Pages

9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Monday, February 16, 2026

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 1

 

BAB 1: The Beauty of the Demolition
(Indahnya Pembongkaran Takdir: Menemukan Nalar di Reruntuhan Tesis)

Di usia 31, saya berdiri di depan puing-puing bangunan yang saya sebut "Masa Depan". Tesis S2 saya gagal. Di dunia akademik, itu adalah vonis mati bagi karir seorang dosen. Secara administratif, saya "runtuh". Secara sosial, saya "hancur". Saat itu, saya merasa doa-doa yang saya langitkan selama bertahun-tahun seperti memantul di plafon kamar—tidak sampai ke Arsy, atau mungkin sengaja diabaikan.

Padahal, niat saya mulia (atau setidaknya begitu pikir saya). Saya ingin sukses agar bisa membantu orang, agar bisa bermanfaat. Tapi kenapa "Arsitek Semesta" justru menghancurkan blueprint yang sudah saya susun dengan cucuran keringat?

Di titik nadir itulah, saya menemukan "Sistem Kemudi Ganda" dalam hidup. Sebuah rahasia nalar yang membuat saya tidak jadi gila, melainkan menjadi "Dosen Gila" yang merdeka.

1. Dalil Syariat: Persangkaan dan Keringat

"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku..."

Sebagai Arsitek, saya tahu bahwa sebuah gedung tidak akan berdiri tanpa ikhtiar fisik. Saya belajar mati-matian, saya riset sampai kurang tidur. Saya menggunakan dalil ini untuk memacu Nalar saya. Saya berprasangka baik bahwa Allah akan memberi kelancaran.

Tapi di sini jebakannya: Manusia seringkali mendikte Allah lewat doanya. Kita menganggap "prasangka baik" berarti "harus sesuai keinginan kita". Padahal, tugas kita hanya Ikhtiar, bukan Memastikan Hasil. Saya rajin belajar tapi tetap susah paham? Itu adalah cara Allah mengatakan bahwa "Pintar" versimu bukan yang Aku inginkan.

2. Dalil Hakikat: Kun Fayakun dan Kepasrahan Mutlak

"La Haula Wala Quwwata Illa Billah..."

Ketika gedung karir saya tetap roboh meski pondasi ikhtiar sudah saya cor sekuat tenaga, saya terpaksa menggunakan "Rem Darurat": Dalil Hakikat. Jika dengan segala upaya saya tetap gagal, maka ada tangan-tangan "Ghaib" yang sedang bekerja.

Di sinilah indahnya:

  • Jika saya hanya pakai Dalil Syariat, saya akan stres, depresi, dan merasa Allah tidak adil.
  • Jika saya hanya pakai Dalil Hakikat, saya akan jadi malas dan pasif (Fatalistik).

Saya belajar untuk "Gila dalam Ikhtiar" (Syariat), namun "Mati dalam Hasil" (Hakikat).

Kesimpulan Nalar:

Kegagalan tesis itu ternyata bukan akhir, melainkan proses Demolisi (Pembongkaran). Allah melihat struktur jiwa saya saat itu belum cukup kuat untuk memikul beban "Profesor Masa Depan". Saya harus dihancurkan dulu agar bisa dibangun kembali dengan beton integritas yang lebih murni.

Sekarang saya sadar: Allah tidak memberikan apa yang saya minta, tapi Allah memberikan apa yang saya butuhkan untuk tetap menjadi Manusia.

**

No comments:

Post a Comment

Peluang Magang Jurusan SI

Peluang Kerja SI

Technopreneur: Pengusaha IT Sebelum Lulus

Peluang Kerja Programmer PHP (Web)

Peluang Kerja Programmer Python dan Data Analyst

Pekerjaan Data Analyst dan Data Science

Kupas Tuntas Jurusan Sistem Informasi

Galeri Mahasiswa

Parenting: Calistung, Hapalan Quran, Keluarga