9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Wednesday, February 25, 2026

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 10 Mitos "Sunnah Usia" dalam Pernikahan

 

BAB 10: The Systematic Parasite
(Parasit Sistemik: Membongkar Mitos "Sunnah Usia" dalam Pernikahan)

Dunia dakwah kita seringkali terjebak pada Arsitektur Kulit. Saya seringkali diserbu oleh para aktivis dakwah, baik di pesantren besar di Bandung hingga di dalam bus kota, yang dengan penuh percaya diri menyodorkan "Dalil Keramat": Menikah itu menyempurnakan setengah agama, dan Menikah di usia 25 adalah Sunnah Nabi.

Melihat kepedean mereka yang dangkal, nalar "Dosen Gila" saya langsung bereaksi. Saya kasih mereka paham tentang apa itu Keadilan Berpikir.

1. Sunnah Parsial vs Sunnah Komprehensif

Mereka bilang menikah usia 25 itu Sunnah. Saya tanya balik: Nabi Muhammad SAW di usia 25 itu sudah punya apa? Beliau sudah mandiri secara ekonomi, punya integritas (Al-Amin), dan sudah selesai dengan urusan kematangan jiwa.

Sementara kalian? Mau menikah di usia 25 tapi biaya mahar masih minta orang tua, biaya resepsi ngutang ke mertua, bahkan nanti punya anak susunya ditanggung ortu. Masa iya "Penjajahan Anak kepada Orang Tua" secara sistemik ini kalian namakan Sunnah? Nabi tidak pernah mengajarkan kita menjadi beban bagi orang lain atas nama ibadah.

2. Pernikahan Bukan "Pelarian"

Kalau cuma karena ngebet atau kebelet, silakan menikah. Itu manusiawi. Tapi jangan "sok-soan" membawa dalil agama untuk menutupi ketidakmampuan mandiri. Menikah itu membangun institusi, bukan sekadar memindahkan tempat tidur.

Mengejar angka "25 tahun" tapi melupakan aspek kemandirian dan kontribusi sosial adalah bentuk penyempitan makna agama. Bagi saya, nyunnah itu harus komprehensif. Jangan ambil angka usahanya saja, tapi ambil juga etos kerjanya dan kemandiriannya.

Kesimpulan Nalar:

Saya lebih memilih menunda "setengah agama" itu sampai saya benar-benar tegak berdiri di atas kaki sendiri. Daripada saya "menyempurnakan agama" dengan cara mendzalimi orang tua saya lewat beban ekonomi yang sistemik.

Ibadah itu membebaskan, bukan menjajah.

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda


Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 9 Penjara Cinta Monyet

 

BAB 9: The Divine Firewall
(Dinding Api Ilahi: Merdeka dari Penjara Cinta Monyet)

Banyak orang menyebut saya "shaleh" atau "lurus". Saya hanya tertawa dalam hati. Mereka tidak tahu bahwa "keshalehan" itu bukan hasil usaha saya, melainkan hasil Intervensi Paksa dari Sang Arsitek Agung. Allah menyelamatkan saya dengan cara-cara yang paling administratif sekaligus unik.

1. Protokol Pemindahan Otomatis

Waktu remaja, masa-masa hormon sedang bergejolak, saya pun mengalami cinta monyet. Saya naksir teman, eh... tiba-tiba naik kelas dia pindah sekolah jauh. Ada juga cewek yang mendekati saya, dan karena saya "Gak Tegaan" (kelemahan struktural saya), saya hampir saja terjebak. Tapi apa yang terjadi? Begitu naik kelas, dia pun pindah.

Seolah-olah Allah bilang: "Ahda, kamu jangan sibuk urusan begini dulu. Blueprint-mu bukan di sini." Allah membangun "Dinding Api" (Firewall) yang memindahkan setiap gangguan sebelum sempat merusak pondasi hidup saya. Hasilnya? Saya merdeka dari tradisi pacaran sampai akhirnya langsung akad nikah.

2. Logika "Ekonomi" dan "Kebebasan"

Selain faktor syariat, nalar nakal arsitek saya pun sudah bekerja sejak remaja. Saya berpikir praktis: Ngapain pacaran?

  • In-efisiensi Anggaran: Harus nraktir, buang-buang sumber daya finansial yang terbatas.
  • Pembatasan Akses: Punya pacar itu seperti punya mandor yang cemburuan. Tidak bebas ngobrol, tidak bebas berekspresi.

Bagi saya, "Gak pacaran itu Bebas!". Kebebasan nalar adalah aset terbesar saya. Saya tidak ingin pikiran saya "disandera" oleh drama percintaan yang tidak produktif.

Kesimpulan Nalar:

Ternyata, "kesepian" saya di masa remaja adalah investasi Allah agar saya punya banyak waktu untuk membangun dialog dengan diri sendiri dan Pencipta. Allah tidak membiarkan saya "investasi" di tanah yang salah.

Terkadang, dijauhkan dari apa yang kita inginkan adalah cara Allah untuk mendekatkan kita pada apa yang kita butuhkan: Kemerdekaan Jiwa.

 

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda