5 Buku Ringan Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Monday, February 2, 2026

Membangun Pesantren Digital dan Ekonomi Mandiri ala Dosen Bala-Bala: Bagian 4

Server di Atas Sawah: 

Membangun Pesantren Digital dan Ekonomi Mandiri ala Dosen Bala-Bala

 

[ BAB 1 - BUKU NO. 4]

Server di Atas Sawah: Mengapa Masa Depan Kita Ada di Desa?

Oleh: Komarudin Tasdik

Banyak anak muda sekarang yang kalau ditanya soal sukses, pikirannya langsung ke gedung-gedung kaca di Jakarta. Mereka pikir, keahlian IT itu hanya bisa tumbuh subur di tengah polusi dan kemacetan. Tapi bagi saya, Dosen Bala-Bala yang besar dari meja servis komputer, masa depan yang paling cerdas justru ada di antara hamparan sawah.

Inilah awal dari visi "Server di Atas Sawah".

1. Melawan Arus Urbanisasi Intelektual

Saya melihat sebuah fenomena sedih: banyak anak pintar dari desa pergi ke kota untuk belajar IT, lalu mereka tidak pernah kembali. Desa mereka tetap tertinggal, sementara mereka menjadi "sekrup" kecil di perusahaan besar.

Lewat buku ini, saya ingin bilang: "Bawa pulang laptopmu!" Kecepatan internet sekarang sudah merata. Kita bisa mengendalikan server dari teras rumah sambil melihat padi yang mulai menguning. Kita tidak perlu jadi "orang kota" untuk bisa menjangkau dunia.

2. Logika "Sawah" dalam Dunia Digital

Tahukah Anda? Mengelola blog dan server itu mirip sekali dengan bertani.

  • Menanam: Kita menulis konten dan melakukan optimasi SEO.

  • Memupuk: Kita konsisten update dan merawat komunitas pembaca.

  • Memanen: Kita menikmati iklan atau hasil kerjasama sebagai buah dari kesabaran.

Jika kita bisa sabar menunggu padi tumbuh selama 3-4 bulan, kenapa kita tidak bisa sabar membangun aset digital selama beberapa tahun?

3. Mimpi Pesantren Mandiri

Visi terbesar saya bukan sekadar punya banyak blog, tapi bagaimana hasil dari dunia digital ini bisa mendirikan Pesantren Digital. Tempat di mana anak-anak kampung belajar mengaji dengan khusyuk, tapi juga mahir mengetik kode (coding) dan fasih bahasa asing.

Saya ingin mereka menjadi generasi yang tangannya di atas—tangan yang bisa menciptakan lapangan kerja dari ujung jari mereka, tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran.


[HARAPAN ABAH]

Buku ini bukan sekadar panduan bisnis, tapi sebuah manifesto kemandirian. Saya ingin membuktikan bahwa dengan modal laptop butut dan koneksi internet, seorang anak desa bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Mau tahu bagaimana cara Abah menyatukan 'bau tanah' dengan 'bau server'? Simak terus Bagian 2!

— Abah Katabah

***


[BAB 2 - BUKU NO. 4]

Algoritma Cangkul: Saat Coding Bertemu Agrobisnis

Oleh: Komarudin Tasdik

Banyak yang tertawa saat saya bilang mengelola kebun atau sawah itu mirip dengan mengelola database. Mereka pikir IT itu hanya soal kabel dan monitor. Padahal, bagi saya, bertani adalah pemrograman di dunia nyata.

Kalau di depan laptop saya bicara tentang Input-Process-Output, maka di sawah saya bicara tentang Benih-Pupuk-Panen. Logikanya persis!

1. "Debugging" di Atas Tanah

Dalam dunia koding, kalau ada satu baris kode yang salah, seluruh program bisa error. Begitu juga di sawah. Kalau airnya terlalu banyak atau pupuknya salah waktu, tanaman akan "lagging" alias kerdil.

Sebagai orang IT, saya belajar ketelitian dari mesin. Ketelitian itulah yang saya bawa ke desa. Kita tidak bisa bertani hanya pakai perasaan "kira-kira". Kita butuh data: kapan waktu terbaik menanam, berapa pH tanahnya, dan bagaimana fluktuasi harga pasar. Inilah yang saya sebut Agrobisnis berbasis Data.

2. Menghapus Virus "Minder" Anak Desa

Masalah terbesar di desa bukan kurangnya lahan, tapi adanya "virus" minder. Anak muda desa merasa kalau belum kerja di kantor ber-AC, mereka belum sukses.

Lewat filosofi Server di Atas Sawah, saya ingin menginstal "antivirus" di otak mereka. Saya tunjukkan bahwa dengan laptop di tangan dan cangkul di sampingnya, mereka bisa jadi Technopreneur. Mereka bisa menjual hasil buminya lewat blog atau media sosial ke seluruh Indonesia, bahkan dunia, tanpa melalui tengkulak yang mencekik.

