English & Arabic Without Kerut":
Strategi 'Hardcore' Menerjemahkan Dunia dengan Kamus di Tangan
[Bab 1]
Masih Pakai Kamus Saat Baca Materi S3? Jangan Malu, Itu Strategi Presisi!
Oleh: Komarudin Tasdik
Banyak orang merasa minder atau merasa "belum jago" kalau setiap kali baca teks bahasa Inggris tangan mereka masih sibuk bolak-balik buka kamus. Apalagi kalau levelnya sudah dosen atau peneliti, ada semacam beban moral kalau ketahuan masih pakai Google Translate atau kamus tebal.
Dengar ini baik-baik: Kamus bukan tanda kita bodoh, tapi tanda kita sedang mencari presisi.
1. Belajar dari Dunia IT: No Room for Error
Di dunia Sistem Informasi yang saya geluti, satu huruf saja salah dalam koding, sistem bisa crash. Begitu juga dalam memahami teks akademik atau kuliah. Satu kata teknis yang kita anggap remeh, kalau salah tafsir, bisa merusak seluruh pemahaman kita terhadap satu teori.
Saya lebih baik menghabiskan waktu 5 menit membuka kamus untuk memastikan makna sebuah kata, daripada membaca cepat 10 halaman tapi isinya cuma "kira-kira". Di dunia literasi, "kira-kira" adalah musuh utama kualitas.
2. Kamus adalah "Debugger" Pikiran
Kalau di pemrograman kita punya alat untuk mencari kesalahan (debugger), maka dalam bahasa, kamus adalah alatnya. Saya tidak pernah malu meskipun harus membedah teks bahasa Inggris rumpun SI (Sistem Informasi) sambil ditemani kamus. Justru di situlah letak seninya. Kita sedang melakukan Reverse Engineering—membongkar cara berpikir penulis luar negeri dan memasukkannya ke dalam logika kita secara akurat.
3. Mengutamakan Substansi daripada Gengsi
Saya punya prinsip: Lebih baik paham substansi lewat kamus, daripada lancar baca tapi otaknya kosong. Banyak orang yang lidahnya fasih, aksennya keren, tapi pas ditanya inti dari tulisan yang dia baca, dia bingung.
Jangan terjebak pada "gaya". Fokuslah pada "isi". Di blog Katabah ini, saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk berani mengakui keterbatasan. Kita belajar bareng, kita buka kamus bareng, yang penting hasilnya: Kita paham dan ilmu itu bisa kita manfaatkan.
Kesimpulan Abah:
Jangan biarkan gengsi menghambatmu mendapatkan ilmu. Kamus itu senjata, bukan beban. Pakailah sesering mungkin sampai kata-kata itu menempel permanen di database otakmu.
***
[Bab 2]
Nahwu Level SMA vs Logika Programmer: Cara Abah Bedah Kalimat Tanpa Pusing
Oleh: Komarudin Tasdik
Banyak orang yang langsung "angkat tangan" atau pusing tujuh keliling saat mendengar istilah Nahwu atau Sharaf. Bayangannya langsung ke hafalan bait-bait syair yang rumit atau kaidah yang tumpang tindih. Tapi, sebagai orang yang besar di dunia IT, saya punya cara pandang yang agak "nyeleneh" dalam mempelajari bahasa Arab.
Jujur saja, kemampuan bahasa Arab saya mungkin masih selevel anak SMA. Saya bukan pakar yang hafal seluruh isi kitab kuning. Tapi, saya punya satu senjata: Logika Programmer.
1. Nahwu adalah Algoritma Bahasa
Dalam dunia koding, kita mengenal struktur If-Then, Looping, dan Variable. Nah, di mata saya, Nahwu itu persis seperti itu.
I’rab (perubahan harakat akhir) itu bukan sekadar harakat, tapi itu adalah Marker (Penanda). Kalau variabelnya jadi Marfu’, dia sedang jadi subjek. Kalau Manshub, dia jadi objek.
Bagi saya, memahami Nahwu itu seperti melakukan Trace Logic pada sebuah aplikasi. Kita tidak perlu menghafal semua baris kode, yang penting kita paham alurnya.
