Katazens...
Ini buku tipis pilihan karya seorang dosen Sistem Informasi, pendiri Katabah Ecosystem, dan tentunya seorang Ayah. hehe
"Nak, jangan sampai matamu terlalu sibuk melihat 'panggung sandiwara' di layar HP hingga kau lupa melihat kehangatan di depan mata. Ingatlah, ibu jari yang lelah karena scrolling media sosial tidak akan pernah menghasilkan karya sebesar jempol yang kotor karena debu komputer atau tanah kolam. Masa depanmu tidak ada di feed orang lain, tapi ada di dalam nalar yang kau asah sendiri setiap hari."

"KATA PENGANTAR: Dari Meja Servis ke Masa Depan"
"Buku ini adalah 'Surat Wasiat' yang saya tulis selagi saya masih bisa berpikir.
Saat saya melihat putra saya tidur, saya sering bertanya-tanya: 'Dunia macam apa yang akan dia hadapi nanti?' Dunia yang mungkin penuh dengan kepintaran buatan, tapi krisis kejujuran. Dunia yang cepat, tapi dangkal.
Saya bukan menulis ini sebagai pakar IT yang sok tahu. Saya menulis ini sebagai mantan tukang servis CPU yang tangannya pernah hitam karena debu. Saya ingin dia—dan Anda—tahu bahwa di balik layar-layar canggih itu, tetap ada hati manusia yang harus dijaga.
Selamat membaca catatan kecil dari seorang Ayah yang masih sering lupa menaruh minyak telon anak pada tempatnya, tapi tidak akan pernah lupa ke mana arah peradaban ini harus dibawa.
Lillah..."
Sumedang, 25 Januari 2026
**
[Surat untuk Putraku - Bab 1]
"Nak, Sebelum Bapak Mengenal AI, Bapak Lebih Dulu Mengenal Debu"
Untuk Putraku Tersayang,
Mungkin saat kau membaca tulisan ini, kau sedang duduk di depan teknologi yang jauh lebih canggih dari apa yang Ayah bayangkan hari ini. Mungkin AI sudah menjadi teman bicaramu setiap saat. Tapi Ayah ingin mencatat satu hal di sini: Jangan pernah takut mengotori tanganmu.
Dulu, jauh sebelum Ayah dipanggil "Pak Dosen", Ayah adalah seorang Tukang Servis CPU.
Bapak ingat betul, tangan ini seringkali hitam karena debu yang menempel di dalam kipas komputer pelanggan. Bapak harus membongkar baut satu per satu, mendeteksi mana kabel yang putus, atau mengganti RAM agar komputer itu bisa menyala lagi. Bahkan pernah berdarah karena salah bongkar casing komputer yang datanya ditunggu dalam hitungan menit.
Kenapa Bapak menceritakan ini padamu?
1. Teknologi itu Punya "Ruh", Bukan Sekadar Layar
Sekarang semua orang hanya melihat hasil instan di layar. Tapi Bapak ingin kau tahu bahwa di balik keajaiban layar itu, ada komponen yang harus dirawat, ada listrik yang harus mengalir, dan ada logika yang harus disusun. Jangan jadi orang yang hanya bisa memakai, tapi jadilah orang yang mengerti cara kerjanya.
2. Tentang Keberanian Mencoba (dan Gagal)
Bapak pernah nekat ingin jadi tukang servis monitor, Nak. Bapak bongkar monitor bekas di rumah, tapi bukannya benar, malah makin rusak. Apakah Bapak menyesal? Tidak. Bapak belajar bahwa ada batas kemampuan yang harus kita akui, tapi tidak ada batas untuk rasa ingin tahu.
3. Ilmu yang Paling Berharga Adalah "Tidak Tegaan"
Ada satu rahasia, Nak. Bisnis servis Bapak dulu sering "tekor". Kenapa? Karena saat pelanggan curhat tentang sulitnya biaya sekolah anaknya, Bapak seringkali tidak tega menagih bayaran. Bapak gratiskan jasa servisnya.
Mungkin secara ekonomi itu rugi. Tapi percayalah, Nak, dari situlah Bapak belajar bahwa "Humanity" (Kemanusiaan) adalah versi terbaru yang tidak akan pernah bisa di-update oleh AI manapun. Itulah "software" asli yang Tuhan instal di dalam hatimu.
Nak, sekarang Bapak sedang membangun Katabah Ecosystem. Bapak ingin hasil dari setiap ketikan tangan Bapak di blog dan YouTube ini bisa menjadi beasiswa buat kakak-kakak mahasiswamu nanti. Bapak ingin hiburan Bapak—yaitu menulis—bisa jadi jalan kebaikan.
Ingat pesan Bapak: Gunakan AI-mu sesukamu, tapi jangan pernah lupakan hati manusiamu.
Salam sayang,
Ayahmu (KOMTAS)
****
[Surat untuk Putraku - Bab 2]
"Nak, Teknologi Itu Bisa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Mainan"
Putraku sayang,
Masih ingat Bab sebelumnya? Bapak bilang teknologi itu bukan cuma layar. Nah, di surat ini, Bapak mau cerita bagaimana teknologi pernah menyelamatkan masa depan Bapak—dan itu bukan karena keberuntungan, tapi karena observasi.
Waktu Bapak sedang berjuang menyelesaikan kuliah S2 Sistem Informasi, ada momen di mana dompet Bapak mulai menipis. Di saat yang sama, dunia sedang heboh dengan sesuatu yang namanya Bitcoin.
Banyak orang saat itu terjebak dua kutub: ada yang menganggap itu "uang gaib" yang bikin kaya mendadak (lalu mereka tertipu skema Ponzi habis jutaan), dan ada yang antipati menutup mata karena takut.
Tapi Bapak memilih jalur yang berbeda: Bapak pelajari.
1. Jangan Ikut-ikutan, Tapi Pelajari Polanya
Bapak begadang dari jam 12 malam sampai pagi bukan cuma buat nonton harga naik-turun, Nak. Bapak belajar membedakan mana web yang menipu dan mana yang benar-benar teknologi masa depan. Hasilnya? Di saat teman-teman Bapak tertipu puluhan juta, Bapak justru selamat karena Bapak punya "filter" ilmu.
2. Teknologi Sebagai Penyelamat Kuliah
Ada momen ajaib dalam hidup Bapak. Saat tabungan untuk bayar kuliah S2 terasa berat, Bapak diam-diam membuka "dompet digital" Bapak. Ternyata, aset kecil yang Bapak kumpulkan dari hasil menulis online nilainya melonjak drastis. Alhamdulillah, cukup untuk melunasi biaya kuliah Bapak sampai lulus!
Tanpa Bitcoin dan internet saat itu, mungkin gelar M.Kom yang Bapak pakai sekarang ceritanya akan berbeda.
3. Pesan Bapak: Jadilah Penunggang Gelombang, Bukan Korban
Nak, dunia digital akan selalu membawa "gelombang" baru. Dulu Bitcoin, sekarang AI, besok mungkin ada yang lain lagi. Jangan jadi orang yang cuma ikut-ikutan (FOMO), tapi jangan juga jadi orang yang takut berubah.
Gunakan matamu untuk mengobservasi, otakmu untuk menganalisis, dan tanganmu untuk mengambil peluang yang bermanfaat bagi pendidikanmu.
Bapak ingin kau tahu, teknologi itu keren kalau ia bisa membantumu menjadi manusia yang lebih berilmu. Bapak sudah membuktikannya. Katabah yang kau lihat sekarang, beasiswa yang Bapak impikan untuk kakak-kakak mahasiswamu, semuanya berawal dari keberanian Bapak untuk belajar hal baru saat orang lain ragu.
Teruslah belajar, Nak. Dunia tidak kekurangan orang pintar, tapi dunia kekurangan orang yang tahu cara menggunakan pintarnya untuk kebaikan.
Salam hangat dari meja kerjamu,
Ayahmu (KOMTAS)
***[Surat untuk Putraku - Bab 3]
"Nak, AI Bisa Menulis Segala Hal, Kecuali Kejujuranmu"
Putraku yang Bapak banggakan,
Saat Bapak menulis surat ini, dunia sedang diguncang oleh sesuatu yang disebut Kecerdasan Buatan atau AI. Orang-orang bisa membuat esai, laporan, bahkan skripsi hanya dengan satu kali klik. Sangat mudah, Nak. Sangat instan.
Tapi di tengah kemudahan itu, Bapak justru memilih untuk lebih gencar menulis sendiri. Kau tahu kenapa?