3. Kemandirian Ekonomi dari Teras Rumah

Visi saya sederhana: Saya ingin melihat setiap rumah di desa punya satu unit "Server kecil" (bisa blog atau toko online). Paginya mereka ke sawah mencari keringat, siangnya mereka di depan laptop memantau bisnis digital mereka.

Inilah kemandirian sejati. Kita punya ketahanan pangan (dari sawah) dan kita punya ketahanan finansial (dari internet). Jika keduanya digabung, tidak akan ada lagi cerita anak desa yang terpaksa jadi kuli di kota orang hanya untuk menyambung hidup.


[REFLEKSI ABAH]

Teknologi jangan menjauhkanmu dari tanah kelahiran. Justru teknologi harusnya membuatmu mampu mengolah tanahmu dengan lebih cerdas. Jangan cuma bangga jadi pengguna aplikasi buatan orang, mulailah jadi 'arsitek' untuk desamu sendiri.

Penasaran bagaimana cara Abah mulai 'menanam' aset digital sambil tetap membumi? Simak di Bagian 3 ya!

— Abah Katabah


***


[BAB 3 - BUKU NO. 4]

Pesantren Digital: Menghafal Qur'an Sambil Ngoprek Python

Oleh: Abah Katabah

Banyak orang yang memandang dunia agama dan dunia teknologi itu seperti minyak dan air; tidak bisa bersatu. Katanya, kalau sudah belajar agama, jangan terlalu sibuk urus dunia (teknologi). Atau kalau sudah pinter koding, biasanya lupa mengaji.

Bagi saya, itu pemikiran yang harus segera kita "Reformat".

Di bawah bendera Server di Atas Sawah, mimpi besar saya adalah membangun sebuah Pesantren Digital. Tempat di mana gema hafalan Al-Qur'an bersahutan dengan bunyi ketikan keyboard di ruang lab komputer.

1. Santri yang "Full Stack" (Dunia-Akhirat)

Saya ingin mencetak generasi santri yang bukan hanya mahir kitab kuning, tapi juga mahir bahasa pemrograman seperti Python, PHP, atau JavaScript. Mengapa? Agar kelak saat mereka terjun ke masyarakat, mereka tidak hanya bisa ceramah, tapi juga bisa membangun sistem untuk membantu umat.

Bayangkan seorang kyai muda yang bisa membuat aplikasi manajemen zakat sendiri, atau ustadz yang berdakwah lewat blog internasional yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Inilah yang saya sebut Kemandirian Dakwah.

2. Melawan Tangan di Bawah

Selama ini, banyak lembaga pendidikan yang bergantung sepenuhnya pada donasi. Lewat Pesantren Digital ini, saya ingin mengajarkan para santri untuk menjadi Technopreneur.

Hasil dari unit bisnis digital (seperti jaringan blog Katabah atau jasa IT) itulah yang akan membiayai makan dan operasional pesantren. Kita ingin santri yang mandiri, yang tangannya di atas karena mereka punya skill yang dibutuhkan dunia. Mereka tidak mencari beasiswa, tapi merekalah yang nantinya memberi beasiswa.

3. Literasi adalah Ibadah

Di mata saya, merapikan baris kode atau menerjemahkan artikel bermanfaat itu adalah bentuk ibadah. Jika dengan satu aplikasi atau satu tulisan kita bisa membantu memudahkan urusan ribuan orang, bukankah itu amal jariyah yang luar biasa?

Pesantren Digital adalah tempat di mana kita belajar bahwa teknologi hanyalah alat, tapi tujuannya tetap satu: Mencari ridho Ilahi melalui kebermanfaatan bagi sesama manusia.


[PESAN ABAH DARI TERAS SAUNG]

Jangan biarkan anak-anak kita hanya jadi konsumen konten yang tidak jelas. Mari kita bekali mereka dengan 'senjata' masa depan: Iman yang kokoh dan Skill IT yang mumpuni. Dari sawah ini, kita siapkan santri-santri yang akan mengguncang dunia lewat kode dan doa.

Mau tahu bagaimana cara Abah mengelola blog agar bisa jadi batu bata pertama pesantren ini? Tunggu di Bagian 4!

— Abah Katabah

***


[BAB 4 - BUKU NO. 4]

Cuan Berkah: Mengubah Blog Menjadi Batu Bata Pesantren

Oleh: Komarudin Tasdik

Dalam dunia bisnis digital, orang sering bicara tentang Passive Income untuk foya-foya atau pamer kemewahan. Tapi bagi saya, setiap Dollar yang mampir dari iklan di blog atau hasil menulis di luar negeri, punya misi suci.

Saya tidak ingin cuan itu berhenti di rekening bank saja. Saya ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa disentuh, ditempati, dan bermanfaat: Batu bata untuk Pesantren Digital.

1. Monetisasi untuk Misi, Bukan Sekadar Gengsi

Banyak yang bertanya, "Bah, kenapa di blog Katabah banyak iklannya?" Jawabannya jujur saja: Itulah cara saya "menambang" biaya operasional untuk mimpi besar kita.

