Bab 3: Loop 3 Tahun dan Obsesi "MI"
Ternyata, "Delay" (penundaan) dalam hidup saya
bukan dimulai saat S2, melainkan jauh sebelumnya. Hidup saya adalah rangkaian "Antrean
Panjang" yang melelahkan namun penuh prinsip.
1. Komputer: Cinta yang Dipaksakan?
Awalnya saya ingin jadi diplomat (HI) atau penguasa (Ilmu
Pemerintahan). Tapi sistem menolak saya. Akhirnya, dengan modal "tiga kali
kursus" di rental komputer Kakak, saya memberanikan diri masuk D1
Manajemen Informatika (MI). Jujur saja, ada rasa ngeri pada matematika, tapi
kaki sudah melangkah.
2. Kesetiaan pada Jalur "Manajemen Informatika"
Anehnya, setelah D1, saya tidak "balik kanan" ke
politik. Saya justru makin dalam masuk ke labirin MI dengan lanjut ke D3. Di
sinilah prinsip saya diuji. Setelah lulus D3, kampus menawarkan penyaluran
kerja, tapi saya menolaknya. Kenapa? Karena saya hanya ingin S1 Komputer.
Titik.
3. Guru Honorer: Memelihara Idealisme dalam Kemiskinan
Demi mengejar S1 yang mahal, saya memilih jadi guru honorer.
Secara ekonomi, ini adalah keputusan yang "Error". Pendapatan
guru honorer mana mungkin cukup untuk biaya kuliah S1 Komputer yang selangit?
Ada banyak tawaran jurusan lain: murah, cepat, mudah. Tapi
saya bilang: "No." Saya tidak mau "ganti mesin"
hanya karena biaya. Saya rela Idle (diam/menunggu) selama 3 tahun demi
mengumpulkan modal. Usia dewasa saya seolah "tertunda" dibanding
teman-teman seangkatan yang sudah mulai running karirnya.
Analisis Nalar Ahda:
"Banyak orang gagal karena mereka terlalu cepat
menyerah dan pindah ke jalur yang lebih mudah. Saya memilih menjadi guru
honorer yang pas-pasan selama 3 tahun hanya untuk memastikan saya tetap berada
di jalur 'Informatika'. Saya belajar bahwa Kecepatan itu penting, tapi Konsistensi
Jalur adalah segalanya. Saya rela telat start, asalkan saya tidak
salah jalan."
**