9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Kuliah Nalar SI Gratis
Katabah Berbagi
Pusat Digitalisasi Nalar Sunda Cisewu
CV dan Lowongan Kerja
Program Portofolio Dosen
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi
Showing posts with label SMS. Show all posts
Showing posts with label SMS. Show all posts

Friday, July 24, 2026

Rumah Katabah Wisata Edukasi Nalar Pasirnanjung Cimanggung Sumedang

 Bertahap, kita tata rumah kecil minimalis agar bernuansa edukasi, baik untuk anak usia PAUD/TK maupun mahasiswa.


Rak Buku Besar

Rak Buku Kecil

Kolam kecil untuk ikan kecil

Tong lele sangkuriang

Ruang hijau minimalis untuk tanaman bunga ukuran sekitar 1x6 meter dengan prioritas tanam 1x1 meter adengan tinggi sedada otang dewasa.


Semua fasilitas di atas untuk mendukung belajar putra usia 6 tahun dan tentu saja mendukung para mahasiswa agar semangat belajar mandiri (Swasembada Nalar) #SmartFamily

**

Foto-fotonya nanti bertahap update ya.. hehe 

Saturday, July 18, 2026

Sentuhan IT untuk Pertanian dan Manifesto "Universitas Kehidupan" di KKN Pagerwangi Lembang

(Foto: Kelompok 26)

LEMBANG – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 26 Universitas Al-Ghifari (Unfari) Bandung resmi dimulai di Kampung Pasir Handap, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kehadiran para mahasiswa di salah satu RW paling aktif di Desa Pagerwangi ini disambut hangat oleh Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat.

Sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL 1), Ketua Program Studi Sistem Informasi Unfari, Komarudin Tasdik didampingi Bapak Husni Mubarok (DPL 2), hadir langsung memberikan arahan strategis yang mendobrak dogma mainstream dunia akademik. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa KKN bukan sekadar formalitas pemenuhan SKS, melainkan sebuah gerbang transisi menuju dunia nyata.

(Foto: Kelompok 26)


Berikut adalah 3 poin nalar kritis dan pesan mendalam yang disampaikan oleh Kaprodi Sistem Informasi Unfari untuk bekal pengabdian mahasiswa:

1. Kuliah di Universitas Kehidupan & Fakultas Pengalaman
Komarudin Tasdik mengingatkan para mahasiswa bahwa teori di ruang kelas kampus hanyalah sebagian kecil dari ilmu pengetahuan. "Di lokasi KKN inilah kalian sebenarnya sedang mendaftar di Universitas Kehidupan dan masuk ke Fakultas Pengalaman. Belajarlah langsung dari dinamika sosial, kearifan lokal, dan ketangguhan masyarakat Kampung Pasir Handap," ujarnya.

2. Nalar Konten Edukasi: Indonesia Tidak Boleh Diisi Bangsa yang Semuanya Joget!
Menyikapi era digitalisasi, mahasiswa ditantang untuk membantu menggali potensi desa melalui pembuatan konten kreatif yang edukatif. Beliau tidak menampik realitas algoritma media sosial saat ini, di mana konten edukasi mungkin hanya mendapatkan 10 penonton—jauh di bawah konten hiburan atau joget-joget yang viral.

Namun, Kaprodi SI Unfari ini menegaskan sebuah manifesto penting: "Kita harus menyadari dan idealis, tidak mungkin Indonesia masa depan diisi oleh bangsa yang semuanya hanya bisa joget-joget. Konten edukasi dan literasi harus tetap diproduksi demi menjaga akal sehat bangsa, dimulai dari mengangkat potensi Desa Pagerwangi."

3. Potensi Pertanian vs IT: IT Cukup Memberi Sentuhan, Bukan Menggusur Karakter Lokal
Di tengah tren dunia yang mengagung-agungkan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) secara membabi buta, Komarudin Tasdik memberikan sudut pandang yang sangat membumi. Menurutnya, Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang besar jika hanya mengekor pada Teknologi Informasi murni, karena sektor IT sudah lebih dulu lahir dan dikuasai oleh luar negeri.

"Indonesia memiliki modal alam dan keunggulan komparatif di bidang pertanian, maritim, dan potensi lokal lainnya. Oleh karena itu, Teknologi Informasi (IT) hadir bukan untuk menggusur itu semua, melainkan cukup memberikan 'sentuhan digital' agar sektor pertanian lokal, budaya Sunda, dan UMKM bisa bergerak lebih efisien, modern, dan naik kelas," jelas Komarudin.

