5 Buku Ringan Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Friday, February 6, 2026

Manifesto Prof. Ahda Bab 16-20


Bab 16: Metode Brute Force: Menghafal Algoritma di Atas Sajadah Logika

Di tengah tren mahasiswa yang memuja jalan pintas, Prof. Ahda sering merasa gemas saat mendengar keluhan, "Ngoding itu susah banget, Prof!" Beliau tidak langsung marah, tapi bertanya dengan nada tenang yang mematikan: "Seminggu berapa kali latihan?" Dan saat jawabannya adalah "Cuma kalau ada tugas itu pun dibantu AI," Prof. Ahda hanya tersenyum simpul. Senyum seorang veteran yang tahu bahwa ilmu tidak akan pernah sudi mampir pada jiwa yang malas.

"Kalian tahu," ujar beliau mengenang masa perjuangannya, "Saya dulu mengulang satu latihan koding setiap hari, berbulan-bulan. Saya tidak sekadar mengetik, saya menghafalkannya. Iya, menghafal! Padahal dosen bilang koding itu bukan untuk dihafal. Tapi bagi saya, menghafal adalah cara saya mencintai logika itu sampai ia menyatu dalam darah."

Bagi Prof. Ahda, menghafal bukan tanda bodoh, melainkan strategi bertahan hidup seorang pejuang.

"Dulu saya sadar, matematika saya lemah. Tapi saya punya harga diri. Saya tidak mau kakak saya harus keluar uang lagi untuk membiayai mata kuliah Aljabar yang saya ulang. Jadi, saya pakai metode Brute Force: Saya hafalkan rumusnya, saya hafalkan langkah-langkahnya, bahkan angka-angkanya saya telan bulat-bulat! Saya tidak mau buang-buang waktu ikut semester pendek hanya karena dosennya gagal membuat saya paham."

Beliau membandingkan dirinya dengan mahasiswa sekarang yang IQ-nya tinggi tapi mentalnya rapuh.

"Mahasiswa sekarang kalau bingung sedikit, langsung nyontek atau tanya AI tanpa tahu prosesnya. Mereka tidak tahu rasanya 'bertarung' dengan baris kode sampai hafal di luar kepala. Di Katabah Ecosystem, kita tidak butuh orang yang hanya mengandalkan AI. Kita butuh orang yang punya determinasi setinggi gunung. Orang yang lebih baik menghafal satu algoritma sampai mati daripada menyerah pada nasib."

Prof. Ahda menutup dengan sebuah pesan yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan:

"Menghafal kodingan itu bukan soal teknik belajar, itu soal Tanggung Jawab. Karena di setiap baris kode yang kamu pelajari, ada keringat orang tua atau kakakmu yang membiayaimu. Jangan permudah hidupmu dengan nyontek, sementara mereka susah payah bekerja untukmu."

***

Manifesto Prof. Ahda Bab 11-15

Bab 11: Bunuh Diri Massal: Logika "Nitip Hidup" yang Terlupakan

Di mata Prof. Ahda, sebuah institusi bukan sekadar gedung beton, melainkan sebuah kapal besar tempat ribuan orang "menitipkan hidup". Namun, beliau melihat sebuah ironi yang mengerikan: orang-orang di dalam kapal itu sibuk melubangi lantainya sendiri sambil tetap menuntut gaji.

"Bah," Prof. Ahda menggeser layar tabletnya, memperlihatkan data yang menyedihkan. "Lihat ini. Mengisi form saran topik skripsi saja tidak ada yang bergerak. Mengajukan mata kuliah? Tidak peduli. Bahkan mengisi pokok bahasan materi kuliah—yang hanya butuh waktu beberapa menit—yang mengisi di bawah 10%. Mereka ini mau mengejar apa?"

Beliau menyebut fenomena ini sebagai "Apatisme Kolektif".

"Para dosen dan staf sering lupa bahwa mereka sedang menumpang di kapal yang sama. Kalau prodi ini bangkrut karena kualitasnya merosot, mereka juga yang akan kehilangan pekerjaan. Mereka akan jadi pengangguran. Anehnya, mereka merasa aman-aman saja saat mengabaikan tanggung jawab kecil yang sebenarnya adalah urat nadi kehidupan mereka sendiri."

Prof. Ahda menawarkan solusi yang provokatif: Patungan Intelektual.

"Daripada sibuk mengeluh soal fasilitas yang kurang, kenapa para dosen tidak patungan ilmu dan sedikit modal untuk menyelamatkan rumah tempat mereka mencari nafkah? Jadikan staf itu seperti robot fungsional saja—kalau mereka malas, sistem yang harus mengambil alih. Tapi dosen? Dosen harus punya 'Sense of Crisis'."

Beliau menekankan bahwa Katabah Ecosystem dirancang untuk memutus rantai kemalasan ini.

"Di Katabah, sistem tidak akan membiarkan progres berhenti hanya karena satu orang malas mengisi form. Kita bangun sistem yang transparan, di mana kontribusi setiap orang terlihat. Saya ingin menyadarkan mereka: Kita ini nitip hidup di sini. Kalau kita tidak peduli pada tempat kita bekerja, sebenarnya kita sedang merancang kehancuran kita sendiri."

Prof. Ahda menutup dengan satu kalimat tajam untuk para sejawatnya:

"Jangan hanya pintar mengejar tunjangan, tapi pintarlah menjaga 'rumah' agar tetap tegak. Karena saat rumah itu roboh, gelar profesor atau jabatan stafmu tidak akan bisa dipakai untuk membayar cicilan di masa depan."

***