Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan FB Gratis | Sunda | Kontak | Gmail | Uang Adsense
Kuliah Sistem Informasi,
Jurnal Ilmiah Sistem Informasi
STMIK JABAR
LP3I Tasikmalaya
STAI Al-Falah* Yamaha new Vixion 2014 Dijual
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Thursday, February 21, 2019

Cara Jadi Guru di Google Classroom


Setelah kita diundang oleh pengelola Google Classroom
1. Buka e-mail
2. Kik inbox yang subjeknya “Invitation to team teach:”
Nama e-mail pengundangnya juga ada tulisan (Classroom)

3. Klik JOIN
4. Klik ACCEPT

Sampai langkah 4 di atas, kita sudah tergabung sebagai guru (teacher) di Google Classrom.
Langkah selanjutnya antara lain:
a. Upload materi kuliah
b. Upload tugas untuk mahasiswa
c. Mengajak mahasiswa untuk bergabung, bisa dengan mengundang via e-mailnya atau memberikan link Google Classroom dan class code-nya (bisa bertanya kepada admin).

**
Pandua ini bisa diklik pada menu STAI Al-Falah di bagian atas blog ini.

Monday, February 18, 2019

Jokowi Tampil Cerdas Angka-Angka, Alat Bantu kah?

Kemarin malam, saya nonton debat Capres. Saat Jokowi menyebutkan beberapa angka, saya sedikit terperanjat juga. Seorang presiden bisa hafal sedetil itu kah?

"Mungkin ini akan jadi kehebohan di medsos," kata saya ke kakak.

Eh benar saja muncul berita bahwa "ada yang menuduh Jokowi menggunakan alat bantu komunikasi untuk mendapatkan jawaban saat debat berlangsung."

Jika Jokowi terbukti menggunakan alat bantu, maka saya tak akan simpati lagi kepada beliau.
Jika Jokowi tidak terbukti menggunakan alat bantu, maka ini teguran keras kepada para pembenci Jokowi yang seringkali meremehkan bahkan melecehkan kemampuannya.

Saya berharap ada penelitian usut tuntas terkait hal ini.

Wednesday, February 13, 2019

Penelitian Harus Masyarakati, Bukan Akreditasi Melulu

Hihihi...tarik nafas dulu ahhh
Sekarang, penelitian dan pengabdian dosen yang dituangkan dalam bentuk artikel jurnal semakin santer terdengar.

Banyak dosen "berlomba" melakukan penelitian dengan mengajukan proposal untuk berbagai dana hibah penelitian.

Mulai yang di bawah 10 juta, hingga 25 juta ke atas per proyek penelitian (bisa dikatakan per jurnal ya..hehe).

Beberapa artikel yang saya baca terasa keren-keren hingga saya seringkali agak sulit memahaminya. Mereka cerdas-cerdaaas. Hehe

Tapi dalam satu rapat yayasan, sang ketua mengatakan bahwa Rukun Warga (RW) membutuhkan sentuhan pengabdian orang-orang kampus. Data mereka masih manual.

Jadi, apa kabar artikel jurnal yang sudah terindeks SINTA 2 (DIKTI) dan SCOPUS? Ini penelitian kita belum terindeks masyarakat yang benar-benar membutuhkan kontribusi kita mau diabaikan? Oh tidaaaaak...hahaha

Sunday, February 10, 2019

Google Classroom Untuk e-Learning

Ada beberapa fasilitas gratis untuk e-learning, antara lain Google Classroom.

Fasilitas e-learning ini salah satu yang direkomendasikan oleh konsultan akreditasi suatu kampus kepada saya.

Memang setahu saya, saat ini masalah besar dalam implementasi e-learning bukan fasilitasnya, tapi dosen yang mau menggunakannya masih limited edition (baru dugaan mentah sih...hehe)

Google Classroom juga sudah keren. Satu account bisa melibatkan banyak dosen dan mahasiswa. Syaratnya cukup punya alamat e-mail (gmail).

Tuesday, February 5, 2019

Belajar Berinovasi Kecil-Kecilan


Saya sedang belajar berinovasi sedikit-sedikit, yakni mahasiswa harus membuat tulisan mirip artikel jurnal. Ini juga diharapkan dapat membiasakan mahasiswa untuk menulis sehingga terasa mudah saat menyusun skripsi.

Kalau saat saya jadi mahasiswa, biasanya tugas seperti ini cenderung dikerjakan di luar perkuliahan dengan dosen. Jadi, saat bertemu dengan dosen pengampu mata kuliahnya, langsung dikumpulkan.

