Pertama, berlebihan: pemberian tugas terlalu banyak, tapi siswa kurang memahaminya
Kedua,
egois: Merasa benar sendiri: siswa bernilai jelek, siswa tidak mampu,
siswa malas, siswa bolos dianggap ketidakberhasilan siswa dan hanya
siswa yang harus bertanggung jawab. Padahal, boleh jadi guru itulah
penyebabnya, misal: tidak bisa menyampaikan, tidak menguasai materi,
tidak menarik.
Contoh kasus: ketika seorang guru ditemui siswa
untuk minta tugas karena pernah bolos, guru tersebut kurang proaktif
sehingga ia menjawabnya sambil terburu-buru, terlihat merasa bahwa yang
butuh adalah siswa. Padahal, guru itu butuh juga alasan siswa yang
sebenarnya. Alasan itu tidak hanya tentang sakit, atau ada keperluan
penting, tapi merasa malas itu juga kontribusi untuk peningkatan mutu
guru yang bersangkutan
Ketiga, asing: guru cenderung asing bagi
siswa, karena tidak memposisikan tanggung jawabnya sebagai orang tua,
dan tidak mau berkomunikasi dengan posisi yang diinginkan siswa seperti
berperan sebagai teman, parner, atau orang tua untuk menerima curhat,
kritik dan sarannya
Keempat, sombong: Merasa lebih pintar dari siswa
Sesuai
cara menghapal cepat yang diajarkan dalam metode quantum learning, maka
saya memberikan akronim untuk nomor 1 sampai 4 dalam kata “BEAS”
(Berlebihan, Egois, Asing, Sombong).
Kelima, Tidak Jujur: Tidak berani mengatakan: saya belum paham
Keenam,
Tidak komunikatif: Tidak mau mengukur dengan jujur terhadap kemampuan
siswa, ia cenderung mengejar berapa banyak materi yang telah
disampaikan, bukan berapa banyak materi yang telah dipahami siswa.
Padahal, sekolah itu hanyalah stimulus, untuk kajian lebih mendalam
siswa sendirilah yang harus belajar di luar kelas, baik secara otodidak,
belajar kelompok, kursus, atau less private. Kasus ini banyak
dipengaruhi oleh target-target yang ada dalam silabus
Ketujuh, Tidak supportif: Tidak berani mengakui keunggulan anak. Seharusnya, berilah apresiasi dan reward semampunya
Kedelapan, Tidak cermat: memberi nilai jelek, tidak melihat fasilitas yang ada sementara dalam SMPTN dipandang sama
Kesembilan,
Tidak Terbuka: tidak membangun komunikasi yang baik di antara siswa dan
guru misalnya via sms, telpon, e-mail, atau komunikasi langsung
Untuk
nomor 5 sampai 9, penulis berikan akronim dalam bentuk kalimat “Tidak:
JK Support CT” (dibaca jeka support siti). Akronim “Tidak: JK Support
CT” berarti Tidak Jujur, Tidak Komunikatif, Tidak Supportif, Tidak
Cermat, Tidak Terbuka.
Dengan pembahasan akronim “BEAS” dan
“Tidak: JK Support CT” ini diharapkan para guru segera pulih dan bangkit
untuk memperbaiki dirinya sendiri. Guru itu dituntut keras untuk
menjalankan syariat Islam yang mengajarkan: “Tuntutlah ilmu sejak buaian
hingga liang lahat”. Dengan belajar terus maka sifat bijak atau dalam
bahasa Arabnya “hikmah” akan semakin terpupuk, sehingga akan
mengantarkan keberhasilan pendidikan sesuai amanah pembukaan UUD 1945:
“Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa”. Makna kata bangsa mencakup siswa
dan gurunya sendiri. Dengan belajar yang kontinyu, akan mencerdaskan
kehidupan siswa dan guru, sehingga akan tercapai keberhasilan
pembelajaran yang seimbang, baik secara materi keilmuan maupun secara
kematangan mentalnya masing-masing (guru dan siswa).
No comments:
Post a Comment