Refleksi Akhir: Gerakan "Rumah Hijau" Melawan Kecanduan Gadget
Sebagai penutup, Kaprodi SI Unfari menitipkan harapan besar agar setelah pulang dari lokasi KKN, para mahasiswa mampu menginisiasi dan mengembangkan ruang atau "Rumah Hijau" di tempat tinggal masing-masing. Langkah ini diproyeksikan sebagai alternatif ruang pelarian positif bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam kecanduan HP (gadget) dan media sosial yang berlebihan.

Dengan semangat kolaborasi, mahasiswa Sistem Informasi Unfari siap bersinergi dengan warga RW aktif Kampung Pasir Handap untuk mewujudkan desa yang berdaya, mandiri, dan melek digital tanpa kehilangan identitas agrarisnya. (Katabah, 16 Juli 2026)
**

Dokumentasi Kehangatan Lokasi KKN

YouTube Katabah

TikTok Katabah

Thursday, July 9, 2026

Kuliah Nalar SI di Ruang 1x3 Meter: Menyulap Lantai 2 Menjadi "Katabah Green" yang Estetik


Selamat datang di kampus miniatur saya! Siapa bilang ruang kuliah harus selalu identik dengan ruang tertutup, kursi kaku, dan papan tulis yang menjemukan? Di Miniature Katabah University (MKU) Blok H10, saya percaya pada konsep "Universitas Kehidupan". Belajar bisa di mana saja dan kapan saja selama kita masih bernapas.

Kali ini, mari kita intip laboratorium botani mikro sekaligus ruang terbuka saya di lantai 2 yang berukuran 1x3 meter. Ruang yang sangat minimalis ini sedang saya sulap menjadi oase hijau bernama Katabah Green. Di sinilah ekosistem digital, teknologi Informasi Sistem (SI), dan kearifan lokal berpadu di bawah langit Sumedang.

Dua Pilar Hijau di Saung Katabah: LKY dan Nona Makan Sirih (NMS)

Untuk menghijaukan dinding tegak setinggi 6 meter di area belakang kompleks, pilihan saya jatuh pada kombinasi tanaman hias merambat yang cerdas dan ramah arsitektur:

  1. Lee Kuan Yew (LKY) / Vernonia elliptica: Tanaman ini bertugas sebagai tirai hijau alami. Sifatnya yang tumbuh menjuntai lurus ke bawah akan memberikan efek background depth of field yang mewah saat saya memproduksi konten edukasi di YouTube @katabahcom.

  2. Nona Makan Sirih (NMS) / Clerodendrum thomsoniae: Ini dia si primadona lokal yang sempat menjadi teka-teki! Berbeda dengan sirih gading, NMS merambat naik dengan cara melilitkan batangnya pada teralis kawat atau tali rami. Keunggulan utamanya? 100% AMAN untuk dinding rumah! NMS tidak memiliki akar angin yang merusak plesteran semen atau mengelupas cat dinding. Ketika mekar, perpaduan warna kelopak putih dan merahnya memancarkan estetika alam yang luar biasa.

Bagi Anda yang memiliki keterbatasan lahan di rumah perkotaan, mengombinasikan tanaman menjuntai seperti LKY dan tanaman hias merambat berbunga seperti NMS di area balkon atau dak lantai 2 adalah solusi terbaik untuk menciptakan taman vertikal minimalis yang asri.

Romantika Ba'da Magrib: Menyiram Kebun Mikro di Bawah Lampu Pijar

Aktivitas di ruang kuliah 1x3 meter ini tidak berhenti saat matahari terbenam. Sering kali, sepulang beraktivitas ba'da Magrib, momen merawat tanaman ini menjadi ritual Smart Family yang sangat berharga.

Untuk mendukung aktivitas malam hari, saya memasang lampu pijar. Keberadaan lampu luar ruangan ini sangat krusial agar proses menyiram bunga tidak lagi mengandalkan kilatan senter HP yang merepotkan.

Lebih dari sekadar fungsi penerangan, suasana malam di Katabah Green lantai 2 ini menghadirkan kontras visual yang sangat sinematik. Di dalam area saung, dedaunan LKY dan bunga NMS yang basah tampak berkilau keemasan diterpa cahaya lampu pijar. Sementara jika pandangan dialihkan ke kejauhan, lanskap malam Sumedang menyajikan hamparan city light berupa kerlip lampu rumah, pabrik, dan kantor yang tampak kecil menawan.

