Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan FB Gratis | Sunda | Kontak | Gmail | Uang Adsense
Kuliah Sistem Informasi,
Jurnal Ilmiah Sistem Informasi
STMIK JABAR
LP3I Tasikmalaya
Jurnal STAI al Falah
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Tuesday, December 9, 2014

Sudah Lah, Jangan Mau Miskin Karena Kartu Sakti Jokowi Dooong!

Tiga kartu sakti Jokowi adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

Banyak orang yang bahagia menyambut ketiga kartu tersebut, banyak pula yang menghujat karena terkesan tidak tepat dan kurang sosialisasi.


Sayangnya banyak masyarakat yang menginginkan kartu tersebut, terutama KKS yang besarannya lumayan Rp 200.000 per bulan. Ini bukan uang kecil bagi orang miskin!

Karena banyak peminat KKS, orang yang miskin tidak kebagian karena sudah keduluan orang-orang yang lebih mampu. Kabar datang menyatakan bahwa orang yang mengenakan perhiasan, memiliki sepeda motor, dan masih mampu makan, mereka mendapatkan KKS.

Sedangkan orang yang tidak memiliki perhiasan, motor pun tidak punya, makan juga hanya mengandalkan buruh kasar atau bahkan karena sudah tua ada yang menunggu dikasih makan anaknya yang bekerja sebagai buruh juga. Eh, mereka tidak mendapatkan KKS???

Ketidak setujuan atas KKS boleh-boleh saja dilontarkan, tapi yang paling penting bagaimana ikut berkontribusi mengawasi jalannya pembagian KKS di lapangan agar lebih tepat sasaran.

Mungkin ini langkah kecil yang bisa kita lakukan:
1. Kalau kita masih mampu merokok, janganlah mau pakai KKS. Maluuuu….!
2. Kalau kita masih mampu makan dengan daging lebih dari sekali dalam seminggu, enggak usahlah pakai KKS.
3. Punya motor, punya HP, masih sempat jalan-jalan (wisata), masih bisa jajan-jajan, kenapa kita harus merebut KKS dari tangan si miskin yang hanya bisa makan nasi dan garam. Masih ada lho.. orang yang makan hanya mengandalkan nasi saja.

Langkah apa kalau kita kebagian KKS, padahal masih bisa makan kenyang dan enak walaupun masih sering makan kangkung dan bayam?

1. Kalau keburu ada kartunya, ambil saja kartunya, cairkan uangnya. Kemudian uang tersebut berikan ke tetangga yang lebih miskin dari kita.

Saya beberapa kali mendengar bahwa ada beberapa nenek miskin tidak mendapatkan KKS, padahal yang lebih mampu darinya dikasih KKS.

Ini mungkin terjadi karena ada  fenomena yang terjadi, ketua RT dan RW setempat mendaftarkan semua keluarga ke desa agar menerima KKS. Kemudian desa menyeleksi semaunya. Jadilah, yang mampu dapet KKS, yang miskin gigit jari…!

2. Kalau kita punya saudara yang mendapatkan KKS, padahal ia masih bisa makan enak?
Dengan baik-baik kita bicarakan kepada saudara kita agar memberikan uang KKS-nya ke orang yang lebih miskin dari dia.

Ini beberapa ciri orang yang mungkin lebih tepat diutamakan mendapatkan KKS:
1. Anaknya kelihatan kurang gizi, ada yang busung lapar kan? Anak seusia SD sudah kerja, pakaiannya lusuh.

2. Nenek-nenek / kakek-kakek yang tidak punya pekerjaan. Ia hanya makan di bawah tanggungan anaknya yang hanya memiliki pendapatan pas-pasan.

3. Keluarga yang memiliki banyak anak, tapi penghasilan orangtuanya pas-pasan. Namun kalau orangtuanya nganggur dan hanya suka ngadu ayam, sebaiknya KKS kita yang manage.

Ada yang mau nambahin ciri orang yang harus diprioritaskan mendapatkan KKS, silahkan berkomentar….

Kalau teman kita yang mampu ngiri melihat orang lain dapet KKS?

Bilang saja: “Masa kita ngiri sama orang miskin? Emangnya kita mau jadi lebih miskin dari mereka?”

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
Belajar Bahasa Inggris dan Arab di WA dan FB Gratis!

3 comments:

  1. semakin hari semakin banyak orang yang miskin ya mas. saya lihat di kota saya juga gitu mas, banyak yg masih miskin banget tapi ngga dapet kartu tersebut.

    ya ampun ada apa dengan negara ini

    ReplyDelete
  2. Betul, banyak orang kaya yang mentalnya miskin. Tak pantas dapat kartu tapi bahagia jika dapat jatah, bukan bersikap jujur dan mengembalikan kartu tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah mental warga negara kita, semoga bisa lebih baik lagi untuk menunjang kebijakan pemerintah :)

      Delete