Nah sekarang, saya ingin mahasiswa membuatnya di kelas bersama-sama dengan mahasiswa lain dan saya juga. Bila mereka ingin mengerjakan di luar kelas, itu bagus. Akan tetapi, tetap akan ditanya cara penyusunannya di kelas agar mahasiswa lain tahu beberapa cara menulis “artikel jurnal” yang mungkin saja tiap mahasiswa berbeda gaya penyusunannya, misal:
1. Cara menemukan ide
2. Cara memulai menulis
3. Cara menyelesaikan sebuah karya tulis.

Harapan saya, 5-10 lembar juga sudah beres. Daftar pustaka juga ya cukup 5 saja, yang mana terdiri atas 2 referensi utama dan 3 referensi pendukung. Karya tulis akan diuji menggunakan tool anti plagiarisme.

Langkah awal, saya mengemukan ide ini dan langsung mempraktekkan cara mencari referensi online. Sudah ada yang faham, tapi saat menyusun artikelnya masih kebingungan mungkin karena alur berfikir saya sedikit berbeda dengan skripsi dan makalah pada umumnya.

Kenapa berbeda?
Kalau persis skripsi atau jurnal ilmiah, waktunya enggak akan cukup.

Sebagai solusi alternatif, saya sendiri harus membuat contoh “artikel” untuk mereka. Semoga berhasil! J


Saturday, February 2, 2019

Inovasi Tidak Selalu Harus Mahal ataupun Langsung Jadi Mahakarya


Mungkin semua orang sepakat bahwa inovasi itu penting. Tapi masih segelintir orang yang melakukannya karena berbagai alasan, antara lain:
1. Langsung terbayang inovasi itu harus mahal
2. Tidak berani memulai
3. Tak perduli, yang penting aku mencontoh pendahulu. Hihihi

Padahal memulai inovasi itu tak perlu harus langsung berupa mahakarya. Kecil-kecilan saja dulu, misal:

1. Asalnya ngajar hanya ceramah, coba diskusi
2. Asalnya soal UTS seperti di SMA, coba dalam bentuk artikel jurnal
3. Asalnya materi hanya disimpan di buku cetak, coba dalam bentuk file komputer
4. Asalnya materi hanya disimpan di file komputer, coba disimpan di blog
5. Dan banyak cara lain.

Hal-hal awal yang terfikir di benak saya “Yang penting saya harus mencoba yang baru atau beda dari yang lain.” Tentu saja dipertimbangkan terlebih dahulu sesuai keilmuan sendiri. Akan tetapi, tak suka terlalu lama menimbang-nimbang karena nantinya khawatir takut memulai. Do it now! hehe

Friday, February 1, 2019

Haruskan Patuh Pada Silabus, SAP, RPS?


Saat mendengar saran bahwa dosen harus mengajar sesuai sistematika materi pembelajaran yang tercantum di RPS, silabus atau apapun namanya, saya sedikit kaget karena sudah agak lama tidak mendengar saran seperti itu. Kan saya jarang sekali ikut diskusi atau seminar kependidikan. Hihi

Kemudian, saya ada niatan untuk mencoba mengajar tepat sesuai masing-masing pertemuan pada silabus karena selama ini cukup sering mengajar kurang sistematis.

Selama ini, saya berfikir bahwa silabus itu pijakan buat saya ngajar agar ada keseragaman kompetensi antara kampus satu dengan kampus lain, agar saya ada gambaran untuk mengajarkan materi-materi tertentu. Adapun saat proses perkuliahan, saya masih cenderung melihat kondisi di kelas dan kemampuan saya juga.

Gini maksudnya…
Jika di silabus tercantum:
Pertemuan 1: materinya A
Pertemuan 2: materinya B
Pertemuan 3: materinya C.