Belajar dari Universitas Kehidupan

Melalui ruang makro di lahan mikro ini, saya ingin menularkan nalar bahwa pendidikan sejati tidak dibatasi oleh sekat-sekat dinding semen. Mengajak anak mengamati pertumbuhan tanaman hias atau mengelola Lab Toren Lele di pagi hari adalah bagian dari metode pembelajaran motorik dan nalar yang jauh lebih sehat daripada membiarkan mereka terjebak dalam kecanduan layar HP.

Dari sudut 1x3 meter Katabah Room inilah, narasi Pusat Digitalisasi Nalar Sunda dan materi Sistem Informasi disiarkan secara global. Lahan boleh miniatur, tapi visi literasi harus tetap mandiri dan berdaulat!

Bagaimana dengan Anda? Tertarik untuk menyulap balkon lantai 2 rumah Anda menjadi taman merambat yang estetik dengan modal minimalis? Jangan ragu untuk memulai, karena setiap sudut rumah bisa menjadi ruang kelas terbaik kita. Gasskeuun!

"Pantau terus Kuliah Nalarnya di YouTube Katabah ya..."😇

 

Baca juga:

Miniature Katabah University: Solusi Kuliah Era Digital dan AI   

 

Monday, June 29, 2026

Potensi Smart Village Desa Pasirnanjung Cimanggung Sumedang: Katabah Sebagai Tempat Penelitian dan KKN Mahasiswa Era Digital

 


Desa Pasirnanjung dikenal memiliki wisata yang terus ditata, yakni Pasirnanjung Geulis. Namun saya hadir sebagai salah satu warga desa yang menata wisata nalar melalui Katabah Ecosystem yang memiliki media digital utama blog, YouTube, dan TikTok.

Katabah Sebagai Tempat Penelitian

Teman-teman yang hendak mencari tempat penelitian akar rumput, Katabah bisa jadi salah satu pertimbangan, baik untuk program studi Sistem Informasi, pendidikan, atau lainnya. Saya menggalakan Kuliah Nalar SI level S1 dan S2 serta Sekolah Rumah level TK.

 

Kuliah Nalar mnengajak mahasiswa untuk belajar dengan metode Kuliah by AI. Sementara itu, Sekolah Rumah Katabah mengajak orang tua memberikan alternatif kepada anak agar terhindar dari kecanduan HP

 

Katabah Sebagai Tempat KKN Mahasiswa


Apabila teman-teman tertarik melakukan KKN di desa Pasirnanjung, kecamatan Cimanggung, Sumedang, maka salah satu potensi desa yang bisa digali adalah Katabah. Walaupun masih kecil-kecilan karena dibuat sendirian, tapi jangkauannya saya targetkan mula Cisewu Garut, Jawa barat, nasional, bahkan sedang direncakanan untuk menjangkau internasional. Tentu saja, yang saya ekspos tetap potensi Sunda Cisewu dengan command center di Pasirnanjung. 

 

Gambar Potensi digital desa Pasirnanjung

 

Gambar Smart Village desa Pasirnanjung

 

Tuesday, March 10, 2026

Katabah Berbagi Nalar dan 3 Program Utama Ini Demi Pendidikan dan Kesejahteraan Sesama

 


Terima kasih banyak kepada teman-teman semua yang telah berkenan berkunjung ke blog Katabah ini. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala untuk kita semua. Aamiin..😊

Walaupun masih kecil-kecilan, program yang sedang berjalan saat ini mencakup:

1. Bantuan Pendidikan
2. Beasiswa (KIP Kuliah dan bantuan dari eksternal Katabah)
3.  Santunan Kurang Mampu.

 


 Blog Katabah ini tempat saya belajar menulis dan berbagi ilmu. Di samping materi Sistem Informasi, saat ini saya sedang memperkenalkan isi blog ini, antara lain 12 buku seri Prof. Ahda sebagai bagian dari karya tulis saya. 

Melalui buku-buku tersebut, saya berharap banyak generasi muda yang tercerahkan dan semakin semangat belajar sehingga suatu saat akan terwujud Indonesia lebih cerdas dan sejahtera lagi. Bagi saya, berbuat baik itu tidak perlu nunggu besar dulu, tapi lakukan yang bisa saat ini sekecil apapun.


