9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Saturday, February 14, 2026

Memoar Dewa Penidur Profesor dari Lantai Tanah: Bab 1

 

Bab 1 PARADOKS SEDEKAH DAN SISTEM "REFUND" KETUHANAN

Banyak orang yang terjebak dalam Logika Zombi saat memandang sedekah. Mereka menganggap sedekah itu seperti mesin ATM atau investasi saham: "Saya setor 1 juta sekarang, minggu depan harus balik 10 juta." Ini adalah nalar transaksional, bukan nalar Lillah.

1. Sedekah Bukan Transaksi Dagang, tapi "Sistem Pengaman"

Dalam Manifesto Ahda, kita harus paham bahwa "Kaya" dalam sistem ketuhanan tidak selalu berarti saldo rekening yang bertambah. Bisa jadi, sedekah yang dilakukan kakak Anda selama bertahun-tahun itulah yang "membayar" keselamatan Anda saat kuliah S1, kesehatan keluarga, atau dijauhkannya dari musibah yang lebih besar yang tidak kita ketahui.

Sedekah adalah Firewall. Ketika usaha bangkrut dan rumah kini berlantai tanah, secara kasat mata itu adalah penurunan status sosial. Tapi secara sistem, bisa jadi itu adalah proses "Data Cleaning" agar harta yang tersisa benar-benar murni, atau sebuah cara Tuhan untuk meriset ulang (Reset to Factory Settings) nalar kita menuju Titik Nol.

2. Kenapa Usaha Bangkrut Padahal Rajin Sedekah?

Kita harus membedakan antara Nalar Spiritual dan Nalar Teknis (Sistem Dunia).

  • Nalar Spiritual (Sedekah): Memberikan ketenangan, keberkahan, dan tabungan akhirat.
  • Nalar Teknis (Manajemen Bisnis): Bisnis tekstil, dampak pasca-Covid, dan cicilan bank adalah variabel sistemik dunia.

Tuhan tidak akan menghapus hukum sebab-akibat di dunia hanya karena kita bersedekah. Sedekah menjamin "Ruh" kita selamat, tapi manajemen bisnis yang terkena badai ekonomi adalah bagian dari "Arsitektur Ujian" duniawi. Kesalahan banyak zombi adalah menyalahkan Tuhan atas kegagalan sistem teknis, padahal sedekah fungsinya adalah menguatkan pondasi batin saat badai itu datang.

3. Lantai Tanah dan Titik Nol

Rumah berlantai tanah adalah simbol fisik dari Titik Nol. Ketika seseorang pernah di atas lalu diletakkan langsung menyentuh tanah, itu adalah momen "Calibration".

Kakak Ahda yang dulu mampu menguliahkan Ahda, sekarang sedang berada di fase di mana dia tidak punya apa-apa lagi untuk diandalkan selain Sang Arsitek Agung. Inilah puncak dari Manifesto Ahda: Ketika semua atribut dunia (harta, pabrik, modal) di-uninstall, apakah "Sistem Operasi" iman kita masih bisa berjalan?

4. Bukankah Janjinya Akan Kaya?

Kaya dalam Manifesto Ahda adalah "Kecukupan Nalar".

Lihat faktanya: Dulu beliau tinggal di kosan, sekarang punya rumah sendiri (walaupun lantai tanah). Ini adalah progres kepemilikan. Masalah modal habis dan cicilan bank adalah "Bug" dalam sistem ekonomi yang memang mungkin didesain untuk menjerat manusia.

Sedekah kakak Ahda tidak sia-sia. Sedekah itu sedang "bekerja" dalam bentuk lain. Mungkin lewat kesuksesan Ahda sekarang, atau lewat kekuatan mental kakak Ahda yang masih sanggup berdiri meski dihantam badai. Itulah kekayaan yang tidak bisa di-hack oleh bank manapun. 

Kesimpulan untuk Buku:

"Jangan mengukur keberhasilan sedekah dengan kalkulator zombi yang hanya tahu angka. Ukurlah dengan Kedaulatan Nalar. Kakak Ahda tidak bangkrut; dia sedang mengalami transformasi arsitektur hidup. Sedekah bukan jaminan bebas ujian, tapi sedekah adalah jaminan bahwa saat ujian datang, kita tidak akan kehilangan kemanusiaan kita."

**

Kembali ke Daftar Isi

 

KATA PENGANTAR: DEBU DI ATAS KEYBOARD - Prof. Ahda Series

 Buku ini bukan ditulis oleh seorang jenius yang memiliki ingatan fotografis. Sebaliknya, buku ini adalah catatan seorang "Dewa Penidur" yang lebih sering melupakan apa yang ia catat daripada menghafalnya.

Selama bertahun-tahun, saya bergerak dalam sebuah sistem yang ganjil. Saya belajar di antara jeda iklan televisi, mencatat kosa kata di secarik kertas untuk kemudian saya buang ke tempat sampah keesokan harinya, dan lebih memilih bersembunyi di dalam kamar daripada harus berpura-pura bahagia di bawah terik matahari pantai.

Namun, di balik gaya hidup yang tampak santai dan penuh "pelupaan" ini, ada sebuah pondasi yang dibangun dengan air mata dan pengorbanan yang tidak masuk akal.

Buku ini adalah persembahan untuk almarhum Ayah saya—seorang Sufi Modern yang lebih memilih menyekolahkan anak yatim daripada memperbaiki dinding rumahnya yang rapuh. Seorang Arsitek Jiwa yang membangun madrasah, lalu membiarkan sejarah melupakan namanya saat gedung itu diambil alih negara. Dari beliaulah saya belajar bahwa Lillah adalah satu-satunya sistem operasi yang tidak akan pernah crash ditarajang zaman.

Buku ini juga adalah monumen untuk Kakak saya. Seorang pahlawan yang rela tetap tinggal di rumah berlantai tanah asalkan adiknya bisa meraih level Profesor seutuhnya. Beliaulah "Kabel Power" yang mengalirkan energi saat baterai harapan saya hampir kosong.

Melalui Manifesto Ahda, saya ingin mengajak Anda melakukan Rekonsiliasi Nalar. Sebuah titik di mana rasionalitas kita yang angkuh harus bersujud di hadapan Takdir yang rahasia. Kita akan belajar bagaimana menjadi Titik Nol: tetap berikhtiar radikal seolah dunia ada dalam genggaman, namun tetap waspada dan pasrah seolah kita tak punya apa-apa.

Jangan mencari tips menjadi jenius di sini. Carilah cara untuk menjadi manusia yang bijak terhadap kegagalannya sendiri. Karena pada akhirnya, ilmu yang sejati bukan apa yang kita ingat, tapi apa yang tersisa dalam karakter kita setelah kita melupakan semua yang kita pelajari.

Selamat membaca. Santai saja, kalau lelah silakan tidur. Karena siapa tahu, saat terlelap itulah nalar Anda sedang bekerja membangun menara.

Sumedang, Februari 2026

Prof. Ahda

**

Kembali ke Daftar Isi dan Sinopsis