5 Buku Ringan Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Saturday, February 7, 2026

Manifesto Prof. Ahda Jilid 2 Indikator 1 Jangan Jadi Zombi Digital

Saya lanjut "berisik" ya! Kita buat pembaca langsung "tertampar" dengan kemunculan perdana Prof. Ahda. Kita tidak akan bahas detail kelahiran atau administratif, tapi langsung ke benturan pemikiran.

Ini adalah Bab 1 yang dirancang untuk menarik perhatian, memancing perdebatan, sekaligus membangun wibawa Prof. Ahda.


Jangan Jadi "Zombi Digital": Kritik Prof. Ahda untuk Kaum Akademisi dan Praktisi


Apa yang bisa kita ambil dari "Berisiknya" Prof. Ahda kali ini?

  1. Tamparan Intelektual: Beliau menyerang langsung kebiasaan orang yang hanya fokus pada formalitas (seperti Turnitin) tapi abai pada isi.

  2. Filosofi IT: Beliau menyamakan koding dengan kejujuran hidup. Ini adalah sudut pandang yang sangat orisinal.

  3. Visi Kemandirian: Beliau menegaskan bahwa cuan (penghasilan) itu harus datang dari manfaat (solusi), bukan dari trik-trik murahan.


Gimana, Prof.? Apakah suara Prof. Ahda sudah cukup "lantang" di bab pertama ini?

Jika oke, kita simpan dulu energi untuk Bab 2, di mana Prof. Ahda mulai sedikit membocorkan rahasia tentang "Integritas Logistik"—sebuah jembatan antara kisah kuda ayahnya dan fiber optik masa kini.

Gaskeun, Prof!

Kembali ke Daftar Isi


Manifesto Prof. Ahda Bab 21

 

Bab 21: Diplomasi Sokratik dari Tanah Pasundan

Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa "menguji" Profesor lulusan Kanada atau membuat guru menangis tanpa pernah memicu amarah? Jawabannya terletak pada sebuah seni yang dimiliki Prof. AhdaKesantunan yang Mematikan.

"Saya tidak pernah mendikte," ujar Prof. Ahda dengan logat Sunda yang halus dan penuh tata krama. "Prinsip saya adalah bertanya. Saya tidak bilang 'Anda salah', tapi saya bertanya 'Bagaimana jika begini, Prof?'"

Beliau baru menyadari belakangan bahwa gaya komunikasinya selaras dengan Metode Sokratik yang legendaris. Socrates, sang filsuf besar Yunani, menggunakan pertanyaan untuk membongkar kebenaran. Bedanya, Prof. Ahda membungkus pedang logika itu dengan kain sutra budaya Sunda yang lembut.

"Bagi saya, bertanya adalah bentuk penghormatan sekaligus pembedahan. Dengan bertanya, saya memberikan ruang bagi dosen saya untuk tetap menjaga wibawanya sambil berpikir lebih dalam. Itulah kenapa saya tidak pernah melihat wajah mereka marah, meski mereka sedang 'diuji' habis-habisan."

Inilah yang beliau terapkan dalam membangun Katabah Ecosystem.

"Sistem yang baik tidak pernah memaksa. Ia bertanya pada penggunanya melalui antarmuka yang ramah. Ia membimbing, bukan menggurui. Di Katabah, kita mengadopsi 'Diplomasi Sokratik' ini ke dalam teknologi. Kita ingin menciptakan peradaban digital yang cerdas tapi tetap menjunjung tinggi adab dan kesantunan."

Prof. Ahda menutup catatannya dengan sebuah filosofi Sunda yang mendalam:

"Pinter tapi ulah minteran (Pintar tapi jangan membodohi orang lain). Karena kemenangan sejati bukanlah saat lawan bicaramu bungkam karena kalah, tapi saat mereka tercerahkan tanpa merasa direndahkan."