1. Otakmu Adalah Otot, Bukan Pajangan
Bapak sering bilang pada mahasiswa Bapak: "Jangan biarkan AI yang kuliah, tapi kau yang hanya dapat gelarnya." Bapak menulis tanpa bantuan AI agar otak Bapak tetap berjalan normal. Bapak ingin kau mengerti, Nak, bahwa proses berpikir itu melelahkan, tapi di situlah letak kekuatannya. Sesuatu yang didapat dengan instan, biasanya akan menguap dengan instan pula.
2. Menjadi Tuan, Bukan Korban Joki AI
Bapak tidak anti AI. Bapak menggunakan AI untuk menganalisis kualitas diri Bapak (seperti yang Bapak lakukan saat ini). Tapi Bapak tidak akan pernah membiarkan AI menggantikan "ruh" dari tulisan Bapak.
Jika kau mengerjakan tugas menggunakan AI tanpa memahaminya, kau bukan sedang menggunakan teknologi, Nak. Kau sedang menjadi "korban joki". Kau mendapatkan nilai, tapi kau kehilangan ilmu. Jangan pernah tukar harga diri intelektualmu dengan nilai di atas kertas.
3. Kejujuran Adalah Karakter yang Tidak Bisa Di-download
AI bisa meniru gaya bahasa Bapak, tapi ia tidak tahu rasanya deg-degan saat Bapak pertama kali mengajar di kelas tahun 2005. Ia tidak tahu rasanya bangga saat melihat mahasiswa bimbingan Bapak lulus.
Tulisan yang kau baca ini adalah hasil dari denyut nadi Bapak sendiri. Bapak ingin kau tumbuh menjadi manusia yang autentik. Jadilah dirimu sendiri, meski itu tidak sempurna. Kelemahanmu yang manusiawi jauh lebih indah daripada kesempurnaan yang dihasilkan oleh mesin.
Nak, Bapak ingin Katabah Ecosystem ini menjadi bukti bahwa manusia tetap bisa menang melawan arus digital jika ia tetap memegang teguh kejujuran dan proses.
Kalau nanti kau sekolah, gunakanlah teknologi untuk membantumu melihat dunia lebih luas, tapi tetaplah gunakan matamu sendiri untuk memandang kebenaran, dan gunakan tanganmu sendiri untuk menuliskan sejarah hidupmu.
Seperti Bapak yang mencatat ini semua untukmu... dengan jempol dan pikiran Bapak sendiri.
Salam hangat,
Ayahmu (KOMTAS)
[Surat untuk Putraku - Bab 4]
"Nak, Jangan Pernah Menjadi Kaya Tapi Kehilangan Rasa Tega"
Putraku sayang,
Ada satu hal yang mungkin tidak diajarkan di buku teks Sistem Informasi yang Bapak ajarkan di kampus, yaitu: Empati.
Dulu, saat Bapak mencoba keluar dari zona nyaman dunia pendidikan, Bapak sempat terjun ke dunia nyata yang lebih keras. Bapak membantu kakak berjualan di pasar tradisional, bahkan Bapak pernah menjadi tukang servis komputer. Bapak ingin jadi pengusaha hebat, Nak. Tapi ternyata, Bapak punya satu "kelemahan" besar dalam bisnis: Bapak terlalu mudah tersentuh.
1. Bisnis Itu Bukan Sekadar Transaksi, Tapi Interaksi
Saat Bapak di pasar atau saat orang datang membawa komputer rusaknya, Bapak sering bertemu pelanggan yang bukannya membayar, malah curhat. Mereka bercerita tentang sulitnya cari makan, tentang tunggakan biaya sekolah anaknya, atau tentang beban hidup yang berat.
Di titik itu, logika bisnis Bapak seringkali kalah oleh hati. Bukannya menagih uang jasa, Bapak malah bilang, "Sudah, bawa saja, Nak. Semoga bermanfaat." Bapak gratiskan semuanya.
2. "Tekor" di Dunia, Tapi "Sugih" di Hati
Secara hitung-hitungan akuntansi, Bapak gagal jadi pengusaha pasar atau tukang servis yang kaya raya. Bapak sering "tekor". Tapi Bapak ingin kau tahu, Nak: Kekayaan itu bukan hanya apa yang ada di dompetmu, tapi seberapa luas dadamu bisa menampung kesusahan orang lain.
