9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Wednesday, February 18, 2026

KESAKTIAN ATAU FITNAH: Antara Karomah dan Salah Paham



KATA PENGANTAR: Antara Karomah dan Salah Paham

Selamat datang di sisi lain dari nalar saya. Jika di buku utama saya bercerita tentang perjuangan akademis dan karier yang "ngajedug", di buku kecil ini saya ingin mengajak Anda menelusuri lorong-lorong aneh dalam hidup saya yang seringkali dianggap "sakti" oleh orang lain.

Sejujurnya, saya sendiri sering bingung. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa komputer yang hobi tidur dan pakai kaos berkerah bisa dituduh meruqyah preman hanya karena bersalaman? Atau bagaimana bisa tangan yang gemetaran karena "bug" fisik sejak SMA malah dianggap sebagai getaran energi suci oleh rekan mahasiswa?

Lewat catatan-catatan singkat ini, saya ingin mengklarifikasi bahwa:

  1. Saya bukan dukun, bukan tabib, apalagi pemain debus.
  2. Segala "kejadian luar biasa" yang menimpa saya—mulai dari golok yang bergerak sendiri hingga jin yang malu-malu menatap mata saya—semuanya terjadi tanpa instalasi mantra apa pun.
  3. Sebagian besar adalah "fitnah kebaikan" yang lahir dari nalar orang lain yang terlalu kagum, padahal saya hanya sedang menjadi diri sendiri yang someah.

Mungkin benar kata Ayah saya, bahwa penjagaan terbaik adalah doa, dan senjata terkuat adalah ketulusan. Kalaupun ada sedikit "tenaga dalam", mungkin itu sisa-sisa tenaga hasil mengangkut air berjeriken-jeriken di masa kecil dulu.

Bacalah buku kecil ini sebagai intermezzo. Ambil hikmahnya, tertawakan kejadiannya, dan percayalah bahwa setiap manusia punya "keajaiban"-nya masing-masing, asalkan hatinya tetap Lillah.

Selamat menyelami sisi "mistis" yang jenaka ini.


Sumedang, Februari 2026

Profesor Ahda

 **

SINOPSIS: KESAKTIAN ATAU FITNAH

"Hati-hati bersalaman dengan dia, bisa-bisa Anda langsung insyaf!"

Itu bukan kutipan dari film horor atau laga, melainkan sekelumit "fitnah" yang menyertai perjalanan hidup Ahda. Seorang pria yang lebih memilih tidur daripada bertarung, namun entah kenapa, alam semesta seringkali memberikan "panggung" supranatural kepadanya.

Dari insiden preman yang mendadak baik setelah bersalaman, hingga golok pusaka yang melakukan auto-sync dengan tangannya, Ahda selalu berada di pusaran kejadian yang gagal dijelaskan oleh logika informatika. Apakah ia benar-benar punya "isian" tenaga dalam hasil tirakat, ataukah itu semua hanyalah efek samping dari kebiasaan mengangkut air di masa kecil?

Buku kecil ini berisi 9 fragmen kisah unik:

  • Tentang tangan yang gemetar namun dianggap berkarisma.
  • Tentang tatapan mata yang bikin jin takut "jatuh cinta".
  • Dan tentang kegagalan ilmu menghilang yang justru membawanya menjadi seorang Profesor.

Sebuah catatan jenaka yang membuktikan bahwa: Kesaktian tertinggi bukanlah bisa terbang atau menghilang, melainkan tetap tersenyum dan "someah" di saat dunia menganggapmu luar biasa.

 **

Tuesday, February 17, 2026

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 3

 

BAB 3: The Architecture of Authority
(Arsitektur Wibawa: Ketika Getaran Nalar Lebih Tajam dari Hafalan)

Secara administratif spiritual, saya mungkin "produk gagal". Saya mengagumi struktur bahasa Arab karena saya tahu itu kunci memahami Al-Qur'an secara presisi, tapi Allah seolah menutup pintu itu. Hafalan Juz Amma saja sering "log-out" dari memori. Saya beli buku-buku Islam kelas berat—yang tebalnya mengalahkan bata merah—tapi isinya tidak ada yang nyangkut di kepala. Saya hanya "suka" saja, seperti arsitek yang suka melihat gedung indah tapi lupa cara menggambar detailnya.

Tapi di situlah humor Allah bekerja. Allah tidak menjadikan saya seorang Mufassir (ahli tafsir), tapi Allah menjadikan saya seorang Executor.

1. Logika Ruqyah: Bukan Soal Teks, Tapi Soal Konteks

Musibah datang tanpa blueprint. Keluarga kena gangguan aneh, mahasiswa KKN kesurupan massal. Tabib dan ustadz datang dengan bacaan panjang lebar tapi "sinyalnya" tidak sampai ke sasaran. Di saat darurat itulah, insting arsitek saya muncul: Jika struktur bangunan miring, jangan cuma dibacakan doa, tapi dorong pondasinya!

Saya tidak maju dengan rentetan ayat yang panjang (karena saya lupa, wkwk). Saya maju dengan Nalar yang Kokoh. Ketika saya membentak jin, saya tidak sedang berteriak, saya sedang menegaskan Kedaulatan Manusia sebagai Khalifah fil Ardh.

2. Tamparan yang Mengedukasi

Ingat kejadian mahasiswa KKN itu? Saya tampar (dengan kendali arsitektur, tentu saja) sambil saya beri nasihat gagah ala Prof. Ahda. Kenapa sembuh? Karena Jin dan gangguan halus itu paling takut pada Manusia yang Sadar Penuh.

Mereka hanya berani pada orang yang ragu. Sementara saya? Saya maju dengan keyakinan Bab 2 tadi: "Aku ini tidak ada, Allah yang punya kuasa." Kalau kita sudah merasa nol, maka yang bicara lewat bentakan saya adalah "Kekuatan Satu" yang Mutlak. Itulah kenapa tabib yang hafal ribuan doa bisa kalah sama "Dosen Gila" yang cuma modal keberanian dan satu-dua ayat yang diingatnya.

Kesimpulan Nalar:

Allah tidak mewajibkan saya jadi "Kamus Berjalan". Allah hanya ingin saya jadi "Alat-Nya" yang punya nyali. Terkadang, satu bentakan dari hati yang tulus dan sadar akan kebesaran Allah, jauh lebih meruntuhkan "Arsitektur Sihir" daripada ribuan baris kalimat yang hanya di ujung lidah.

**