 Di dunia offline, saya biasa membangun semangat kuliah antara lain bersama para mahasiswa di Universitas Al-Ghifari Bandung.

**

Baca juga kegiatan berbagi yang sempat saya dokumentasikan:

Karir dan Beasiswa SI 

12 Buku Gratis Seri Prof. Ahda: Penyemangat Kuliah dan Hidup  

Berbagi Jajan Bala-bala untuk pembaca Buku Manifesto Prof. Ahda

Putra-Putri Pendidikan Jawa Barat 2026

Putra-Putri Pendidikan Jawa Barat 2025

Gebyar MAN 4 Garut (MAN Cisewu) 2026 

 

Menjadi media partner mahasiswa SI HUT RI 2025 

Menjadi media partner Tim Futsal Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Al-Ghifari 2025 (TikTok)

 Penerima Doorprize Program Supertintensif IT: MAN 4 Garut 2024

Kegiatan lain belum terdokumentasikan dan yang sengaja tidak didokumentasikan untuk menjaga privacy.

 

** 

Pusat Digitalisasi Nalar Sunda Cisewu: Swasembada Berpikir di Era AI 

Baca selengkapnya

 

Swasembada Nalar Jabar




Buku-buku di atas merupakan salah satu bentuk rasa cinta saya untuk Jawa Barat. Sebagai Putra Cisewu Garut yang pernah sekolah di MAN Cisewu rasanya tak berlebihan jika saya kecil-kecilan ikut membangun Jabar tercinta mulai dari meneropong calon agen-agen nalar dari MAN Cisewu dan Prodi Sistem Informasi UNFARI.


Sunda Digital


Saya bukan tokoh ataupun ilmuwan Sunda tapi saya lahir, besar, dan sampai saat ini tinggal di tanah Sunda. Saya belum tahu banyak tentang literatur Sunda, tapi saya tidak kekurangan rasa pernah menikmati universitas kehidupan Sunda mulai dari lereng Gunung Gedogan Cisaninten Cisewu Garut.

Melalui buku inilah, saya persembahkan nalar sederhana ini untuk ikut menata masa depan Sunda. Bagi saya, kita tak cukup mengenang kejayaan Sunda masa lalu, tapi kita juga harus terus menata Sunda yang akan datang. Sunda digital adalah Sunda masa depan persembahan dari saya yang pernah kuliah di bidang Sistem Informasi. 

Mari kompak membangun Cisewu, membangun Sunda, membangun Jabar Istimewa.☺


 

Monday, February 2, 2026

Membangun Pesantren Digital dan Ekonomi Mandiri ala Dosen Bala-Bala: Bagian 4

Server di Atas Sawah: 

Membangun Pesantren Digital dan Ekonomi Mandiri ala Dosen Bala-Bala

 

[ BAB 1 - BUKU NO. 4]

Server di Atas Sawah: Mengapa Masa Depan Kita Ada di Desa?

Oleh: Komarudin Tasdik

Banyak anak muda sekarang yang kalau ditanya soal sukses, pikirannya langsung ke gedung-gedung kaca di Jakarta. Mereka pikir, keahlian IT itu hanya bisa tumbuh subur di tengah polusi dan kemacetan. Tapi bagi saya, Dosen Bala-Bala yang besar dari meja servis komputer, masa depan yang paling cerdas justru ada di antara hamparan sawah.

Inilah awal dari visi "Server di Atas Sawah".

1. Melawan Arus Urbanisasi Intelektual

Saya melihat sebuah fenomena sedih: banyak anak pintar dari desa pergi ke kota untuk belajar IT, lalu mereka tidak pernah kembali. Desa mereka tetap tertinggal, sementara mereka menjadi "sekrup" kecil di perusahaan besar.

Lewat buku ini, saya ingin bilang: "Bawa pulang laptopmu!" Kecepatan internet sekarang sudah merata. Kita bisa mengendalikan server dari teras rumah sambil melihat padi yang mulai menguning. Kita tidak perlu jadi "orang kota" untuk bisa menjangkau dunia.

2. Logika "Sawah" dalam Dunia Digital

Tahukah Anda? Mengelola blog dan server itu mirip sekali dengan bertani.

  • Menanam: Kita menulis konten dan melakukan optimasi SEO.

