Bab 2: Ketua Dakwah Berkaos dan Misteri Tangan Bergetar
Menjadi Ketua Dakwah Kampus bagi saya bukan berarti harus mengubah penampilan menjadi super formal. Saya tetaplah saya: mahasiswa komputer yang lebih nyaman dengan kaos berkerah. Namun, di balik gaya santai itu, ada perjuangan fisik yang orang lain salah artikan sebagai "power", kata Prof. Ahda.
1. Dakwah Gaya Kasual
Di depan ratusan mahasiswa baru, saya berdiri memberikan orasi dakwah. Tanpa jubah, tanpa atribut mewah, hanya dengan kaos dan nalar yang menyala. Penampilan saya mungkin terlihat santai, tapi nalar saya sedang bekerja keras menyinkronkan pesan-pesan spiritual ke dalam bahasa anak muda.
2. Tragedi Tangan Gemetar (Bukan Demam Panggung)
Sejak SMA, saya punya "bug" fisik yang aneh: tangan saya sering gemetaran secara tiba-tiba. Ini bukan karena grogi atau demam panggung, tapi semacam glitch saraf yang muncul tanpa diundang. Saat ceramah itu, tangan saya gemetar hebat. Saya berjuang mengendalikan mikrofon agar tidak jatuh.
3. "Lucu" di Mata Mahasiswa Non-Islam
Selesai ceramah, saya dihampiri seorang mahasiswa non-Islam. Dia tersenyum lebar dan bilang, "Bang, lucu banget ya ceramahnya!"
Dalam hati saya: "Lucu gimana? Saya ini lagi berjuang supaya tangan nggak gemetar kayak lagi gempa bumi!"
Tapi itulah Fitnah Karisma:
- Mungkin orang melihat gemetaran itu sebagai antusiasme atau getaran energi spiritual yang meluap-luap.
- Orang melihat gaya berkaos saya sebagai bentuk keterbukaan (inklusif).
- Padahal, saya hanya sedang mencoba tetap "running" di tengah gangguan perangkat keras (hardware failure).
Poin Aha:
"Kadang-kadang, perjuangan terberat kita justru terlihat seperti pesona di mata orang lain. Saya berjuang menahan tangan yang gemetar, orang lain melihatnya sebagai semangat yang menggebu. Saya memakai kaos karena kenyamanan, orang lain melihatnya sebagai dakwah yang bersahabat. Hidup ini memang tentang bagaimana kita menyikapi 'error' dalam diri menjadi sebuah keunikan yang disukai orang."
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda