9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Tuesday, February 17, 2026

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 3

 

BAB 3: The Architecture of Authority
(Arsitektur Wibawa: Ketika Getaran Nalar Lebih Tajam dari Hafalan)

Secara administratif spiritual, saya mungkin "produk gagal". Saya mengagumi struktur bahasa Arab karena saya tahu itu kunci memahami Al-Qur'an secara presisi, tapi Allah seolah menutup pintu itu. Hafalan Juz Amma saja sering "log-out" dari memori. Saya beli buku-buku Islam kelas berat—yang tebalnya mengalahkan bata merah—tapi isinya tidak ada yang nyangkut di kepala. Saya hanya "suka" saja, seperti arsitek yang suka melihat gedung indah tapi lupa cara menggambar detailnya.

Tapi di situlah humor Allah bekerja. Allah tidak menjadikan saya seorang Mufassir (ahli tafsir), tapi Allah menjadikan saya seorang Executor.

1. Logika Ruqyah: Bukan Soal Teks, Tapi Soal Konteks

Musibah datang tanpa blueprint. Keluarga kena gangguan aneh, mahasiswa KKN kesurupan massal. Tabib dan ustadz datang dengan bacaan panjang lebar tapi "sinyalnya" tidak sampai ke sasaran. Di saat darurat itulah, insting arsitek saya muncul: Jika struktur bangunan miring, jangan cuma dibacakan doa, tapi dorong pondasinya!

Saya tidak maju dengan rentetan ayat yang panjang (karena saya lupa, wkwk). Saya maju dengan Nalar yang Kokoh. Ketika saya membentak jin, saya tidak sedang berteriak, saya sedang menegaskan Kedaulatan Manusia sebagai Khalifah fil Ardh.

2. Tamparan yang Mengedukasi

Ingat kejadian mahasiswa KKN itu? Saya tampar (dengan kendali arsitektur, tentu saja) sambil saya beri nasihat gagah ala Prof. Ahda. Kenapa sembuh? Karena Jin dan gangguan halus itu paling takut pada Manusia yang Sadar Penuh.

Mereka hanya berani pada orang yang ragu. Sementara saya? Saya maju dengan keyakinan Bab 2 tadi: "Aku ini tidak ada, Allah yang punya kuasa." Kalau kita sudah merasa nol, maka yang bicara lewat bentakan saya adalah "Kekuatan Satu" yang Mutlak. Itulah kenapa tabib yang hafal ribuan doa bisa kalah sama "Dosen Gila" yang cuma modal keberanian dan satu-dua ayat yang diingatnya.

Kesimpulan Nalar:

Allah tidak mewajibkan saya jadi "Kamus Berjalan". Allah hanya ingin saya jadi "Alat-Nya" yang punya nyali. Terkadang, satu bentakan dari hati yang tulus dan sadar akan kebesaran Allah, jauh lebih meruntuhkan "Arsitektur Sihir" daripada ribuan baris kalimat yang hanya di ujung lidah.

**

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 2

 

BAB 2: The Architecture of Zero
(Arsitektur Angka Nol: Menemukan Eksistensi dalam Ketiadaan)

Puncak kegagalan tesis S2 saya bukanlah akhir dari sebuah karir, melainkan awal dari sebuah "pencairan" ego. Di titik itu, saya menemukan sebuah kesimpulan yang bagi orang awam terdengar gila: "Allah adalah aku, aku adalah Allah."

Tunggu dulu. Jangan buru-buru menuduh saya sesat. Maknanya bukan saya yang minta disembah, justru sebaliknya: Aku ini sebenarnya tidak ada. La maujuda illallah. Tidak ada yang benar-benar ada, kecuali Dia.

1. Logika Material: Angka Nol

Dalam matematika arsitektur, angka nol adalah titik awal. Manusia itu sejatinya adalah angka nol. Kita tidak punya rasa apa-apa, tidak punya kuasa apa-apa. Jika Allah adalah Sang Pemilik angka "Satu" sampai tak terhingga, maka tanpa angka Satu di depannya, nol tetaplah nol. Kosong. Habā’an manthūrā.

Saat saya gagal total, nalar saya berbisik: "Kenapa risau? Yang gagal itu siapa? Kan kamu tidak ada." Sukses, gagal, sehat, sakit, manis, pahit—semuanya hanyalah "Fasad" (tampilan luar) yang menempel pada bangunan yang sebenarnya fana. Semuanya tiada. Jadi, buat apa merisaukan sesuatu yang tidak ada?

2. Teologi Kematian: Puncak Kepasrahan

Nalar saya sampai pada titik ekstrem: Jika gagal total, paling tidak bisa makan. Kalau tidak makan, ujungnya mati. Dan kenapa harus takut pada kematian? Dalam arsitektur takdir, kematian hanyalah proses "pindah kavling" dari dunia yang sempit ke dimensi yang luas.

Inilah puncak kemerdekaan nalar: "Biasa saja hidup mah."

Ketika kita merasa sudah "mati" sebelum mati (mutu qabla an tamutu), maka ancaman duniawi tidak lagi mempan. Birokrasi, kegagalan akademik, hingga kemiskinan hanyalah debu di atas meja kerja sang Arsitek.

Kesimpulan Nalar:

Saya tidak lagi memiliki "diri" untuk dipertahankan. Allah punya semuanya, termasuk memiliki "Aku" seutuhnya. Saat saya melepaskan klaim kepemilikan atas nasib saya sendiri, saat itulah saya benar-benar bebas. Saya menjadi instrumen-Nya.

Jika Allah ingin saya menjadi "Dosen Gila" di pinggir jalan, jadilah. Karena bukan saya yang berjalan, tapi Kehendak-Nya yang menggerakkan.

**

Kembali ke Daftar Isi