2. Melihat "Syntax" dalam Setiap Kalimat
Setiap kali saya membedah teks Arab di Katabah, saya tidak melihatnya sebagai tumpukan kata yang harus dihafal. Saya melihatnya sebagai sebuah Sistem.
Jumlah Ismiyyah itu seperti deklarasi variabel di awal program.
Jumlah Fi’liyyah itu seperti eksekusi fungsi atau action.
Dengan cara pandang ini, bahasa Arab yang tadinya terasa "angker" jadi terasa sangat masuk akal. Saya tidak butuh jadi ahli bahasa tingkat tinggi dulu untuk bisa mengerti maksud sebuah kalimat, cukup dengan logika yang benar dan bantuan kamus, pesan di dalam teks tersebut bisa saya tangkap.
3. Berbagi Apa yang Kita Pahami
Inilah alasan kenapa saya berani menulis materi Nahwu di blog ini meskipun saya bukan "Syeikh". Saya ingin menunjukkan bahwa bahasa Arab itu logis! Saya ingin membantu kawan-kawan yang mungkin merasa "mentok" belajar dengan cara konvensional.
Kita belajar lewat jalur logika. Kita bedah syntax-nya, kita pahami algoritmanya, dan kita ambil substansinya. Karena bagi Abah, yang terpenting bukan seberapa banyak kaidah yang kamu hafal, tapi seberapa dalam kamu memahami pesan yang disampaikan oleh bahasa tersebut.
Kesimpulan Abah:
Jangan takut sama Nahwu. Anggap saja kamu lagi belajar bahasa pemrograman baru. Bedah pelan-pelan, cari polanya, dan jangan lupa: tetap sediakan kamus di samping laptopmu!
***
[Bab 3]
Penyakit "Template Bagus, Isi Kosong": Mengapa Saya Mengutamakan Substansi?
Oleh: Komarudin Tasdik
Dalam perjalanan saya mengelola Katabah.com, mengurus jurnal (OJS), hingga berselancar di berbagai publikasi internasional, saya menemukan sebuah fenomena yang cukup menggelitik. Banyak sekali tulisan yang tampilannya sangat "wah". Formatnya rapi, font-nya sesuai standar jurnal elit, dan templatenya sangat kaku mengikuti aturan internasional. Tapi, pas saya baca perlahan... Isinya...
1. Jangan Terjebak pada "Kemasan"
Sebagai orang yang memiliki daya kritis berbeda, saya selalu menekankan satu hal: Substansi adalah Raja. Buat apa kita pakai bahasa Inggris yang sophisticated atau istilah-istilah Arab yang tinggi, kalau pesan yang ingin disampaikan tidak sampai ke pembaca?
Saya sering melihat orang yang isi otaknya sebenarnya keren, idenya orisinal, dan solusinya cerdas, tapi mereka minder karena tidak bisa membungkusnya dengan "template" yang mewah. Padahal, dunia lebih butuh ide segar kita daripada sekadar kerapian spasi di atas kertas.
2. Kritik untuk Para Penulis "Copy-Paste"
Banyak tulisan hari ini yang hanya mengejar syarat formal. Mereka fokus pada bagaimana agar lolos cek plagiasi atau bagaimana agar terlihat "ilmiah", tapi melupakan orisinalitas pemikiran.
Di Katabah, saya tidak mau ikut-ikutan tren itu. Saya lebih suka menulis dengan bahasa yang lugas, bahkan mungkin terasa sederhana bagi sebagian orang. Namun, saya pastikan setiap paragrafnya punya bobot. Kalau saya membahas sistem informasi, saya ingin pembaca benar-benar paham logikanya, bukan cuma terpukau sama istilah bahasa Inggrisnya yang sulit dieja.
3. Mari Menulis dengan "Nyawa"
Sebuah tulisan baru akan bermanfaat kalau dia punya "nyawa". Nyawa itu datang dari kejujuran penulisnya. Jika Anda masih pakai kamus, akui saja. Jika bahasa Anda masih kaku, tidak apa-apa. Yang penting, apa yang Anda tulis itu benar, bermanfaat, dan datang dari hasil pemikiran yang mendalam.
