9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Sunday, March 1, 2026

Menertawakan Kegagalan Bab 6 Algoritma "Someah" - Prof. Ahda Series

 Bab 6: Algoritma "Someah" (Lebih dari Sekadar Ganteng)

Label "ganteng" seringkali mampir dari sesama rekan guru laki-laki, lengkap dengan "notifikasi" untuk segera menikah dengan siswi. Tapi sebagai seorang praktisi nalar, saya tahu itu bukan soal struktur wajah. Itu adalah efek dari Algoritma Someah.

1. Senyum sebagai Antarmuka (Interface)

Di laboratorium komputer yang dingin dan kaku, saya hadir dengan senyuman yang tidak pernah timeout. Senyum adalah interface terbaik untuk meruntuhkan dinding ketakutan siswa terhadap teknologi. Mereka tidak cinta pada saya secara personal, tapi mereka jatuh cinta pada cara saya memanusiakan mereka lewat ilmu.

2. Filosofi "Someah Hade Ka Semah"

Saya membawa prinsip leluhur ke dalam dunia digital. Menjadi ramah bukan berarti lemah; itu adalah kekuatan untuk menarik energi positif. Di saat ekonomi saya sedang di "Titik Rendah", senyum adalah satu-satunya aset yang tidak butuh modal S1 tapi dampaknya luar biasa besar bagi orang lain.


Poin Aha:

"Banyak orang sibuk membangun 'casing' yang mewah agar terlihat hebat, tapi lupa memperbaiki 'antarmuka' kemanusiaannya. Saya membuktikan bahwa dengan modal Someah, seorang tukang servis komputer tanpa gelar S1 pun bisa menciptakan 'getaran' yang lebih hebat dari sebuah prosesor tercanggih. Jangan menunggu sukses untuk tersenyum, tapi tersenyumlah agar proses menuju suksesmu terasa ringan."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda


Saturday, February 28, 2026

Menertawakan Kegagalan Bab 5 Laboratorium Kehidupan - Prof. Ahda Series

 Bab 5: Laboratorium Kehidupan & Konser di Ruang Kelas

Masa penantian 3 tahun untuk S1 ternyata tidak saya lewatkan dengan melamun. Saya mengambil peran sebagai "Teknisi sekaligus Orator".

1. Menjadi "Dokter" Komputer

Sambil menunggu modal terkumpul, saya nyambi jadi tukang servis komputer. Di sinilah nalar MI saya benar-benar diuji secara praktis. Saya belajar bahwa memperbaiki Hardware itu butuh kesabaran, persis seperti memperbaiki nasib saya yang saat itu sedang "rusak" secara ekonomi.