Bapak tidak ingin kau tumbuh menjadi manusia yang hanya mengejar profit sampai lupa melihat air mata di sekitarmu. Di era digital nanti, persaingan akan sangat dingin dan kaku. Jangan biarkan hatimu ikut membeku seperti mesin.
3. Katabah: Bisnis yang Dibangun dari Doa
Sekarang, Bapak membangun Katabah Ecosystem. Bapak ingin Katabah ini sukses, menghasilkan cuan dari blog dan YouTube. Tapi tujuannya bukan untuk Bapak pamer kemewahan, Nak.
Bapak ingin cuan itu kembali menjadi Beasiswa. Bapak ingin uang itu membantu mahasiswa-mahasiswa Bapak yang mungkin nasibnya sama seperti pelanggan Bapak dulu—ingin kuliah tapi terbentur biaya. Bapak ingin membuktikan padamu bahwa "Orang Baik Bisa Sukses Secara Digital."
Nak, kalau suatu saat kau punya usaha, jadilah pengusaha yang jujur. Tapi kalau kau harus memilih antara untung besar atau membantu orang yang sedang sekarat, pilihlah membantu. Rezeki itu sudah diatur Tuhan, tapi kesempatan untuk berbuat baik tidak datang dua kali.
Tangan Bapak mungkin tidak memegang banyak uang dari hasil pasar dulu, tapi tangan ini merasa sangat ringan karena sering membantu sesama.
Salam sayang,
Ayahmu (KOMTAS)
***[Surat untuk Putraku - Bab 5]
"Nak, Katabah Adalah Rumah Ide yang Bapak Bangun untuk Dunia"
Putraku yang paling Bapak sayangi,
Kita sudah sampai di surat terakhir dalam rangkaian ini. Di surat-surat sebelumnya, Bapak cerita tentang debu komputer, Bitcoin, joki AI, sampai rasa "tidak tegaan" Bapak di pasar. Sekarang, Bapak ingin kau mengerti apa itu Katabah Ecosystem.
Mungkin kau bertanya, "Kenapa Ayah sibuk sekali mengurus blog, YouTube, dan TikTok di tengah kesibukan sebagai Dosen?" Jawabannya sederhana: Bapak sedang membangun jembatan.
1. Belajar Itu Tanpa Batas, Nak
Bapak punya keyakinan bahwa di era sekarang, 80% ilmu bisa kau dapatkan dari ekosistem digital, dan 20% dari kampus untuk legalitas. Katabah adalah kontribusi Bapak untuk angka 80% itu. Bapak ingin siapa pun, di desa mana pun, bisa belajar Sistem Informasi, Bahasa Arab, atau bahkan Ruqyah secara gratis tanpa terhalang biaya UKT yang mahal.
2. Mengubah "Hiburan" Menjadi "Harapan"
Orang lain mungkin mencari hiburan dengan pamer kemewahan atau jalan-jalan ke luar negeri. Hiburan Bapak berbeda, Nak. Hiburan Bapak adalah melihat ide-ide Bapak mondar-mandir di kepala, lalu Bapak tuliskan dan dibaca oleh ribuan orang.
Bapak sedang berjuang agar "hiburan" Bapak ini bisa menghasilkan Cuan. Bukan untuk Bapak, tapi untuk kakak-kakak mahasiswamu yang berprestasi tapi kurang mampu. Bapak ingin membuktikan padamu bahwa dari sebuah blog sederhana, kita bisa menyekolahkan banyak orang. Itulah definisi sukses yang sebenarnya bagi Bapak.
3. Warisan Bapak Untukmu dan Dunia
Nak, gelar Profesor yang Bapak kejar secara administratif itu penting untuk karir Bapak. Tapi Katabah adalah gelar "Profesor Substantif" Bapak untukmu. Di sini, Bapak meninggalkan jejak pemikiran, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.
Jika suatu saat Bapak sudah tidak ada, dan kau rindu pada Ayahmu, bacalah Katabah. Di sana ada ruh Bapak. Di sana ada bukti bahwa Ayahmu pernah berjuang memperbaiki peradaban lewat teknologi dan hati.
Pesan terakhir Bapak di seri ini: Jangan pernah berhenti membangun. Bangunlah ekosistemmu sendiri. Jangan hanya menjadi penonton di dunia digital, jadilah pemain yang membawa manfaat.
