5 Buku Ringan Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Friday, January 30, 2026

Meniru Jejak "Tiga Raksasa": Kenapa Saya Nekat Membangun Katabah? SERI 2 BUKU SAYA


[BAGIAN 2]

Meniru Jejak "Tiga Raksasa": Kenapa Saya Nekat Membangun Katabah?

Oleh: Komarudin Tasdik

Dalam hidup ini, saya merasa menjadi orang yang paling beruntung sekaligus paling "terpukul". Bagaimana tidak? Saya dibesarkan dan disayangi oleh tiga orang laki-laki hebat yang semuanya punya satu kesamaan: Mereka adalah Pendiri Sekolah.

Ayah kandung saya, Ayah angkat pertama, dan Ayah angkat kedua saya—mereka bukan konglomerat dengan gedung pencakar langit. Tapi mereka adalah raksasa di mata saya karena berhasil membangun sekolah hampir dari titik nol demi anak-anak di kampung.

1. Ayah Kandung: Lulusan SD yang Menantang Dunia

Pernah ada yang meremehkan Ayah kandung saya, katanya: "Lulusan SD mana bisa bangun sekolah?" Tapi Ayah tidak diam. Beliau nekat datang ke kementerian di Jakarta untuk membuktikan bahwa niat baik tidak butuh ijazah tinggi untuk dimulai. Hasilnya? Sekolah itu berdiri.

Dari beliau saya belajar: Jangan pernah menyerah pada label atau ijazah. Kalau mampu, kenapa tidak?

2. Ayah Angkat: Kerja Keras Tanpa Batas

Ayah angkat saya mengajari saya bagaimana mengelola sekolah yang muridnya awalnya tidak sampai 20 orang. Dari beliau saya belajar cara lobi, cara mencari gaji untuk guru-guru, hingga etos kerja mobile man. Beliau adalah mentor nyata yang membentuk mental saya sebagai dosen sekaligus pengelola.

3. Kenapa Saya Malu?

Melihat prestasi ketiga ayah saya, jujur saya sering merasa KO (K.O). Mereka sudah berbuat banyak untuk masyarakat, sementara saya? Saya merasa belum ada apa-apanya.

Rasa malu itulah yang melahirkan Katabah Ecosystem.

Saya tidak ingin hanya menjadi dosen yang duduk manis. Saya ingin mengikuti jejak mereka dengan cara saya sendiri: Digital. Kalau mereka membangun sekolah dengan batu bata, saya ingin membangun "sekolah" dengan deretan artikel, video, dan sistem informasi.

Misi Saya Jelas:

Saya ingin cuan dari blog ini dan YouTube Katabahcom menjadi "batu bata" untuk beasiswa mahasiswa yang kurang mampu. Saya ingin membuktikan kepada tiga ayah saya, bahwa anak mereka sedang melanjutkan perjuangan mereka di jalur teknologi.


[PENUTUP UNTUK PEMBACA]

Terima kasih bagi Anda yang sudah setia membaca. Setiap detik Anda di sini membantu saya mendekati mimpi membangun Pesantren Mandiri berbasis Komputer dan Agrobisnis.

Jangan lupa tinggalkan senyum untuk orang lain hari ini, atau kalau ada rezeki lebih, sisihkan Rp 2.000 untuk 'bala-bala' mereka yang membutuhkan.

— Abah Katabah

Bagian 1: 

Dari Tukang Servis CPU ke Calon Doktor Substantif: Rahasia 10 Tahun Membangun Katabah Tanpa Lupa Menjadi Manusia

Thursday, January 29, 2026

LAUNCHING SERI BUKU BARU: Rahasia 10 Tahun Membangun Katabah Tanpa Lupa Menjadi Manusia

 Bismillah...
Katazens yang baik hati, ini buku bacaan ringan tulisan saya yang ke-5. Kalau biasanya kan membuat materi kuliah, ini saya tampil bercerita dengan lebih santai.😊

[LAUNCHING SERI BUKU BARU]

Dari Tukang Servis CPU ke Calon Doktor Substantif: Rahasia 10 Tahun Membangun Katabah Tanpa Lupa Menjadi Manusia

Oleh: Komarudin Tasdik

Banyak orang melihat saya hari ini sebagai dosen atau pengelola jurnal OJS. Tapi, tahukah Anda bahwa "mesin" yang menggerakkan saya hari ini bukan dibangun di ruang kelas yang ber-AC, melainkan di sela-sela debu kipas CPU dan panasnya gorengan bala-bala?

