Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Saturday, May 21, 2016

Gadis Biru Stasiun Padalarang Oh….



Hello Katabah!
Cerita ini diangkat dari kisah perjalananku saat menggunakan kereta api dari Padalarang. Semua isi tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, tidak pula membuat para pembaca berjenis kelamin wanita cantik cemburu. Ceritanya sengaja sedikit dibuat agak dramatis sebagai tanda pengalaman pertama beli tiket kereta api sendiri. Pembukaan ini saya nyontek sedikit dari sebuah televisi swasta yang menayangkan film India. He..he..


Naik kereta api termasuk barang langka bagiku. Ada perasaan takut lupa turun saat tiba di stasiun tujuan hingga tidak bisa bilang “kiri” seperti biasa pada kondektur bis atau angkot.

Walaupun banyak orang menyarankan naik Kereta Api (KA) dengan alasan lebih murah dari bis, tapi aku tak peduli karena takut tempat tujuan terlewat.

Namun, kemarin situasi berbeda. Kakak minta ditemani naik KA menjenguk ua yang anaknya baru saja meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Dengan pengalaman naik KA, kakak ingin mengajak ibu jalan-jalan naik kereta juga di kemudian hari.

Dengan tidak yakin, saya terpaksa tanya sini - tanya sana sebelum membeli tiket. Tiba di stasiun, tiket pun sudah di tangan.

Keberangkatan tidak ada cerita menarik. Tapi ketika pulanglah yang sangat berkesan.

Menjelang pukul 4 sore, aku tiba di stasiun Padalarang. “Maaf Bu, beli tiket ke Bandung!”

“Sudah habis, Mas,” kata seorang petugas tiket.

Aku menuju ruang tunggu antrian untuk menunggu tiket keberangkatan pukul 5 sore. Namanya pemula, aku membaca-baca tulisan yang terpampang di sekeliling ruangan.

Mataku tertuju lagi ke Mbak petugas tiket. “Ya Tuhan, ia cantik sekali dan masih muda lagi.”

Antrian pembelian tiket pun telah dibuka. Aku mengantri di urutan dua, tepat di belakang ibu muda cantik berkerudung dan berbatik rapi. Tapi maaf…tidak secantik petugas loket tiket. Hmm…

“Beli tiket ke Bandung, Bu.” Aku serahkan uangnya sambil sedikit menatap wajahnya yang imut. “Ini kesempatan melihat dari dekat lho…!” bisik hatiku.

Tiket sudah ada. Aku mengantri di ruang tunggu kereta sambil berbincang-bincang bersama kakak tercinta. Kereta datang, kami pun naik.

Tak lama kemudian, kereta pun siap berangkat. Tampaknya para penumpang sudah masuk semua. Tapi….pintu kereta yang tinggal terbuka sedikit, tiba-tiba ada yang membuka lagi. Siapa dia….?

“Ya Tuhan, seorang gadis cantik berpakaian rapi warna biru naik dan segera duduk di kursi dekat pintu kereta.”

“Dia adalah bidadari petugas loket tiket tadi…. OMG….!!!”

Ia berdiri dan memanggil-manggil petugas lain yang sedang bertugas tanpa mempedulikan kalau ia sedang membelakangiku yang duduk berhadap-hadapan sedang terperangah terpana tubuh yang langsing laksana selebritis berpinggang biola.

Kereta pun berangkat. “Gujes..gujes…gujes….”

Awalnya, aku tak ingin memandang perawan nan rupawan itu. Tapi para penumpang di sekelilingnya hampir semua melirik ke gadis itu. Tidak hanya laki-laki, para perempuan juga. Ternyata, ia sangat menarik bagi semua orang, termasuk para perempuan. “Apalagi aku…!”

Yang lain sudah kembali ke posisi semula, ada yang membaca, ada yang buka gadget dan ada yang bersiap untuk tidur. Tapi ada seorang Bapak yang duduk di samping bidadari tadi masih juga menatap dari jarak sekitar 5 penumpang di samping kanannya. “Duh Bapak-bapak, jangan ditatap terus….! Itu kan bagian anak muda dong…!” hatiku jealous.

Kereta sudah cukup lama berjalan. Si Bapak sudah tidak melirik lagi calon pujaan hatiku. Kini aku yang memberanikan diri memandang ke arahnya. Bibir kecilnya pun tersenyum manis dengan pipi kemerah-merahan. “Malu-malu kali….”

Matanya yang indah balik menatap menembus mataku hingga menusuk jantung. Dag-dig-dug, hatiku ini nyaris tak mampu membendung sorotan bola mata berbulu sedikit lentik.

Melihat ada beberapa kursi di sampingnya yang masih kosong, aku pun melirik ke kursi kosong itu. Ia pun ikut melirik kursi kosong dan kembali memanahkan sinar matanya ke dadaku.

Sesaat ia membuka gadget-nya, aku memberanikan diri menghampirinya.

“Maaf Mbak, boleh menggangu sebentar?”
“Silahkan, ada apa ya Mas?”

Kami pun sedikit berkenalan sambil sesekali saling curi pandang.

“Maaf Mbak, boleh ambil fotonya buat kenang-kenangan dan pajangan di blogku tercinta.”

“Oh, Mas ini blogger juga ya…?”

“Ya, blogger pemula, Mbak.”

“Boleh, nanti aku jadi pengunjung barunya ya Mas.”

Kereta berhenti. Tandanya, sang bidadariku harus turun lebih dulu. “Ya Tuhan, kenapa waktu ini terlalu cepat berlalu?”

“Tapi tidak apalah, fotonya sudah ada di HP-ku dan senyuman manisnya sudah ku simpan rapat di dalam hatiku.”

“Kalau begitu, aku harus segera naik kereta menuju Padalarang lagi. Bukan untuk menengok siapa-siapa, tapi hanya untuk berjumpa si dia.” Oh pujaan hatiku…!

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...