Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Friday, October 16, 2015

Kenapa English Day di Kampus Tidak Efektif?

Hello Katabah!
Suatu pagi, saya bertemu seorang dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta. Kami ngobrol sedikit. Beliau berkata bahwa English Day di kampusnya belum efektif?

English Day merupakan program sehari berbahasa Inggris yang diterapkan di suatu kampus atau sekolah. English Day biasanya agak sering terdengar cukup berhasil diterapkan di pesantren-pesantren.

Saya berusaha menduga apa saja yang mungkin menjadi kendala untuk program?


1. Tidak sedikit mahasiswa yang tidak suka bahasa Inggris karena terasa sulit

2. Pihak kampus kurang aktif mensukseskannya, misal: para staf atau dosen tetap masih enggan berbahasa Inggris

3. Tidak ada reward (hadiah) untuk mahasiswa paling bagus dan punishment (sanksi) bagi yang berbicara selain bahasa Inggris, misal: menghapal 5 vocabs bagi yang melanggar

4. Para dosen kurang memotivasi mahasiswanya untuk aktif dalam English Day

5. Tim English Day (Dosen dan Tim) kurang kreatif dan kurang keberanian melakukan terobosan-terobosan yang mungkin masih dianggap aneh:
Misal:
a. Ajaklah mahasiswa (termasuk dosen) untuk berbahasa Inggris menggunakan kamus saku!
b. Ajaklah mahasiswa (termasuk dosen) untuk berbahasa Inggris walaupun salah grammar!
c. Ajaklah mahasiswa (termasuk dosen) untuk berbahasa Inggris walaupun salah pengucapan, misal: “good” dibaca “good” (bukan “gud”), “fine” dibaca “fine” (bukan “fain”), dll.

Saya berpendapat bahwa yang paling penting saat ini adalah mahasiswa harus berani dulu berbahasa Inggris walaupun salah. Nanti, pada saat masuk mata kuliah bahasa Inggris biarkan dosen bahasa Inggris yang mengoreksinya.

Pendapat ini muncul setelah sedikit mengamati kegagalan para siswa dalam mengarang menggunakan bahasa Indonesia. Yang saya rasakan, ketika belajar bahasa Indonesia itu terlalu sibuk dijejali teori, mulai dari tata bahasa hingga sastra. Tapi….prakteknya hampir nol besaaar….!

Silahkan saja kita ingat, berapa kali membuat puisi di kelas? Berapa kali membuat cerpen di kelas pada saat pelajaran bahasa Indonesia? Berapa sering membuat makalah atau laporan penelitian? Hiks…hiks…

Saya juga cukup yakin bahwa saat ini masih banyak sekolah yang senasib dengan sekolah saya dulu…Terlalu banyak teori. Wong, Ujian Nasional bahasa Indonesianya juga Pilihan Ganda. He..he..

Ingin lebih jelas lagi buktinya bahwa pelajaran bahasa Indonesia atau Inggris terlalu banyak teori?

Coba ingat! Berapa banyak guru yang memberikan nilai plus untuk para siswa yang hobi ngeblog? Kayaknya, masih jarang tuh…! 

Artikel Terkait:

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...

No comments:

Post a Comment