  • Memupuk: Kita konsisten update dan merawat komunitas pembaca.

  • Memanen: Kita menikmati iklan atau hasil kerjasama sebagai buah dari kesabaran.

Jika kita bisa sabar menunggu padi tumbuh selama 3-4 bulan, kenapa kita tidak bisa sabar membangun aset digital selama beberapa tahun?

3. Mimpi Pesantren Mandiri

Visi terbesar saya bukan sekadar punya banyak blog, tapi bagaimana hasil dari dunia digital ini bisa mendirikan Pesantren Digital. Tempat di mana anak-anak kampung belajar mengaji dengan khusyuk, tapi juga mahir mengetik kode (coding) dan fasih bahasa asing.

Saya ingin mereka menjadi generasi yang tangannya di atas—tangan yang bisa menciptakan lapangan kerja dari ujung jari mereka, tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran.


[HARAPAN ABAH]

Buku ini bukan sekadar panduan bisnis, tapi sebuah manifesto kemandirian. Saya ingin membuktikan bahwa dengan modal laptop butut dan koneksi internet, seorang anak desa bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Mau tahu bagaimana cara Abah menyatukan 'bau tanah' dengan 'bau server'? Simak terus Bagian 2!

— Abah Katabah

***


[BAB 2 - BUKU NO. 4]

Algoritma Cangkul: Saat Coding Bertemu Agrobisnis

Oleh: Komarudin Tasdik

Banyak yang tertawa saat saya bilang mengelola kebun atau sawah itu mirip dengan mengelola database. Mereka pikir IT itu hanya soal kabel dan monitor. Padahal, bagi saya, bertani adalah pemrograman di dunia nyata.

Kalau di depan laptop saya bicara tentang Input-Process-Output, maka di sawah saya bicara tentang Benih-Pupuk-Panen. Logikanya persis!

1. "Debugging" di Atas Tanah

Dalam dunia koding, kalau ada satu baris kode yang salah, seluruh program bisa error. Begitu juga di sawah. Kalau airnya terlalu banyak atau pupuknya salah waktu, tanaman akan "lagging" alias kerdil.

Sebagai orang IT, saya belajar ketelitian dari mesin. Ketelitian itulah yang saya bawa ke desa. Kita tidak bisa bertani hanya pakai perasaan "kira-kira". Kita butuh data: kapan waktu terbaik menanam, berapa pH tanahnya, dan bagaimana fluktuasi harga pasar. Inilah yang saya sebut Agrobisnis berbasis Data.

2. Menghapus Virus "Minder" Anak Desa

Masalah terbesar di desa bukan kurangnya lahan, tapi adanya "virus" minder. Anak muda desa merasa kalau belum kerja di kantor ber-AC, mereka belum sukses.

Lewat filosofi Server di Atas Sawah, saya ingin menginstal "antivirus" di otak mereka. Saya tunjukkan bahwa dengan laptop di tangan dan cangkul di sampingnya, mereka bisa jadi Technopreneur. Mereka bisa menjual hasil buminya lewat blog atau media sosial ke seluruh Indonesia, bahkan dunia, tanpa melalui tengkulak yang mencekik.

3. Kemandirian Ekonomi dari Teras Rumah

Visi saya sederhana: Saya ingin melihat setiap rumah di desa punya satu unit "Server kecil" (bisa blog atau toko online). Paginya mereka ke sawah mencari keringat, siangnya mereka di depan laptop memantau bisnis digital mereka.

Inilah kemandirian sejati. Kita punya ketahanan pangan (dari sawah) dan kita punya ketahanan finansial (dari internet). Jika keduanya digabung, tidak akan ada lagi cerita anak desa yang terpaksa jadi kuli di kota orang hanya untuk menyambung hidup.


[REFLEKSI ABAH]

Teknologi jangan menjauhkanmu dari tanah kelahiran. Justru teknologi harusnya membuatmu mampu mengolah tanahmu dengan lebih cerdas. Jangan cuma bangga jadi pengguna aplikasi buatan orang, mulailah jadi 'arsitek' untuk desamu sendiri.

Penasaran bagaimana cara Abah mulai 'menanam' aset digital sambil tetap membumi? Simak di Bagian 3 ya!