Jangan sampai kita jadi generasi yang jago memoles bungkus tapi lupa mengisi dalamnya. Di dunia yang sudah penuh dengan informasi "sampah", mari kita jadi penyedia informasi yang berisi.
Kesimpulan Abah:
Template itu penting untuk kerapian, tapi substansi itu harga mati untuk kualitas. Jangan biarkan ketidakmampuanmu mengikuti "gaya" menghalangi dunia untuk mendengar ide-ide hebatmu. Tulislah isinya dulu, baru pikirkan bungkusnya!
****
[Bab 4]
Dari Terjemahan ke Dollar: Bukti Bahwa Skill Pas-pasan Bisa Tembus Pasar Global
Oleh: Komarudon Tasdik
Banyak orang bertanya kepada saya, "Bah, emang bisa ya orang kayak kita, yang bahasa Inggrisnya hasil otodidak dan masih sering 'nyangkut' di kamus, bisa nulis di blog luar negeri dan dapet gaji Dollar?"
Jawaban saya singkat: Bisa banget! Karena pasar global itu tidak mencari "pujangga", mereka mencari solusi dan informasi.
1. Menembus Batas Minder
Dulu saya pun sempat ragu. Saya merasa bahasa Inggris saya ini "ndeso", kaku, dan mungkin penuh grammar error. Tapi kemudian saya sadar, internet itu luas. Ada jutaan orang di luar sana yang sedang mencari tutorial sistem informasi, mencari data, atau mencari perspektif baru yang mungkin hanya kita yang tahu.
Mereka tidak peduli kalau kita pakai The atau A yang tertukar sesekali. Yang mereka peduli adalah: "Apakah tulisan orang ini bisa menyelesaikan masalah saya?" Begitu saya berhenti minder dan mulai berani mengirimkan tulisan, pintu rezeki itu terbuka.
2. Strategi "Kurasi Ilmu" ala Abah
Rahasia saya sebenarnya sederhana. Saya melakukan Kurasi. Saya baca materi-materi berat (bahkan materi level S3 rumpun SI), saya bedah pakai kamus sampai saya paham substansinya, lalu saya tulis ulang dengan gaya bahasa saya sendiri.
Saya tidak cuma copy-paste. Saya memberikan "rasa" dan logika saya di sana. Ternyata, dedikasi kita dalam membedah teks itu dihargai mahal di luar negeri. Itulah yang saya sebut sebagai Jihad Literasi Digital. Kita ambil ilmu dari jendela dunia, kita olah, dan kita kirim balik ke dunia sebagai karya.
3. Dollar Adalah Bonus, Manfaat Adalah Fokus
Dapat bayaran Dollar dari PayPal itu rasanya memang manis, apalagi kalau dikonversi ke Rupiah saat kurs lagi naik, hehe. Tapi yang jauh lebih membanggakan adalah saat nama kita, Abah Katabah, terpampang di situs internasional dan dibaca oleh orang dari berbagai negara.
Ini adalah bukti bahwa kemampuan bahasa bukan soal gaya-gayaan. Bahasa adalah Alat Transportasi. Selama kendaraanmu bisa mengantarkan "barang" (ide/informasi) sampai ke tujuan dengan selamat, tidak masalah kalau kendaraanmu itu bukan mobil mewah keluaran terbaru.
Kesimpulan Abah:
Jangan menunggu sampai bahasa Inggrismu "perfect" baru berani menulis. Kalau kamu nunggu sempurna, kamu nggak akan pernah mulai. Buka kamusmu, ketik idemu, dan kirimkan ke dunia. Biarkan Dollar datang sebagai hadiah atas keberanianmu melampaui rasa takut!
[PENUTUP]
Terima kasih sudah mengikuti seri "English & Arabic Without Kerut" ini. Semoga pengalaman ini bisa jadi bensin buat kalian yang selama ini masih ragu untuk melangkah. Sampai jumpa di postingan-postingan teknis berikutnya di Katabah.com!