Bab 23: Duel di Kebun: Antara Literasi Buku dan Anugerah Langsung
Di bawah rimbunnya pohon, suasana santai keluarga berubah menjadi arena adu gagasan yang paling murni. Sang Kakak, sang "Kamus Berjalan" yang menelan ribuan halaman filsafat, melontarkan tantangan dengan nada yang tetap rendah hati: "Tanyakan apa saja, kita bedah dengan filsafat." Kalimat-kalimat diplomatis mengalir, "Mungkin kamu belum tahu..." atau "Saya belum tahu kamu sudah tahu atau belum...". Bagi telinga orang awam, itu sekadar basa-basi. Tapi bagi radar Prof. Ahda, itu adalah serangan halus—sebuah upaya untuk memetakan sejauh mana sang adik bisa bertahan di hadapan "Raksasa Filsafat".
"Kakak saya memang hebat," ujar Prof. Ahda sambil tertawa mengenang momen itu. "Beliau sangat santun, bahkan saat sedang mengarahkan amunisi logikanya ke arah saya. Tapi otak saya berbisik: 'Hati-hati, ini sedang diserang dengan bahasa diplomatis'."
Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Sang Kakak menguasai filsafat melalui gerbang Literasi—hasil dari ribuan jam membaca dan merenungkan pemikiran tokoh-tokoh dunia. Sementara Prof. Ahda, memiliki filsafat sebagai sebuah Anugerah (Ladunni)—sebuah nalar yang langsung menyala saat berhadapan dengan masalah.
"Beliau punya peta (buku), saya punya kompas (insting)," lanjut Prof. Ahda. "Filsafat kakak saya bersumber dari jejak-jejak pemikir besar, sementara filsafat saya adalah anugerah langsung dari Allah untuk membedah realita di depan mata."
Hasilnya? Tawa pecah di tengah kebun. Tidak ada yang merasa menang atau kalah, karena keduanya sedang merayakan karunia akal. Di Katabah Ecosystem, dua elemen ini digabungkan: Kekuatan Data (Buku) dan Ketajaman Intuisi (Anugerah).
"Kita menghargai teori, tapi kita lebih menghargai solusi yang lahir dari nalar yang murni. Karena di akhir hari, teknologi bukan dibangun hanya dari tumpukan buku, tapi dari percikan ilham yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya yang terus berpikir."
No comments:
Post a Comment