9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Monday, March 2, 2026

Kesaktian atau Fitnah Bab 2 Misteri Tangan Bergetar - Prof. Ahda Series

 Bab 2: Ketua Dakwah Berkaos dan Misteri Tangan Bergetar

Menjadi Ketua Dakwah Kampus bagi saya bukan berarti harus mengubah penampilan menjadi super formal. Saya tetaplah saya: mahasiswa komputer yang lebih nyaman dengan kaos berkerah. Namun, di balik gaya santai itu, ada perjuangan fisik yang orang lain salah artikan sebagai "power", kata Prof. Ahda.

1. Dakwah Gaya Kasual

Di depan ratusan mahasiswa baru, saya berdiri memberikan orasi dakwah. Tanpa jubah, tanpa atribut mewah, hanya dengan kaos dan nalar yang menyala. Penampilan saya mungkin terlihat santai, tapi nalar saya sedang bekerja keras menyinkronkan pesan-pesan spiritual ke dalam bahasa anak muda.

2. Tragedi Tangan Gemetar (Bukan Demam Panggung)

Sejak SMA, saya punya "bug" fisik yang aneh: tangan saya sering gemetaran secara tiba-tiba. Ini bukan karena grogi atau demam panggung, tapi semacam glitch saraf yang muncul tanpa diundang. Saat ceramah itu, tangan saya gemetar hebat. Saya berjuang mengendalikan mikrofon agar tidak jatuh.

3. "Lucu" di Mata Mahasiswa Non-Islam

Selesai ceramah, saya dihampiri seorang mahasiswa non-Islam. Dia tersenyum lebar dan bilang, "Bang, lucu banget ya ceramahnya!"

Dalam hati saya: "Lucu gimana? Saya ini lagi berjuang supaya tangan nggak gemetar kayak lagi gempa bumi!"

Tapi itulah Fitnah Karisma:

  • Mungkin orang melihat gemetaran itu sebagai antusiasme atau getaran energi spiritual yang meluap-luap.
  • Orang melihat gaya berkaos saya sebagai bentuk keterbukaan (inklusif).
  • Padahal, saya hanya sedang mencoba tetap "running" di tengah gangguan perangkat keras (hardware failure).


Poin Aha:

"Kadang-kadang, perjuangan terberat kita justru terlihat seperti pesona di mata orang lain. Saya berjuang menahan tangan yang gemetar, orang lain melihatnya sebagai semangat yang menggebu. Saya memakai kaos karena kenyamanan, orang lain melihatnya sebagai dakwah yang bersahabat. Hidup ini memang tentang bagaimana kita menyikapi 'error' dalam diri menjadi sebuah keunikan yang disukai orang."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda


Kesaktian atau Fitnah Bab 1 Salaman Mistik - Prof. Ahda Series

 Bab 1: Kesaktian atau Fitnah? (Edisi Salaman Mistik)

Dalam hidup ini, kadang-kadang niat baik kita disalahartikan menjadi sesuatu yang berbau "magis". Salah satunya adalah ketika saya dituduh memiliki kemampuan meruqyah orang hanya lewat bersalaman, kata Prof. Ahda.

Kes Preman Menjadi Baik:

Suatu hari, saya bersalaman dengan seorang preman. Entah apa yang terjadi pada sistem dalam dirinya, tiba-tiba preman itu berubah menjadi orang yang sangat baik. Orang sekeliling yang melihat perubahan drastis itu langsung membuat kesimpulan sendiri: "Wah, Ahda tadi pasti meruqyah preman itu!"

Padahal, secara teknis:

  1. Saya tidak baca doa khusus untuk "mengusir jin".
  2. Saya tidak ada niat mau mengubahnya saat itu.
  3. Saya cuma bersalaman dengan tulus sebagaimana saya melayani siapa pun.

Inilah yang saya panggil sebagai "Fitnah Kebaikan". Kerana dunia sudah terlalu biasa dengan kekerasan, maka sedikit sentuhan kasih sayang dan ketulusan (someah) dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa atau "sakti".

Poin Aha:

"Jangan heran jika kebaikanmu dianggap aneh oleh dunia yang sedang sakit. Kadang-kadang, 'ruqyah' terbaik bukanlah bacaan mantra yang panjang, tapi sentuhan kemanusiaan yang tulus. Saya tidak sakti, saya cuma 'someah'—tapi ternyata, 'someah' itu sendiri adalah senjata yang paling ampuh untuk menjinakkan hati yang keras."

Itu hanyalah kekuatan dari sikap someah dan ketulusan bersalaman. "Kadang kebaikan yang tulus dianggap sebagai ilmu gaib, padahal itu hanya 'vibe' positif yang menular."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda