Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Sunday, June 5, 2016

Cerita Mistis Cisewu Garut Selatan 3 Gunung Nyambung



Hello Katabah!
Nama-nama gunung yang ada di Cisewu Garut Selatan kadang-kadang membuat saya sewaktu kecil bertanya-tanya: “Kenapa namanya unik-unik ya…?”


Yang diceritakan pada artikel ini adalah tentang 3 gunung yang memiliki nama unik dan katanya ada keterkaitan cerita mistisnya, yaitu:
1. Gunung Rancatan
2. Gunung Saparantu
3. Gunung Tumpeng

Gunung Rancatan dan Saparantu ada di Kiaragoong. Jaraknya relatif dekat dari terminal Cisewu. Karen banyak teman SD saya dari Kiaragoong, jadi saya suka nanya-nanya kenapa namanya begitu?

Untuk yang bukan orang Sunda, ini arti dari nama ketiga gunung di tas:
1. Rancatan yaitu kayu atau bambu seperti tongkat Pramuka yang digunakan untuk  memikul (nanggung) barang. Tengah-tengah tongkat itu di pundak.

2. Saparantu: Saya juga lupa lagi artinya tuh. Hmmm..

3. Tumpeng: Nasi kuning yang dibuat menggunakan aseupan sehingga bentuknya seperti gunung. Ini mah sudah sangat terkenal di seantero Indonesia karena menjelang perayaan Muludan atau Rajaban (Kelahiran Nabi saw dan Isra Mi’raj) sudah banyak orang yang membuatnya.

Kembali ke cerita mistis berantai ketiga gunung itu.
Orang-orang jaman dulu ada yang mengadakan pesta besar-besaran. Mereka membawa tumpeng dan makanan selengkapnya dengan ditanggung menggunakan rancatan.

Tiba di Kiaragoong, berhentilah di Gunung Saparantu. Mulailah pesta besar-besaran. Suara gong terdengar di pohon-pohon kiara yang ada di sekitar gunung tersebut.

Keasikan pesta, mereka kelelahan. Maka dilemparkanlah tumpeng-tumpeng yang mereka bawa sekuat tenaga. Nasi tumpeng terbang tinggi nun jauh di sana. Maka jatuhlah di Cikarang. Jadilah Gunung Tumpeng.

Sementara itu, rancatannya dilemparkan di kampung Kiaragoong. Maka jadilah Gunung Rancatan.

Begitu ceritanya….ha…ha….
Sejujurnya saya banyak yang lupa lagi nih tentang cerita ini. Jika ingin cerita lebih serunya, silahkan tanya langsung ke para orangtua yang ada di Kiaragoong. Sampaikan maaf saya jika cerita ini banyak yang salah, tapi ini yang ingat, maka ini yang saya tulis. Hiks…hiks…
**
Aduuuh, sudah salam penutup, saya ingat ada gunung yang terlewat, yaitu Gunung Aseupan dan Gunung Seeng.

Nah, membuat Tumpeng itu biasanya menggunakan Aseupan, yakni tempat menanak nasi terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan seeng adalah panci tinggi tempat aseupan ditaruh di atas tungku.

Nah, di persiapan pesta itu kan masak tumpeng dulu ya… Masaknya menggunakan aseupan dan seeng, maka aseupannya jadilah Gunung Aseupan. Sedangkan seengnya sekarang jadi Gunung Seeng.

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...