Bab 16: Metode Brute Force: Menghafal Algoritma di Atas Sajadah Logika
Di tengah tren mahasiswa yang memuja jalan pintas, Prof. Ahda sering merasa gemas saat mendengar keluhan, "Ngoding itu susah banget, Prof!" Beliau tidak langsung marah, tapi bertanya dengan nada tenang yang mematikan: "Seminggu berapa kali latihan?" Dan saat jawabannya adalah "Cuma kalau ada tugas itu pun dibantu AI," Prof. Ahda hanya tersenyum simpul. Senyum seorang veteran yang tahu bahwa ilmu tidak akan pernah sudi mampir pada jiwa yang malas.
"Kalian tahu," ujar beliau mengenang masa perjuangannya, "Saya dulu mengulang satu latihan koding setiap hari, berbulan-bulan. Saya tidak sekadar mengetik, saya menghafalkannya. Iya, menghafal! Padahal dosen bilang koding itu bukan untuk dihafal. Tapi bagi saya, menghafal adalah cara saya mencintai logika itu sampai ia menyatu dalam darah."
Bagi Prof. Ahda, menghafal bukan tanda bodoh, melainkan strategi bertahan hidup seorang pejuang.
"Dulu saya sadar, matematika saya lemah. Tapi saya punya harga diri. Saya tidak mau kakak saya harus keluar uang lagi untuk membiayai mata kuliah Aljabar yang saya ulang. Jadi, saya pakai metode Brute Force: Saya hafalkan rumusnya, saya hafalkan langkah-langkahnya, bahkan angka-angkanya saya telan bulat-bulat! Saya tidak mau buang-buang waktu ikut semester pendek hanya karena dosennya gagal membuat saya paham."
Beliau membandingkan dirinya dengan mahasiswa sekarang yang IQ-nya tinggi tapi mentalnya rapuh.
"Mahasiswa sekarang kalau bingung sedikit, langsung nyontek atau tanya AI tanpa tahu prosesnya. Mereka tidak tahu rasanya 'bertarung' dengan baris kode sampai hafal di luar kepala. Di Katabah Ecosystem, kita tidak butuh orang yang hanya mengandalkan AI. Kita butuh orang yang punya determinasi setinggi gunung. Orang yang lebih baik menghafal satu algoritma sampai mati daripada menyerah pada nasib."
Prof. Ahda menutup dengan sebuah pesan yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan:
"Menghafal kodingan itu bukan soal teknik belajar, itu soal Tanggung Jawab. Karena di setiap baris kode yang kamu pelajari, ada keringat orang tua atau kakakmu yang membiayaimu. Jangan permudah hidupmu dengan nyontek, sementara mereka susah payah bekerja untukmu."