9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Katabah Berbagi
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Wednesday, March 11, 2026

Manpro - BAB 2: MEMILIH TAKDIR PROYEK (PROJECT SELECTION)

 

2.1. Dilema Proyek: Manfaat atau Sekadar Proyek?

Dalam dunia Manajemen Proyek TI, fase pemilihan (Selection) adalah fase yang paling krusial. Namun, di Lantai Tanah, fase ini seringkali menjadi ajang "Pesanan Politik" atau sekadar menghabiskan sisa anggaran tahunan.

Jika seorang Arsitek salah memilih pondasi, bangunan akan rubuh. Begitu juga manajer proyek; jika salah memilih "takdir" proyek yang akan dikerjakan, ia hanya akan melahirkan Zombi Sistem baru yang justru membebani organisasi.

Ada dua jenis proyek yang sering kita temui:

  1. Proyek Berjiwa (Mission-Driven): Proyek yang lahir karena ada masalah nyata yang harus diselesaikan di masyarakat atau organisasi.

  2. Proyek Zombi (Budget-Driven): Proyek yang lahir hanya karena ada "kue" anggaran yang harus dicairkan. Isinya biasanya penuh dengan formalitas dan dokumen kosong (ABS).

2.2. Kriteria Seleksi: Nalar vs. Angka

Secara akademis, kita mengenal metode seleksi seperti NPV (Net Present Value), ROI (Return on Investment), atau Scoring Model. Namun, dalam nalar Manifesto Ahda, angka-angka tersebut hanyalah "bungkus".

Kriteria seleksi yang sesungguhnya adalah Kemanusiaan dan Keberlanjutan:

  • Apakah Proyek ini Memecahkan Dinding Bilik? Jika sistem yang dibangun justru menambah birokrasi dan membuat meja kerja makin penuh kertas, maka proyek itu harus ditolak secara Soméah.

  • Apakah Proyek ini Tahan Uji Jalur Cisewu? Jangan memilih proyek yang teknologinya terlalu "langit" tapi tidak bisa diakses oleh rakyat yang sinyalnya timbul-tenggelam. Pilih proyek yang tangguh, praktis, dan membumi.

2.3. Seni Berkata "Tidak" Secara Soméah

Seorang manajer proyek yang hebat bukan mereka yang menerima semua permintaan bos atau klien. Seorang Arsitek Agung harus berani menolak proyek yang dirasa akan merugikan masyarakat atau hanya membuang-buang energi tim.

Bagaimana caranya? Gunakan teknik Diplomasi Kopi:

  1. Ajak stakeholder berdiskusi di luar formalitas kantor.

  2. Gunakan bahasa yang renyah namun logis untuk menjelaskan risiko "Zombi Sistem" yang mungkin muncul.

  3. Tawarkan alternatif solusi yang lebih efisien dan memanusiakan manusia.

2.4. Strategic Alignment: Menyelaraskan Nalar dengan Visi

Proyek TI harus selaras dengan strategi besar organisasi. Jika Katabah punya visi mencetak generasi berkarakter, maka proyek SI yang dibangun harus mencerminkan karakter tersebut—bukan sistem yang malah mengajarkan mahasiswa untuk curang atau malas berpikir karena semuanya serba otomatis tapi tak bernyawa.

 

Tugas Nalar Mahasiswa (Pertemuan 2):

  1. Studi Kasus: Bayangkan kamu ditawari proyek membuat "Aplikasi Absensi Wajah" di sebuah desa terpencil yang sering mati listrik dan warganya tidak punya HP canggih. Anggarannya besar (Rp1 Miliar).

  2. Pertanyaan: Apakah kamu akan menerima proyek tersebut?

    • Jika YA, bagaimana strategimu agar tidak jadi proyek mubazir?

    • Jika TIDAK, tuliskan kalimat penolakanmu yang paling Soméah kepada pemberi proyek tersebut.