— Abah Katabah


***


[BAB 3 - BUKU NO. 4]

Pesantren Digital: Menghafal Qur'an Sambil Ngoprek Python

Oleh: Abah Katabah

Banyak orang yang memandang dunia agama dan dunia teknologi itu seperti minyak dan air; tidak bisa bersatu. Katanya, kalau sudah belajar agama, jangan terlalu sibuk urus dunia (teknologi). Atau kalau sudah pinter koding, biasanya lupa mengaji.

Bagi saya, itu pemikiran yang harus segera kita "Reformat".

Di bawah bendera Server di Atas Sawah, mimpi besar saya adalah membangun sebuah Pesantren Digital. Tempat di mana gema hafalan Al-Qur'an bersahutan dengan bunyi ketikan keyboard di ruang lab komputer.

1. Santri yang "Full Stack" (Dunia-Akhirat)

Saya ingin mencetak generasi santri yang bukan hanya mahir kitab kuning, tapi juga mahir bahasa pemrograman seperti Python, PHP, atau JavaScript. Mengapa? Agar kelak saat mereka terjun ke masyarakat, mereka tidak hanya bisa ceramah, tapi juga bisa membangun sistem untuk membantu umat.

Bayangkan seorang kyai muda yang bisa membuat aplikasi manajemen zakat sendiri, atau ustadz yang berdakwah lewat blog internasional yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Inilah yang saya sebut Kemandirian Dakwah.

2. Melawan Tangan di Bawah

Selama ini, banyak lembaga pendidikan yang bergantung sepenuhnya pada donasi. Lewat Pesantren Digital ini, saya ingin mengajarkan para santri untuk menjadi Technopreneur.

Hasil dari unit bisnis digital (seperti jaringan blog Katabah atau jasa IT) itulah yang akan membiayai makan dan operasional pesantren. Kita ingin santri yang mandiri, yang tangannya di atas karena mereka punya skill yang dibutuhkan dunia. Mereka tidak mencari beasiswa, tapi merekalah yang nantinya memberi beasiswa.

3. Literasi adalah Ibadah

Di mata saya, merapikan baris kode atau menerjemahkan artikel bermanfaat itu adalah bentuk ibadah. Jika dengan satu aplikasi atau satu tulisan kita bisa membantu memudahkan urusan ribuan orang, bukankah itu amal jariyah yang luar biasa?

Pesantren Digital adalah tempat di mana kita belajar bahwa teknologi hanyalah alat, tapi tujuannya tetap satu: Mencari ridho Ilahi melalui kebermanfaatan bagi sesama manusia.


[PESAN ABAH DARI TERAS SAUNG]

Jangan biarkan anak-anak kita hanya jadi konsumen konten yang tidak jelas. Mari kita bekali mereka dengan 'senjata' masa depan: Iman yang kokoh dan Skill IT yang mumpuni. Dari sawah ini, kita siapkan santri-santri yang akan mengguncang dunia lewat kode dan doa.

Mau tahu bagaimana cara Abah mengelola blog agar bisa jadi batu bata pertama pesantren ini? Tunggu di Bagian 4!

— Abah Katabah

***


[BAB 4 - BUKU NO. 4]

Cuan Berkah: Mengubah Blog Menjadi Batu Bata Pesantren

Oleh: Komarudin Tasdik

Dalam dunia bisnis digital, orang sering bicara tentang Passive Income untuk foya-foya atau pamer kemewahan. Tapi bagi saya, setiap Dollar yang mampir dari iklan di blog atau hasil menulis di luar negeri, punya misi suci.

Saya tidak ingin cuan itu berhenti di rekening bank saja. Saya ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa disentuh, ditempati, dan bermanfaat: Batu bata untuk Pesantren Digital.

1. Monetisasi untuk Misi, Bukan Sekadar Gengsi

Banyak yang bertanya, "Bah, kenapa di blog Katabah banyak iklannya?" Jawabannya jujur saja: Itulah cara saya "menambang" biaya operasional untuk mimpi besar kita.

Setiap kali Anda membaca artikel di Katabah, atau mengklik tutorial yang saya buat, Anda sebenarnya sedang membantu saya membeli semen, pasir, dan batu bata untuk membangun sarana belajar anak-anak di desa. Saya memperlakukan blog sebagai investasi akhirat.

2. Transparansi "Dosen Bala-Bala"

Saya ingin mengajarkan kepada mahasiswa dan santri saya bahwa mencari uang di internet itu harus transparan dan berkah. Kita tidak perlu ikut-ikutan investasi bodong atau judi online untuk cepat kaya.

