerdaskan, saling menjaga, dan saling menghormati hak dasar sebagai manusia.
Z
Zombi Administrasi: Proses birokrasi yang kaku, berbelit-belit, dan tidak memberikan nilai tambah, namun tetap dilakukan secara berulang-ulang tanpa nalar yang jelas.
Zombi Sistem: Perangkat lunak atau aplikasi yang secara fisik "ada" dan "terbayar", namun mati secara fungsi karena tidak digunakan atau justru mempersulit pekerjaan manusia di Lantai Tanah.