Setiap kali Anda membaca artikel di Katabah, atau mengklik tutorial yang saya buat, Anda sebenarnya sedang membantu saya membeli semen, pasir, dan batu bata untuk membangun sarana belajar anak-anak di desa. Saya memperlakukan blog sebagai investasi akhirat.

2. Transparansi "Dosen Bala-Bala"

Saya ingin mengajarkan kepada mahasiswa dan santri saya bahwa mencari uang di internet itu harus transparan dan berkah. Kita tidak perlu ikut-ikutan investasi bodong atau judi online untuk cepat kaya.

Cukuplah dengan tekun menulis, telaten mengelola jurnal (OJS), dan sabar membangun aset digital. Uang yang datang sedikit demi sedikit, jika dikelola dengan manajemen yang benar, bisa membangun sebuah gedung yang megah. Inilah yang saya sebut Ekonomi Berkelanjutan ala Katabah.

3. Membangun "Server" di Dunia Nyata

Mimpi saya adalah, di lokasi pesantren nanti, akan ada satu ruangan khusus yang dingin dan penuh kabel. Itulah Server Center kita. Di sana, data-data ilmu pengetahuan disimpan.

Tapi di luar ruangan itu, ada masjid tempat sujud dan ada kebun tempat santri belajar menanam padi. Inilah keseimbangan. Uang digital (cuan) kita tarik ke dunia nyata untuk membangun peradaban yang berakar pada tanah (sawah) dan menjulang ke langit (teknologi).


[HARAPAN ABAH]

Jangan pernah malu mencari cuan di internet, asal caranya halal dan tujuannya mulia. Mari kita buktikan bahwa dari hasil mengetik di depan laptop, kita bisa membangun rumah Allah dan tempat belajar bagi anak-anak bangsa.

Sampai di sini, apakah Anda siap ikut dalam perjalanan 'Server di Atas Sawah' ini? Simak penutupnya di Bagian 5!

— Abah Katabah


***


[BAGIAN 5 - FINALE]

Warisan di Atas Tanah dan Udara: Menanam Hari Ini, Memanen di Akhirat

Oleh: Komarudin Tasdik

Kita sudah sampai di ujung obrolan tentang "Server di Atas Sawah". Kita sudah bicara tentang memulangkan laptop ke desa, menyatukan koding dengan cangkul, hingga mimpi membangun pesantren dari hasil keringat digital.

Mungkin ada yang membatin, "Bah, emang keburu semua mimpi itu terwujud? Usia kita kan terbatas."

Jawabannya: Justru karena usia kita terbatas, kita harus membangun sesuatu yang tidak terbatas.

1. Menanam "Server" yang Tak Pernah Padam

Di dunia IT, kita mengenal uptime—durasi server menyala tanpa henti. Saya ingin amal kita punya uptime 100%, bahkan setelah kita sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Tulisan di blog yang terus dibaca, sistem OJS yang membantu ribuan dosen, serta ilmu bahasa yang dipelajari santri di pesantren kelak—itu semua adalah "Server" yang akan terus menyala mengirimkan kiriman pahala untuk kita. Kita menanam di atas tanah (pesantren), tapi hasilnya kita simpan di "Cloud" milik Allah SWT.

2. Kedaulatan Desa adalah Harga Mati

Lewat seri ini, saya ingin berpesan pada kawan-kawan semua: Cintai desamu, kuasai teknologinya. Jangan biarkan kekayaan desa kita (baik alam maupun manusianya) habis dikuras hanya karena kita gagap teknologi.

Jadilah generasi yang mandiri. Jadilah Technopreneur yang tetap membumi. Ingat, puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan bukan saat kita bisa membuat robot yang terbang ke luar angkasa, tapi saat kita bisa membuat teknologi yang menyejahterakan orang-orang di sekitar kita.

3. Perjalanan Masih Panjang

Pesantren Digital belum berdiri sempurna, blog Katabah masih terus berbenah, dan sawah-sawah kita masih butuh sentuhan inovasi. Saya, Abah Katabah, hanyalah seorang Dosen Bala-Bala yang punya mimpi besar. Saya tidak bisa jalan sendiri.

Saya mengajak Anda semua—para pencinta literasi, pejuang IT, dan pemburu keberkahan—untuk terus konsisten berkarya. Mari kita jadikan setiap ketikan keyboard kita sebagai saksi bahwa kita pernah berjuang untuk kemandirian bangsa.


[PENUTUP SERI BUKU NO. 4]

Terima kasih sudah menemani perjalanan imajiner dan nyata ini. Dari pinggir sawah ini, Abah kirimkan doa untuk kalian semua. Tetaplah mengetik, tetaplah menanam, dan tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat.

Sampai jumpa di karya-karya Abah selanjutnya. Salam Literasi, Salam Technopreneur!

— Abah Katabah