Hari ini, saya ingin membuka lembaran lama yang selama ini tersimpan dalam catatan harian saya. Sebuah perjalanan yang saya rangkum dalam seri buku terbaru: "Dosen Bala-Bala: Menembus Batas Gengsi."

1. Keahlian yang Dibangun dari "Tangan Kotor"

Di CV saya tertulis ahli Sistem Informasi. Tapi gelar itu saya jemput dengan tangan yang sering hitam karena debu komputer. Saya pernah jadi tukang servis manual, membongkar baut satu per satu demi menyambung biaya kuliah.

Pesan saya untuk mahasiswa saya: Jangan manja! Jangan hanya pintar teori di layar, tapi gemetar saat memegang perangkat. Teknologi itu punya "ruh", dan ruhnya ada pada kerja keras.

2. Misteri Tangan Gemetar di Depan Mahasiswa Senior

"Ada satu hal yang sampai sekarang masih menjadi teka-teki dalam hidup saya. Sejak kelas 1 SMA, saya sering mengalami gemetar (tremor) tiba-tiba yang muncul tanpa alasan yang jelas. Padahal, urusan tampil di depan orang banyak bukan hal baru bagi saya. Saya sudah biasa memimpin upacara sejak SD hingga MTs.

Bahkan ada kejadian aneh saat saya menjadi komandan upacara di barisan paling kanan. Saat aba-aba hormat bendera, tiba-tiba tangan saya gemetaran hebat sampai saya tidak bisa mengangkat tangan untuk hormat. Gugup? Ada sedikit, tapi tidak sebanding dengan hebatnya gemetar itu. Ada yang bilang itu gejala jantung, ada yang bilang syaraf, tapi yang pasti: itu bukan karena saya penakut.

Bayangkan, kondisi fisik misterius ini harus saya bawa saat saya berdiri di depan mahasiswa yang usianya 40 tahun lebih. Saya yang baru usia 24 tahun, ijazah S1 pun belum turun, harus meyakinkan mereka tentang ilmu komputer sementara tangan saya mungkin tidak bisa diam.

Tapi di situlah saya belajar: Otoritas tidak datang dari tangan yang tenang, tapi dari isi kepala yang matang. Saya lawan anomali fisik itu dengan kualitas pengajaran. Saya tunjukkan bahwa meskipun tangan ini gemetar, logika pemrograman dan sistem informasi yang saya sampaikan sangat stabil dan bisa mereka andalkan."

3. Filosofi "Duri Cinta" dan Slide Presentasi

Mungkin ini bagian yang paling sering ditertawakan teman-teman dosen. Di buku ini, saya juga mencatat bagaimana saya "mengubur" perasaan demi ijazah, hingga akhirnya memenangkan hati istri saya, Neng Ida, bukan dengan kata-kata puitis palsu, melainkan dengan Slide Presentasi.

Kenapa? Karena bagi saya, cinta itu harus punya visi dan misi yang jelas, persis seperti membangun sebuah sistem informasi yang kokoh.

4. Katabah Ecosystem: Bisnis yang Mengundang Doa

Kenapa saya ngebet ingin blog ini tembus jutaan pageview? Kenapa saya ingin YouTube saya menghasilkan cuan?

Jawabannya ada di bab terakhir buku saya. Saya ingin membuktikan bahwa "Orang Kampung bisa Berjaya secara Digital". Setiap rupiah dari iklan di blog ini, setiap view dari video saya, akan saya kumpulkan untuk Dana Beasiswa Mahasiswa.

Saya ingin membalas kebaikan para "Ayah Angkat" saya dulu yang telah membangun sekolah dari titik nol. Kini giliran saya, melalui Katabah, membangun masa depan kalian.


MAU BACA KISAH LENGKAPNYA?

Saya akan memposting bab demi bab dari buku "Dosen Bala-Bala" ini secara rutin di Katabah.com.

Ingat: Setiap detik Anda membaca di blog ini, Anda sedang membantu seorang mahasiswa untuk tetap kuliah.

Mari belajar, mari berbagi, mari menjadi manusia yang substantif!

— Abah Katabah

 ****

Bagian 2: Meniru Jejak "Tiga Raksasa": Kenapa Saya Nekat Membangun Katabah?