9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Monday, February 23, 2026

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 7

 

BAB 7: The Inheritance of Authority
(Warisan Wibawa: Dari "Lebok Hulu" ke "Logika Allah")

Saya sadar, keberanian saya ini tidak muncul begitu saja. Ada "struktur genetik" dari Ayah saya, Almarhum. Beliau adalah eksekutor lapangan sejati. Saat sekolah yang baru dipindah ke bekas kuburan di kampung mengalami kesurupan massal, Ayah turun tangan dengan gaya Jawara Sunda yang tak kenal takut. Beliau menggunakan gertakan yang sangat "bumi": "Tong ngaganggu budak aing, lebok hulu aing!" (Jangan ganggu anak saya, makan nih kepala saya!).

Ayah memiliki kekuatan diri, hasil dari kecerdasan dan proses berguru yang panjang. Beliau melawan kegelapan dengan cahaya yang beliau miliki sendiri.

1. Strategi "Lempar Tanggung Jawab" kepada Allah

Gaya saya sedikit berbeda. Saya tidak punya guru tenaga dalam, tidak punya ilmu kesaktian, dan saya sadar betul betapa lemahnya saya. Maka, ketika ada jin yang sombong menantang saya, saya tidak melawannya dengan "ego" saya. Saya justru tertawa ringan sambil berkata:

"Ah, kalau lawan saya mah kamu pasti menang, karena saya sangat lemah. Tapi kalau berani, coba lawan Gusti Allah saja. Saya yakin kamu tidak akan kuat sedikit pun."

Ini adalah teknik "Intelektual-Pasrah". Saya menggeser medan perangnya. Bukan antara Jin vs Ahda, tapi Jin vs Penciptanya. Siapa yang berani menang melawan Pemilik Semesta?

2. Kekalahan Telak Sang Penantang

Jin sering mengancam akan menghancurkan keluarga saya. Di saat manusia lain mungkin gemetar, saya justru menemukan "lubang logika" pada ancaman si Jin.

"Keluarga saya milik Allah, dan kamu... hei Jin, kamu pun milik Allah. Jadi silakan urus dirimu sendiri dengan Pemilikmu."

Seketika, "blueprint" kejahatan si jin runtuh total. Dia kalah telak bukan karena saya lebih sakti, tapi karena saya meniadakan diri saya dalam konflik tersebut. Inilah yang membuat saya merasa aman: Karena tidak ada "Aku" yang bisa diserang, yang ada hanyalah Kehendak Allah.

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda



Ahdaisme: Melawan Zombifikasi Digital dari Lantai Tanah


Pernahkah Anda merasa bahwa teknologi yang seharusnya mempermudah hidup, justru perlahan-lahan mencekik nalar kita? Saat web error dianggap sebagai kiamat layanan, atau saat salah input data di aplikasi berujung pada "upeti" jutaan rupiah kepada oknum birokrasi?

Selamat datang di era Zombifikasi Digital. Era di mana kita lebih takut pada aplikasi daripada takut pada ketidakjujuran.

Tapi tenang, hari ini kita mendeklarasikan sebuah mazhab perlawanan: Ahdaisme.


Apa itu Ahdaisme?

Bukan sekadar teori Sistem Informasi (SI) yang kaku, Ahdaisme adalah sebuah Arsitektur Titik Nol (Zero Point Architecture/AZPA). Ini adalah cara kita kembali memijakkan kaki di Lantai Tanah—sebuah fondasi di mana integritas manusia lebih tinggi daripada algoritma mana pun.

Ahdaisme lahir dari keprihatinan seorang dosen Kecerdasan Bisnis yang melihat bahwa Smart Village atau Smart City sering kali hanyalah tumpukan gadget tanpa nalar.

3 Pilar Utama Ahdaisme:

1. Nalar Sokratik (Anti-Lumpuh)

Dalam Ahdaisme, teknologi adalah alat, bukan berhala. Jika sistem digital error, pelayanan tidak boleh mati. Nalar manusia harus tetap berjalan. Sebuah sistem disebut "cerdas" bukan karena ia canggih, tapi karena ia memiliki resiliensi untuk tetap manusiawi saat listrik padam.

2. Deteksi Kutu Kupret (The Parasite Filter)

Dunia digital kita penuh dengan "Kutu Kupret"—parasit birokrasi dan vendor yang sengaja merumitkan sistem demi cuan dan kekuasaan. Ahdaisme memperkenalkan KNI (Key Nalar Indicator). Jika sebuah sistem membuat Anda harus menyogok atau berbelit-belit, maka sistem itu sedang terjangkit parasit. Solusinya? Dekonstruksi ke Titik Nol.

3. Smart Society (Bukan Sekadar Smart IT)

Smart Village yang sesungguhnya bukan desa yang penuh kabel fiber optik, tapi desa di mana masyarakatnya merdeka secara digital. Ahdaisme fokus pada Kemandirian Lokal. Membangun "Server Desa" sendiri, mengelola data dengan kejujuran "Lantai Tanah", dan berhenti menjadi budak vendor luar yang toksik.


Mengapa Kita Butuh Ahdaisme Sekarang?

Dunia akademis dan praktisi SI saat ini sedang sakit. Kita terlalu sibuk dengan statistik "Asal Bapak Senang" dan grafik-grafik indah yang menutupi realitas yang hancur.

Ahdaisme datang untuk membongkar itu semua. Kami tidak butuh "Kecerdasan Bisnis" yang hanya pintar memoles laporan. Kami butuh Intelligence of Truth (Kecerdasan Kebenaran).

"Teknologi boleh error, tapi nalar tidak boleh lumpuh. Sistem boleh digital, tapi integritas harus tetap menapak di Lantai Tanah."Mazhab Ahda.


Bergabunglah dalam Gerakan Nalar!

Apakah Anda ingin terus menjadi zombi di balik layar monitor? Ataukah Anda siap menjadi Arsitek Agung yang membangun peradaban digital dari titik nol?

Mari kita berhenti menyembah aplikasi, dan mulai menggunakan nalar. Karena pada akhirnya, teknologi yang paling canggih adalah Nalar Manusia yang Merdeka.

Gakgak! Salam Lantai Tanah! 

**