Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Saturday, April 11, 2015

Anak Jokowi Puji Makanan Haram, Hina Makanan Halal?

Penasaran dengan situs-situs yang pernah diblokir KemKominfo baru-baru ini, saya mencoba membaca beberapa artikelnya.

Kali ini, saya membaca tentang “Miris Baca Berita Anak Jokowi Puji Habis-habisan Makanan Haram” di salam-online.com karya Salim Syarief MD.

Inti ceritanya begini:

Putra Jokowi yang bernama Kaesang Pangarep bercerita di blognya Misterkacang.blogspot.com bahwa ia pernah memakan daging yang enak sekali. “Ini daging yang paling enak yang pernah gue coba,” kata Kaesang.

Namun setelah itu, ia tahu dari pedagangnya bahwa daging tersebut daging babi. Kaesang pun menyesal dan ingin bertaubat mencari mesjid.

Kemudian Kaesang membeli daging kambing. Ternyata rasanya tidak enak. “Tampilan luar sih kelihatan enak banget. Namun, setelah dicoba, alamak, rasanya enggak karu-karuan. Ternyata rasanya tu ga enak banget. Kaya makan arang yang dikasih kuah jengkol busuk. Rugi dah gue,” katanya.

Apa pendapat sang penulis artikel (Salim Syarief MD)?
Ternyata Salim merasa miris dan menilai bahwa Putra Jokowi telah melecehkan daging kambing yang notabene makanan halal kesukaan Rasulullah saw.

Sampai-sampa Salim menulis: “Entah memang tidak pernah mendapat pendidikan Islam di bidang moral dan etika, dengan gamblang ia memuji habis-habisan kenikmatan daging haram.”

Nah, giliran saya berpendapat di sini. He…he…
Kenapa Mas Salim sampai sewot begitu ya..? Sampai-sampai menilai Kaesang menghina makanan halal. Padahal dari kutipan di atas tidak ada yang menunjukkan Kaesang menghina makanan halalnya, tapi daging kambingnya tidak enak.

Tidak enak bukan berarti karena makanan halal atau kalah dengan daging babi, tapi bisa jadi:
1. Cara memasak pedagang daging kambing di Singapura tidak sama dengan selera Kaesang.
2. Singapura bukan mayoritas Muslim, sehingga boleh jadi para pedagang di sana lebih terlatih mengolah daging babi daripada daging kambing.
3. Atau memang benar adanya rasa daging babi lebih enak dari daging kambing untuk lidah Kaesang. Lidah manusia kan berbeda-beda?

Menurut saya, syah-syah saja Kaesang menilai daging babi lebih enak dari daging kambing. Yang tidak boleh itu, Kaesang sebagai seorang Muslim ingin makan daging babi lagi!!! Hi..hi..

Bagaimana pendapat teman-teman?

*

Salam jabat erat buat penulisnya, Mas Salim Syarief MD.… J

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...

1 comment:

  1. wah kalau muslim kemasukan daging babi....alamat di akheratnya gimana gitu....cepat tobat saja...!! (semoga diterima)

    ReplyDelete