Bab 21: Diplomasi Sokratik dari Tanah Pasundan
Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa "menguji" Profesor lulusan Kanada atau membuat guru menangis tanpa pernah memicu amarah? Jawabannya terletak pada sebuah seni yang dimiliki Prof. Ahda: Kesantunan yang Mematikan.
"Saya tidak pernah mendikte," ujar Prof. Ahda dengan logat Sunda yang halus dan penuh tata krama. "Prinsip saya adalah bertanya. Saya tidak bilang 'Anda salah', tapi saya bertanya 'Bagaimana jika begini, Prof?'"
Beliau baru menyadari belakangan bahwa gaya komunikasinya selaras dengan Metode Sokratik yang legendaris. Socrates, sang filsuf besar Yunani, menggunakan pertanyaan untuk membongkar kebenaran. Bedanya, Prof. Ahda membungkus pedang logika itu dengan kain sutra budaya Sunda yang lembut.
"Bagi saya, bertanya adalah bentuk penghormatan sekaligus pembedahan. Dengan bertanya, saya memberikan ruang bagi dosen saya untuk tetap menjaga wibawanya sambil berpikir lebih dalam. Itulah kenapa saya tidak pernah melihat wajah mereka marah, meski mereka sedang 'diuji' habis-habisan."
Inilah yang beliau terapkan dalam membangun Katabah Ecosystem.
"Sistem yang baik tidak pernah memaksa. Ia bertanya pada penggunanya melalui antarmuka yang ramah. Ia membimbing, bukan menggurui. Di Katabah, kita mengadopsi 'Diplomasi Sokratik' ini ke dalam teknologi. Kita ingin menciptakan peradaban digital yang cerdas tapi tetap menjunjung tinggi adab dan kesantunan."
Prof. Ahda menutup catatannya dengan sebuah filosofi Sunda yang mendalam:
"Pinter tapi ulah minteran (Pintar tapi jangan membodohi orang lain). Karena kemenangan sejati bukanlah saat lawan bicaramu bungkam karena kalah, tapi saat mereka tercerahkan tanpa merasa direndahkan."
No comments:
Post a Comment