2.1. Dilema Proyek: Manfaat atau Sekadar Proyek?
Dalam dunia Manajemen Proyek TI, fase pemilihan (Selection) adalah fase yang paling krusial. Namun, di Lantai Tanah, fase ini seringkali menjadi ajang "Pesanan Politik" atau sekadar menghabiskan sisa anggaran tahunan.
Jika seorang Arsitek salah memilih pondasi, bangunan akan rubuh. Begitu juga manajer proyek; jika salah memilih "takdir" proyek yang akan dikerjakan, ia hanya akan melahirkan Zombi Sistem baru yang justru membebani organisasi.
Ada dua jenis proyek yang sering kita temui:
Proyek Berjiwa (Mission-Driven): Proyek yang lahir karena ada masalah nyata yang harus diselesaikan di masyarakat atau organisasi.
Proyek Zombi (Budget-Driven): Proyek yang lahir hanya karena ada "kue" anggaran yang harus dicairkan. Isinya biasanya penuh dengan formalitas dan dokumen kosong (ABS).
2.2. Kriteria Seleksi: Nalar vs. Angka
Secara akademis, kita mengenal metode seleksi seperti NPV (Net Present Value), ROI (Return on Investment), atau Scoring Model. Namun, dalam nalar Manifesto Ahda, angka-angka tersebut hanyalah "bungkus".
Kriteria seleksi yang sesungguhnya adalah Kemanusiaan dan Keberlanjutan:
Apakah Proyek ini Memecahkan Dinding Bilik? Jika sistem yang dibangun justru menambah birokrasi dan membuat meja kerja makin penuh kertas, maka proyek itu harus ditolak secara Soméah.
Apakah Proyek ini Tahan Uji Jalur Cisewu? Jangan memilih proyek yang teknologinya terlalu "langit" tapi tidak bisa diakses oleh rakyat yang sinyalnya timbul-tenggelam. Pilih proyek yang tangguh, praktis, dan membumi.
2.3. Seni Berkata "Tidak" Secara Soméah
Seorang manajer proyek yang hebat bukan mereka yang menerima semua permintaan bos atau klien. Seorang Arsitek Agung harus berani menolak proyek yang dirasa akan merugikan masyarakat atau hanya membuang-buang energi tim.
Bagaimana caranya? Gunakan teknik Diplomasi Kopi:
Ajak stakeholder berdiskusi di luar formalitas kantor.
Gunakan bahasa yang renyah namun logis untuk menjelaskan risiko "Zombi Sistem" yang mungkin muncul.
Tawarkan alternatif solusi yang lebih efisien dan memanusiakan manusia.
2.4. Strategic Alignment: Menyelaraskan Nalar dengan Visi
Proyek TI harus selaras dengan strategi besar organisasi. Jika Katabah punya visi mencetak generasi berkarakter, maka proyek SI yang dibangun harus mencerminkan karakter tersebut—bukan sistem yang malah mengajarkan mahasiswa untuk curang atau malas berpikir karena semuanya serba otomatis tapi tak bernyawa.
Tugas Nalar Mahasiswa (Pertemuan 2):
Studi Kasus: Bayangkan kamu ditawari proyek membuat "Aplikasi Absensi Wajah" di sebuah desa terpencil yang sering mati listrik dan warganya tidak punya HP canggih. Anggarannya besar (Rp1 Miliar).
Pertanyaan: Apakah kamu akan menerima proyek tersebut?
Jika YA, bagaimana strategimu agar tidak jadi proyek mubazir?
Jika TIDAK, tuliskan kalimat penolakanmu yang paling Soméah kepada pemberi proyek tersebut.
Kumpulkan di pertemuan berikutnya. Ingat: Gunakan Nalar, Bukan Google Search!
**
Kembali ke Daftar Isi Manajemen Proyek TI