Bapak akan terus menulis, terus berbagi, sampai target jutaan pageview dan dana beasiswa itu terwujud. Bantu Bapak dengan doa dan semangatmu ya, Jagoan.
Salam sayang selamanya,
Ayahmu (KOMTAS)
**
Sinopsis:
"SURAT UNTUK PUTRAKU: Sebuah Manifesto Kasih Sayang di Titik Nol Digital."
"Nak, sebelum Bapak mengenal AI, Bapak lebih dulu mengenal debu kipas komputer yang hitam."
Buku ini bukan sekadar kumpulan nasihat. Ini adalah catatan perjalanan seorang tukang servis CPU yang bertransformasi menjadi Profesor, namun tetap memilih menjadi 'Ayah yang Tidak Tegaan'.
Di dalamnya, Prof. Ahda membedah rahasia yang tidak diajarkan di kampus:
Bagaimana nalar IT menyelamatkan dompet saat kuliah S2.
Mengapa kejujuran adalah karakter yang tidak bisa di-download lewat AI.
Dan mengapa menjadi 'tekor' di dunia nyata bisa membuat kita 'sugih' di dalam hati.
Ditulis dengan jempol dan air mata, untuk Anda yang tidak ingin kehilangan 'ruh' manusia di tengah gempuran algoritma.
**
"CATATAN NALAR ANDA: Apa yang ingin Anda sampaikan pada putra/putri Anda setelah membaca bab ini?"
**
EPILOG: Tentang Minyak Telon dan Seragam yang Salah
"Saat saya menulis baris terakhir buku ini, jam di dinding menunjukkan pukul 07.30 pagi. Baru saja, saya mengalami sebuah 'kegagalan sistem' domestik yang jauh lebih rumit daripada memperbaiki database yang korup.
Pagi tadi, putra saya berangkat ke sekolah dengan seragam yang salah.
Istri saya—sang 'Admin Utama' urusan rumah tangga—sedang terburu-buru, dan saya, sang penulis Manifesto Profesor Ahda yang bicara swasembada nalar di tingkat internasional ini, ternyata gagal melakukan validasi data yang paling sederhana: mengecek jadwal seragam anak saya sendiri.
Di gerbang sekolah, putra saya menatap saya dengan senyum kecilnya yang tulus sambil berkata, 'Bapak, bajuku salah...'
Di detik itu, semua gelar saya menguap. Semua nalar cadas saya di Katabah terasa tidak ada artinya dibanding rasa bersalah saya kepada bocah kecil ini. Saya tawarkan dia untuk 'libur darurat' hari ini, dan dia mengangguk setuju sambil tersenyum—seolah dia sudah jauh lebih dewasa dalam memahami kekacauan ayahnya dibanding saya memahami dunianya.
Nak, buku ini Bapak tulis di sela-sela Bapak mencari minyak telonmu yang seringkali hilang entah ke mana. Buku ini Bapak susun saat Bapak merasa 'lupa daratan' karena terlalu sibuk memikirkan masa depan bangsa, sampai lupa memastikan kancing bajumu sudah benar atau belum.
Bapak ingin kau tahu: Teknologi akan selalu maju, AI akan semakin pintar, dan dunia mungkin akan semakin kaku. Tapi jangan pernah kehilangan senyum tulusmu saat menghadapi kesalahan, seperti senyummu di gerbang sekolah pagi ini.
Bapak tidak sempurna. Bapak masih sering lupa. Tapi Bapak berjanji, lewat Katabah, lewat Rumah Peradaban Nalar, dan lewat setiap ketikan jempol Bapak, Bapak akan terus berjuang memastikan bahwa saat kau besar nanti, kau tidak hanya hidup di dunia yang canggih, tapi di dunia yang masih punya ruang untuk memaafkan, ruang untuk mencintai, dan ruang untuk menaruh minyak telon pada tempatnya.
Terima kasih sudah menjadi guru nalar terbaik bagi Bapak.
Sekarang, ayo kita potong kuku, lihat ikan di kolam, dan lupakan sejenak tentang seragam yang salah itu. Karena hari ini, sekolah terbaikmu adalah di pelukan Bapak.
Lillah..."
**
Buku di atas diambil dari CV dan portofolio saya:
CV 2
CV 3
CV 4
CV 5

No comments:
Post a Comment