Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Friday, June 17, 2016

Mendidik Anak Puasa Ramadhan



Hello Katabah!
Jangan salah memberi kasih sayang kepada anak! Karena sayang, kita membelikan apapun untuk anak. Karena cinta, kita tidak tega mengajak anak untuk ikut berpuasa. Akibatnya, generasi muda saat ini tidak jauh lebih bagus dari generasi orangtua Abah dulu yang belum mengenal buku catatan, bahkan kadang-kadang terasa lebih amburadul. Ini mengerikan…!


Seorang ibu yang tidak lulus SD mampu mendidik anaknya dengan baik. Beliau berhasil mengendalikan anak-anaknya untuk tidak banyak jajan. Bahkan seringkali, uang jajannya ditabung untuk membeli buku favorit sang anak.

Begitu pula saat Ramadhan tiba. Sang ibu dan ayah mengajak anak-anaknya berpuasa, termasuk yang belum masuk Sekolah Dasar (SD). Tahapan puasa pun diberlakukan sesuai umur.

Anak yang belum masuk SD, dimulai puasa sampai pukul 10 pagi dulu. Tapi anak tidak dibebaskan untuk makan sembarangan (jajan). Anak tersebut hanya boleh makan di rumah dan bersembunyi dari kakak-kakaknya di dapur. Sehingga anak kecil tersebut sangat malu kalau kelihatan kakak-kakaknya sedang makan.

Setelah lulus puasa sampai pukul 10, kemudian ditingkatkan lagi sampai pukul 12 (dzuhur). Anak-anak itu akan hilang rasa laparnya jika diajak main. Kemudian target puasa hingga pukul 2 sore. Abah dulu suka diajak ayah untuk main layang-layang setelah pukul 2 sore sampai ashar. Padahal ayah seorang guru yang sibuk pula mengelola beberapa kolam ikan.

Tidak jarang, dari awal Ramadhan hanya mampu berpuasa hingga pukul 10, menjelang hari ke-3 Ramadhan bisa full sampai Maghrib. Yang jelas, di keluarga Abah, anak-anak sudah tamat puasa sampai Magrib walaupun usianya belum masuk SD (7 tahun).

Yang berbeda dengan keluarga lain adalah setelah anak makan pukul 10, maka Abah diharuskan puasa lagi sampai dzuhur atau pukul 2 sore. Setelah makan pada pukul 2 sore, maka Abah harus puasa lagi sampai Maghrib. Inilah yang berbeda dengan pendidikan di keluarga lain.

Tidak jarang pula Abah memperhatikan pendidikan puasa di keluarga lain. Ketika anak sudah berbuka puasa pada pukul 10 pagi, maka ia dibolehkan seenaknya makan dan minum setelah pukul 10 pagi. Jadi, pukul 11, 12 dan seterusnya sampai Maghrib, anak-anak bebas makan dan minum. Ini yang berbeda dengan keluarga Abah.

Yang tidak kalah menariknya, Abah belum pernah melihat ibu makan di siang hari pada bulan Ramadhan. Setelah dewasa, Abah bertanya ke ibu, kapan ia membatalkan puasa saat haid? Ternyata, ibu hanya membatalkan puasa dengan minum saja ketika anak-anak sedang bermain ke luar rumah. Kadang makan sedikit saja yang penting batal dan tidak mengganggu kesehatan. Jadi, walaupun sedang haid, ibu suka ikut sahur juga. Dari mana Abah bisa tahu? Karena setiap sahur, ibu pasti ikut sahur. Menurut Abah, ini pendidikan yang sangat baik.

Namun apa yang terjadi di luar rumah. Ternyata, tidak sedikit anak-anak yang berani makan atau jajan di depan umum. Bahkan ibu-ibu berani-beraninya menyuapi anak balita di depan anak-anak kecil yang sedang berpuasa. Menurut Abah, ini pendidikan yang tidak baik.

Kalau ingin menyuapi balita yang belum mampu berpuasa, ya di dapur saja. Kenapa harus sambil main sepeda? Bukankah di bulan-bulan biasa juga akan lebih baik menyuruh anak makan sambil duduk rapi? Ini yang sering dilupakan ibu-ibu pemanja anak saat ini.

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...