Cukuplah dengan tekun menulis, telaten mengelola jurnal (OJS), dan sabar membangun aset digital. Uang yang datang sedikit demi sedikit, jika dikelola dengan manajemen yang benar, bisa membangun sebuah gedung yang megah. Inilah yang saya sebut Ekonomi Berkelanjutan ala Katabah.

3. Membangun "Server" di Dunia Nyata

Mimpi saya adalah, di lokasi pesantren nanti, akan ada satu ruangan khusus yang dingin dan penuh kabel. Itulah Server Center kita. Di sana, data-data ilmu pengetahuan disimpan.

Tapi di luar ruangan itu, ada masjid tempat sujud dan ada kebun tempat santri belajar menanam padi. Inilah keseimbangan. Uang digital (cuan) kita tarik ke dunia nyata untuk membangun peradaban yang berakar pada tanah (sawah) dan menjulang ke langit (teknologi).


[HARAPAN ABAH]

Jangan pernah malu mencari cuan di internet, asal caranya halal dan tujuannya mulia. Mari kita buktikan bahwa dari hasil mengetik di depan laptop, kita bisa membangun rumah Allah dan tempat belajar bagi anak-anak bangsa.

Sampai di sini, apakah Anda siap ikut dalam perjalanan 'Server di Atas Sawah' ini? Simak penutupnya di Bagian 5!

— Abah Katabah


***


[BAGIAN 5 - FINALE]

Warisan di Atas Tanah dan Udara: Menanam Hari Ini, Memanen di Akhirat

Oleh: Komarudin Tasdik

Kita sudah sampai di ujung obrolan tentang "Server di Atas Sawah". Kita sudah bicara tentang memulangkan laptop ke desa, menyatukan koding dengan cangkul, hingga mimpi membangun pesantren dari hasil keringat digital.

Mungkin ada yang membatin, "Bah, emang keburu semua mimpi itu terwujud? Usia kita kan terbatas."

Jawabannya: Justru karena usia kita terbatas, kita harus membangun sesuatu yang tidak terbatas.

1. Menanam "Server" yang Tak Pernah Padam

Di dunia IT, kita mengenal uptime—durasi server menyala tanpa henti. Saya ingin amal kita punya uptime 100%, bahkan setelah kita sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Tulisan di blog yang terus dibaca, sistem OJS yang membantu ribuan dosen, serta ilmu bahasa yang dipelajari santri di pesantren kelak—itu semua adalah "Server" yang akan terus menyala mengirimkan kiriman pahala untuk kita. Kita menanam di atas tanah (pesantren), tapi hasilnya kita simpan di "Cloud" milik Allah SWT.

2. Kedaulatan Desa adalah Harga Mati

Lewat seri ini, saya ingin berpesan pada kawan-kawan semua: Cintai desamu, kuasai teknologinya. Jangan biarkan kekayaan desa kita (baik alam maupun manusianya) habis dikuras hanya karena kita gagap teknologi.

Jadilah generasi yang mandiri. Jadilah Technopreneur yang tetap membumi. Ingat, puncak tertinggi dari ilmu pengetahuan bukan saat kita bisa membuat robot yang terbang ke luar angkasa, tapi saat kita bisa membuat teknologi yang menyejahterakan orang-orang di sekitar kita.

3. Perjalanan Masih Panjang

Pesantren Digital belum berdiri sempurna, blog Katabah masih terus berbenah, dan sawah-sawah kita masih butuh sentuhan inovasi. Saya, Abah Katabah, hanyalah seorang Dosen Bala-Bala yang punya mimpi besar. Saya tidak bisa jalan sendiri.

Saya mengajak Anda semua—para pencinta literasi, pejuang IT, dan pemburu keberkahan—untuk terus konsisten berkarya. Mari kita jadikan setiap ketikan keyboard kita sebagai saksi bahwa kita pernah berjuang untuk kemandirian bangsa.


[PENUTUP SERI BUKU NO. 4]

Terima kasih sudah menemani perjalanan imajiner dan nyata ini. Dari pinggir sawah ini, Abah kirimkan doa untuk kalian semua. Tetaplah mengetik, tetaplah menanam, dan tetaplah menjadi manusia yang bermanfaat.

Sampai jumpa di karya-karya Abah selanjutnya. Salam Literasi, Salam Technopreneur!

— Abah Katabah