Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Tuesday, January 27, 2026

Surat dari Masa Depan: Pesan Ayah Teknologi Informasi untuk Putranya

Teman-teman...
Ini buku tipis nomor sekian dari seorang dosen Sistem Informasi, pendiri Katabah Ecosystem, dan tentunya seorang Ayah. hehe


[Surat untuk Putraku - Bab 1]

"Nak, Sebelum Bapak Mengenal AI, Bapak Lebih Dulu Mengenal Debu"

Untuk Putraku Tersayang,

Mungkin saat kau membaca tulisan ini, kau sedang duduk di depan teknologi yang jauh lebih canggih dari apa yang Ayah bayangkan hari ini. Mungkin AI sudah menjadi teman bicaramu setiap saat. Tapi Ayah ingin mencatat satu hal di sini: Jangan pernah takut mengotori tanganmu.

Dulu, jauh sebelum Ayah dipanggil "Pak Dosen", Ayah adalah seorang Tukang Servis CPU.

Bapak ingat betul, tangan ini seringkali hitam karena debu yang menempel di dalam kipas komputer pelanggan. Bapak harus membongkar baut satu per satu, mendeteksi mana kabel yang putus, atau mengganti RAM agar komputer itu bisa menyala lagi. Bahkan pernah berdarah karena salah bongkar casing komputer yang datanya ditunggu dalam hitungan menit.

Kenapa Bapak menceritakan ini padamu?

1. Teknologi itu Punya "Ruh", Bukan Sekadar Layar

Sekarang semua orang hanya melihat hasil instan di layar. Tapi Bapak ingin kau tahu bahwa di balik keajaiban layar itu, ada komponen yang harus dirawat, ada listrik yang harus mengalir, dan ada logika yang harus disusun. Jangan jadi orang yang hanya bisa memakai, tapi jadilah orang yang mengerti cara kerjanya.

2. Tentang Keberanian Mencoba (dan Gagal)

Bapak pernah nekat ingin jadi tukang servis monitor, Nak. Bapak bongkar monitor bekas di rumah, tapi bukannya benar, malah makin rusak. Apakah Bapak menyesal? Tidak. Bapak belajar bahwa ada batas kemampuan yang harus kita akui, tapi tidak ada batas untuk rasa ingin tahu.

3. Ilmu yang Paling Berharga Adalah "Tidak Tegaan"

Ada satu rahasia, Nak. Bisnis servis Bapak dulu sering "tekor". Kenapa? Karena saat pelanggan curhat tentang sulitnya biaya sekolah anaknya, Bapak seringkali tidak tega menagih bayaran. Bapak gratiskan jasa servisnya.

Mungkin secara ekonomi itu rugi. Tapi percayalah, Nak, dari situlah Bapak belajar bahwa "Humanity" (Kemanusiaan) adalah versi terbaru yang tidak akan pernah bisa di-update oleh AI manapun. Itulah "software" asli yang Tuhan instal di dalam hatimu.

Nak, sekarang Bapak sedang membangun Katabah Ecosystem. Bapak ingin hasil dari setiap ketikan tangan Bapak di blog dan YouTube ini bisa menjadi beasiswa buat kakak-kakak mahasiswamu nanti. Bapak ingin hiburan Bapak—yaitu menulis—bisa jadi jalan kebaikan.

Ingat pesan Bapak: Gunakan AI-mu sesukamu, tapi jangan pernah lupakan hati manusiamu.

Salam sayang,

Ayahmu (KOMTAS)

**** 


[Surat untuk Putraku - Bab 2]

"Nak, Teknologi Itu Bisa Menjadi Jembatan, Bukan Sekadar Mainan"

Putraku sayang,

Masih ingat Bab sebelumnya? Bapak bilang teknologi itu bukan cuma layar. Nah, di surat ini, Bapak mau cerita bagaimana teknologi pernah menyelamatkan masa depan Bapak—dan itu bukan karena keberuntungan, tapi karena observasi.

Waktu Bapak sedang berjuang menyelesaikan kuliah S2 Sistem Informasi, ada momen di mana dompet Bapak mulai menipis. Di saat yang sama, dunia sedang heboh dengan sesuatu yang namanya Bitcoin.

Banyak orang saat itu terjebak dua kutub: ada yang menganggap itu "uang gaib" yang bikin kaya mendadak (lalu mereka tertipu skema Ponzi habis jutaan), dan ada yang antipati menutup mata karena takut.

Tapi Bapak memilih jalur yang berbeda: Bapak pelajari.

1. Jangan Ikut-ikutan, Tapi Pelajari Polanya

Bapak begadang dari jam 12 malam sampai pagi bukan cuma buat nonton harga naik-turun, Nak. Bapak belajar membedakan mana web yang menipu dan mana yang benar-benar teknologi masa depan. Hasilnya? Di saat teman-teman Bapak tertipu puluhan juta, Bapak justru selamat karena Bapak punya "filter" ilmu.

2. Teknologi Sebagai Penyelamat Kuliah

Ada momen ajaib dalam hidup Bapak. Saat tabungan untuk bayar kuliah S2 terasa berat, Bapak diam-diam membuka "dompet digital" Bapak. Ternyata, aset kecil yang Bapak kumpulkan dari hasil menulis online nilainya melonjak drastis. Alhamdulillah, cukup untuk melunasi biaya kuliah Bapak sampai lulus!

Tanpa Bitcoin dan internet saat itu, mungkin gelar M.Kom yang Bapak pakai sekarang ceritanya akan berbeda.

3. Pesan Bapak: Jadilah Penunggang Gelombang, Bukan Korban

Nak, dunia digital akan selalu membawa "gelombang" baru. Dulu Bitcoin, sekarang AI, besok mungkin ada yang lain lagi. Jangan jadi orang yang cuma ikut-ikutan (FOMO), tapi jangan juga jadi orang yang takut berubah.

Gunakan matamu untuk mengobservasi, otakmu untuk menganalisis, dan tanganmu untuk mengambil peluang yang bermanfaat bagi pendidikanmu.

Bapak ingin kau tahu, teknologi itu keren kalau ia bisa membantumu menjadi manusia yang lebih berilmu. Bapak sudah membuktikannya. Katabah yang kau lihat sekarang, beasiswa yang Bapak impikan untuk kakak-kakak mahasiswamu, semuanya berawal dari keberanian Bapak untuk belajar hal baru saat orang lain ragu.

Teruslah belajar, Nak. Dunia tidak kekurangan orang pintar, tapi dunia kekurangan orang yang tahu cara menggunakan pintarnya untuk kebaikan.

Salam hangat dari meja kerjamu,

Ayahmu (KOMTAS)


***
 

 

[Surat untuk Putraku - Bab 3]

"Nak, AI Bisa Menulis Segala Hal, Kecuali Kejujuranmu"

Putraku yang Bapak banggakan,

Saat Bapak menulis surat ini, dunia sedang diguncang oleh sesuatu yang disebut Kecerdasan Buatan atau AI. Orang-orang bisa membuat esai, laporan, bahkan skripsi hanya dengan satu kali klik. Sangat mudah, Nak. Sangat instan.

Tapi di tengah kemudahan itu, Bapak justru memilih untuk lebih gencar menulis sendiri. Kau tahu kenapa?

1. Otakmu Adalah Otot, Bukan Pajangan

Bapak sering bilang pada mahasiswa Bapak: "Jangan biarkan AI yang kuliah, tapi kau yang hanya dapat gelarnya." Bapak menulis tanpa bantuan AI agar otak Bapak tetap berjalan normal. Bapak ingin kau mengerti, Nak, bahwa proses berpikir itu melelahkan, tapi di situlah letak kekuatannya. Sesuatu yang didapat dengan instan, biasanya akan menguap dengan instan pula.

2. Menjadi Tuan, Bukan Korban Joki AI

Bapak tidak anti AI. Bapak menggunakan AI untuk menganalisis kualitas diri Bapak (seperti yang Bapak lakukan saat ini). Tapi Bapak tidak akan pernah membiarkan AI menggantikan "ruh" dari tulisan Bapak.