Maka kadang di pertemuan 2, saya ngajar materi C. Kenapa? Ini beberapa alasannya:
1.      Jika kampus belum memiliki fasilitas penunjang untuk materi B, maka saya lompat ke materi C.
2.      Jika mahasiswa saat belajar materi A menunjukkan perhatiannya ke materi C, maka saya juga suka lompat ke materi C agar terasa nyambung oleh mahasiswa.
3.      Jika saya sendiri masih kurang yakin pada kesiapan materi B, maka saya juga suka lompat ke materi C agar penyampaian materi B lebih optimal walaupun tertunda dari yang sudah dijadwalkan di silabus.
Bagi sayaaa
Yang penting materi di silabus tercapai. Lebih dari itu, apabila kondisi di lapangan diduga belum mampu menerima materi sesuai silabus hingga tamat (hehehe), maka saya pilih saja mana yang lebih penting untuk disampaikan terlebih dahulu dan mahasiswa diduga kuat mampu menerimanya. Daripada semua materi disampaikan, tapi keluar kelas mahasiswa hanya membawa kebingungan dan kantuk yang tak tertahankan. Hihi

Apakah cara saya di atas berhasil?
Belum berhasil sesuai harapan sih. hehehe
Kadang-kadang masih juga ada mahasiswa yang ngantuk sehingga saya dengan agak malu-malu menghampirinya. wkwkwk

Monday, January 28, 2019

Ngajar Multimedia dan Internet Ingin Beda Lagi Nih..hehe

Entah kenapa, selama bisa beda, saya ingin beda. Harapannya, dengan cara yang berbeda, mahasiswa bisa lebih faham atau minimal merasakan suasana yang berbeda antara belajar di bangku kuliah dan sekolah.

Duluuu...saya seringkali merasa bahwa belajar di bangku kuliah dan sekolah itu hampir sama. Memang ada bedanya tapi kurang signifikan. Saya ingin merasakan pembelajaran dengan sensasi yang berbeda. hehe

Sekarang, saya diamanahi mengajar mata kuliah Multimedia dan Internet untuk program studi Pendidikan Agama Islam. Saya baca-baca beberapa silabus. Isinya, dimulai dengan materi multimedia dan diakhiri dengan Internet. Akan tetapi, saya fikir akan lebih mantap bila dimulai dengan internet dan diakhiri dengan materi multimedia.

Modifikasi jadwal penyampaian materi seperti di atas tidak hanya terjadi saat ini tapi sudah beberapa kali saya lakukan, seperti pada mata kuliah Internet dan LAN.

Kenapa internet didahulukan? Agar media internet bisa digunakan minimal selama mahasiswa mengikuti kuliah saya sehingga mereka tidak melupakan materi internet begitu saja. hehe

Khusus untuk mata kuliah ini, mungkin saya cocoknya memberi nama "Internet dan Multimedia". hihihi

Silabus-silabus yang sudah ada juga tidak salah karena secara sistematis, kita biasanya belajar multimedia secara offline, kemudian internet sebagai media online. Tapi karena mata kuliah ini tidak ngoding (seperti yang dilakukan di jurusan komputer), maka saya tetap masih berpendapat lebih baik mahasiswa belajar internet dulu. Salah satu manfaatnya adalah agar mahasiswa bisa mengerjakan tugas-tugas dan mencari tutorial multimedia tambahan dengan menggunakan internet. Ini alasanku... Semoga mahasiswa tidak pusing ya...hehe

Sunday, January 27, 2019

Ngajar Gak Mau Metode Ceramah Melulu

Entah kenapa sejak sekolah hingga saat ini terasa metode ceramah sangat dominan dilakukan oleh guru/dosen, terutama yang teoritis.

Padahal dengan ceramah, banyak sekali materi kuliah yang saya gak ngerti sehingga harus berjuang keras baca sendiri. Hehe

Beberapa dosen meminta mahasiswa mengerjakan banyak tugas. Tapi tak sedikit saya merasa tugas dikerjakan hanya menggunakan referensi yang relevan secara tekstual, tapi saya sendiri belum betul-betul faham. Saya tidak mau mewariskan kerumitan yang tak jelas kepada mahasiswa. Heuheu

Pertanyaannya "Bagaimana agar mahasiswa faham dan tidak ngantuk?" Saya masih harus terus belajar. Sejujurnya saya masih merasa kesulitan memilih metode yang tepat karena kemampuan mahasiswa dalam satu kelas seringkali sangat warna-warni. Hihihi

Saturday, January 26, 2019

Mata Kuliah Pemeliharaan Sistem Informasi

Mata kuliah ini enaknya berbuah artikel jurnal. Kalau belum bagus, minimal format penulisannya menyerupai jurnal ilmiah.

Jadi, proses perkuliahannya mirip bimbingan skripsi. Artikel yang dibuat cukup 5 lembar saja.

Semoga cara ini menjadi alternatif metode pengajaran agar kuliah tidak selalu identik dosen yang hobi ceramah dan mahasiswa asik ngantuk berjamaah. Hehe