  3. Kumpulkan di pertemuan berikutnya. Ingat: Gunakan Nalar, Bukan Google Search!

 

** 

Kembali ke Daftar Isi Manajemen Proyek TI 

 

Manpro - BAB 1: ARSITEKTUR NALAR DALAM MANAJEMEN PROYEK TI


1.1. Proyek TI: Benda Mati atau Makhluk Bernyawa?

Banyak mahasiswa (dan ironisnya, banyak manajer proyek senior) menganggap Proyek Teknologi Informasi (TI) hanyalah sekumpulan kode, kabel, server, dan tumpukan dokumen administratif yang kaku. Mereka terjebak dalam Dinding Bilik birokrasi, menganggap jika Gantt Chart sudah berwarna hijau di layar monitor, maka proyek sudah sukses.

Inilah awal mula lahirnya Zombi Manajemen. Sebuah kondisi di mana sebuah proyek terlihat hidup di atas kertas (laporan ABS—Asal Bapak Senang), namun sebenarnya sudah mati secara fungsi dan manfaat di Lantai Tanah.

Dalam perspektif Manifesto Ahda, sebuah proyek TI adalah Makhluk Bernyawa. Ia memiliki:

  1. Raga (Infrastruktur): Kabel, server, dan coding.

  2. Nalar (Logika Bisnis): Bagaimana sistem berpikir menyelesaikan masalah.

  3. Rasa (User Experience/Etika): Bagaimana sistem memperlakukan penggunanya secara manusiawi.

1.2. Arsitek Agung vs. Tukang Ketik

Perbedaan mendasar dalam manajemen proyek terletak pada mentalitas pengelolanya.

  • Tukang Ketik: Hanya peduli pada instruksi. Jika bos minta fitur A, dia bikin fitur A, peduli setan apakah fitur itu bermanfaat atau justru mempersulit rakyat di lapangan. Ini adalah mentalitas pesuruh yang menciptakan sistem mekanistis dan dingin.

  • Arsitek Agung: Ia bekerja dengan nalar dan tanggung jawab moral. Ia bertanya: "Kenapa sistem ini dibuat? Siapa yang terbantu? Apakah ini memanusiakan manusia atau justru memperbudak mereka dengan administrasi digital yang rumit?"

Seorang Arsitek Agung dalam Manajemen Proyek TI tidak hanya mengelola waktu dan biaya, tapi ia mengelola Harapan dan Keberkahan.

1.3. Fenomena "Zombi Sistem" di Era Digital

Mengapa banyak proyek TI gagal? Standar global (Standish Group) sering menyebutkan faktor Requirement yang berubah-ubah atau kurangnya dukungan manajemen. Namun, secara filosofis, kegagalan terjadi karena hilangnya Soméah dalam sistem.

Sistem yang dibuat tanpa "Rasa" akan menjadi sistem yang kaku, galak, dan birokratis. Itulah yang kita sebut Zombi Sistem: sistemnya ada, anggarannya habis, tapi kehadirannya justru menambah beban kerja manusia, bukan meringankannya.

1.4. Ruang Lingkup: Dari Cisewu hingga Dunia Global

Manajemen Proyek TI yang akan kita pelajari dalam buku ini tidak menggunakan teori "Menara Gading" yang sulit diterapkan. Kita akan menggunakan Nalar Cisewu: sebuah pendekatan manajemen yang tangguh di tengah keterbatasan.

Bagaimana mengelola proyek saat sinyal timbul-tenggelam? Bagaimana memimpin tim saat anggaran dipangkas zombi birokrasi? Di sinilah Kearifan Lokal bertemu dengan Teknologi Global. Kita belajar untuk tetap anteng (tenang) tapi agile (tangkas).

 

Tugas Nalar Mahasiswa (Pertemuan 1):

  1. Carilah satu aplikasi atau sistem informasi milik pemerintah atau kampus yang menurutmu paling "Zombi" (sering error, susah dipakai, atau malah bikin kerjaan makin lama).

  2. Tuliskan analisis singkat: Jika kamu adalah Arsitek Agung, bagian mana dari "Nalar" atau "Rasa" sistem tersebut yang harus diperbaiki agar tidak lagi menjadi Zombi?

  3. Kumpulkan dalam format PDF maksimal 1 halaman (Dilarang menggunakan gaya bahasa Zombi Administrasi yang bertele-tele!)

** 

Kembali ke Daftar Isi Manajemen Proyek TI