Jika kau mengerjakan tugas menggunakan AI tanpa memahaminya, kau bukan sedang menggunakan teknologi, Nak. Kau sedang menjadi "korban joki". Kau mendapatkan nilai, tapi kau kehilangan ilmu. Jangan pernah tukar harga diri intelektualmu dengan nilai di atas kertas.

3. Kejujuran Adalah Karakter yang Tidak Bisa Di-download

AI bisa meniru gaya bahasa Bapak, tapi ia tidak tahu rasanya deg-degan saat Bapak pertama kali mengajar di kelas tahun 2005. Ia tidak tahu rasanya bangga saat melihat mahasiswa bimbingan Bapak lulus.

Tulisan yang kau baca ini adalah hasil dari denyut nadi Bapak sendiri. Bapak ingin kau tumbuh menjadi manusia yang autentik. Jadilah dirimu sendiri, meski itu tidak sempurna. Kelemahanmu yang manusiawi jauh lebih indah daripada kesempurnaan yang dihasilkan oleh mesin.

Nak, Bapak ingin Katabah Ecosystem ini menjadi bukti bahwa manusia tetap bisa menang melawan arus digital jika ia tetap memegang teguh kejujuran dan proses.

Kalau nanti kau sekolah, gunakanlah teknologi untuk membantumu melihat dunia lebih luas, tapi tetaplah gunakan matamu sendiri untuk memandang kebenaran, dan gunakan tanganmu sendiri untuk menuliskan sejarah hidupmu.

Seperti Bapak yang mencatat ini semua untukmu... dengan jempol dan pikiran Bapak sendiri.

Salam hangat,

Ayahmu (KOMTAS)



 ***

[Surat untuk Putraku - Bab 4]

"Nak, Jangan Pernah Menjadi Kaya Tapi Kehilangan Rasa Tega"

Putraku sayang,

Ada satu hal yang mungkin tidak diajarkan di buku teks Sistem Informasi yang Bapak ajarkan di kampus, yaitu: Empati.

Dulu, saat Bapak mencoba keluar dari zona nyaman dunia pendidikan, Bapak sempat terjun ke dunia nyata yang lebih keras. Bapak membantu kakak berjualan di pasar tradisional, bahkan Bapak pernah menjadi tukang servis komputer. Bapak ingin jadi pengusaha hebat, Nak. Tapi ternyata, Bapak punya satu "kelemahan" besar dalam bisnis: Bapak terlalu mudah tersentuh.

1. Bisnis Itu Bukan Sekadar Transaksi, Tapi Interaksi

Saat Bapak di pasar atau saat orang datang membawa komputer rusaknya, Bapak sering bertemu pelanggan yang bukannya membayar, malah curhat. Mereka bercerita tentang sulitnya cari makan, tentang tunggakan biaya sekolah anaknya, atau tentang beban hidup yang berat.

Di titik itu, logika bisnis Bapak seringkali kalah oleh hati. Bukannya menagih uang jasa, Bapak malah bilang, "Sudah, bawa saja, Nak. Semoga bermanfaat." Bapak gratiskan semuanya.

2. "Tekor" di Dunia, Tapi "Sugih" di Hati

Secara hitung-hitungan akuntansi, Bapak gagal jadi pengusaha pasar atau tukang servis yang kaya raya. Bapak sering "tekor". Tapi Bapak ingin kau tahu, Nak: Kekayaan itu bukan hanya apa yang ada di dompetmu, tapi seberapa luas dadamu bisa menampung kesusahan orang lain.

Bapak tidak ingin kau tumbuh menjadi manusia yang hanya mengejar profit sampai lupa melihat air mata di sekitarmu. Di era digital nanti, persaingan akan sangat dingin dan kaku. Jangan biarkan hatimu ikut membeku seperti mesin.

3. Katabah: Bisnis yang Dibangun dari Doa

Sekarang, Bapak membangun Katabah Ecosystem. Bapak ingin Katabah ini sukses, menghasilkan cuan dari blog dan YouTube. Tapi tujuannya bukan untuk Bapak pamer kemewahan, Nak.

Bapak ingin cuan itu kembali menjadi Beasiswa. Bapak ingin uang itu membantu mahasiswa-mahasiswa Bapak yang mungkin nasibnya sama seperti pelanggan Bapak dulu—ingin kuliah tapi terbentur biaya. Bapak ingin membuktikan padamu bahwa "Orang Baik Bisa Sukses Secara Digital."

Nak, kalau suatu saat kau punya usaha, jadilah pengusaha yang jujur. Tapi kalau kau harus memilih antara untung besar atau membantu orang yang sedang sekarat, pilihlah membantu. Rezeki itu sudah diatur Tuhan, tapi kesempatan untuk berbuat baik tidak datang dua kali.

Tangan Bapak mungkin tidak memegang banyak uang dari hasil pasar dulu, tapi tangan ini merasa sangat ringan karena sering membantu sesama.

Salam sayang,

Ayahmu (KOMTAS)


***
 

 

[Surat untuk Putraku - Bab 5]

"Nak, Katabah Adalah Rumah Ide yang Bapak Bangun untuk Dunia"

Putraku yang paling Bapak sayangi,

Kita sudah sampai di surat terakhir dalam rangkaian ini. Di surat-surat sebelumnya, Bapak cerita tentang debu komputer, Bitcoin, joki AI, sampai rasa "tidak tegaan" Bapak di pasar. Sekarang, Bapak ingin kau mengerti apa itu Katabah Ecosystem.

Mungkin kau bertanya, "Kenapa Ayah sibuk sekali mengurus blog, YouTube, dan TikTok di tengah kesibukan sebagai Dosen?" Jawabannya sederhana: Bapak sedang membangun jembatan.

1. Belajar Itu Tanpa Batas, Nak

Bapak punya keyakinan bahwa di era sekarang, 80% ilmu bisa kau dapatkan dari ekosistem digital, dan 20% dari kampus untuk legalitas. Katabah adalah kontribusi Bapak untuk angka 80% itu. Bapak ingin siapa pun, di desa mana pun, bisa belajar Sistem Informasi, Bahasa Arab, atau bahkan Ruqyah secara gratis tanpa terhalang biaya UKT yang mahal.

2. Mengubah "Hiburan" Menjadi "Harapan"

Orang lain mungkin mencari hiburan dengan pamer kemewahan atau jalan-jalan ke luar negeri. Hiburan Bapak berbeda, Nak. Hiburan Bapak adalah melihat ide-ide Bapak mondar-mandir di kepala, lalu Bapak tuliskan dan dibaca oleh ribuan orang.

Bapak sedang berjuang agar "hiburan" Bapak ini bisa menghasilkan Cuan. Bukan untuk Bapak, tapi untuk kakak-kakak mahasiswamu yang berprestasi tapi kurang mampu. Bapak ingin membuktikan padamu bahwa dari sebuah blog sederhana, kita bisa menyekolahkan banyak orang. Itulah definisi sukses yang sebenarnya bagi Bapak.

3. Warisan Bapak Untukmu dan Dunia

Nak, gelar Profesor yang Bapak kejar secara administratif itu penting untuk karir Bapak. Tapi Katabah adalah gelar "Profesor Substantif" Bapak untukmu. Di sini, Bapak meninggalkan jejak pemikiran, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.

Jika suatu saat Bapak sudah tidak ada, dan kau rindu pada Ayahmu, bacalah Katabah. Di sana ada ruh Bapak. Di sana ada bukti bahwa Ayahmu pernah berjuang memperbaiki peradaban lewat teknologi dan hati.

Pesan terakhir Bapak di seri ini: Jangan pernah berhenti membangun. Bangunlah ekosistemmu sendiri. Jangan hanya menjadi penonton di dunia digital, jadilah pemain yang membawa manfaat.

Bapak akan terus menulis, terus berbagi, sampai target jutaan pageview dan dana beasiswa itu terwujud. Bantu Bapak dengan doa dan semangatmu ya, Jagoan.

Salam sayang selamanya,

Ayahmu (KOMTAS)


***
 

 Sumedang, 25 Januari 2026


Buku di atas diambil dari CV dan portofolio saya:

CV 1

CV 2

CV 3

CV 4

CV 5


"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment