9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Sunday, February 22, 2026

Penakluk Cinta Bab 5: Dosen Muda, Motor Butut, dan Bincengan Iindiaan Hujanan

 Bab 5: Dosen Muda, Motor Butut, dan "Firewall" Kursi Belakang

Setelah ijazah S1 di tangan, saya naik level menjadi Dosen Luar Biasa (LB). Meskipun jabatan lumayan mentereng, tunggangan saya tetaplah motor butut yang setia. Ternyata, kombinasi "Dosen Muda Pintar" dan "Motor Sederhana" ini justru menciptakan aura humble yang makin mematikan di mata mahasiswi.

1. Fans Club "Doa Keselamatan"

Kehadiran saya di lab selalu disambut dengan kehebohan yang tidak biasa untuk ukuran jam kuliah. Puncaknya adalah saat jam pulang dan hujan turun deras. Dari balik pintu kampus, mata-mata mahasiswi memperhatikan saya yang bersiap menembus badai dengan motor butut. Doa-doa tulus pun meluncur: "Hati-hati di jalan ya, Pak..." atau "Jangan sampai sakit ya, Pak..."

2. Godaan "Bonceng Hujan-Hujanan"

Ada mahasiswi yang cukup berani melempar candaan—atau mungkin kode keras: "Pak, saya ikut dong, hujan-hujanan bareng Bapak juga gak apa-apa!"

Bagi pria lain, ini mungkin adegan romantis ala film India. Tapi bagi Ahda? Sistem operasi saya langsung memberikan peringatan: "Error! Jalur Halal Belum Terdeteksi." Kursi belakang motor butut saya adalah area suci yang tidak boleh diduduki oleh siapapun yang belum punya sertifikat dari KUA.wkwkwk

3. Main Mata vs Target S2

Wibawa saya sebagai dosen benar-benar dipertaruhkan ketika ada mahasiswi yang mencoba teknik "main mata". Tapi sekali lagi, "processor" di otak saya sedang melakukan rendering berat untuk rencana S2. Pikiran saya sudah penuh dengan draf proposal tesis dan beasiswa, sehingga kedipan mata mahasiswi hanya saya anggap sebagai gangguan sinyal atau glitch pada monitor.


Poin Ahaha:

"Banyak orang bilang motor bagus itu daya pikat, tapi bagi saya, integritaslah yang menjadi magnet sesungguhnya. Saya tidak mau membonceng mereka bukan karena motor saya butut, tapi karena saya menghargai kehormatan mereka dan prinsip saya sendiri. Kursi belakang motor saya mungkin kosong, tapi folder rencana masa depan saya sangat penuh. Dan bagi saya, membonceng ilmu jauh lebih mendesak daripada membonceng asmara yang belum pada tempatnya."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda


Penakluk Cinta Bab 4: Antara Sarjana dan Cinta - Prof. Ahda Series

 Bab 4: Guru Komputer dan "Curhat Kilat" di Balik Monitor

Setelah lulus D3, saya mulai mengabdi sebagai guru. Di sinilah "aura Arjuna" saya diuji secara masif. Di kelas komputer, saya bukan hanya mengajarkan coding atau cara mengoperasikan perangkat lunak saja, tapi saya seolah-olah menjadi magnet semangat bagi para siswi.

1. Jadwal yang Paling Dinanti

Kalau sudah masuk jam pelajaran saya, suasana kelas mendadak cerah. Para siswi menyambut saya dengan antusiasme yang luar biasa. Mungkin karena materi yang saya sampaikan mudah dipahami, atau mungkin karena cara mengajar saya yang tidak kaku. Sampai-sampai di lingkungan santri pun, saya sering jadi tempat "Curhat Kilat". Sesi tanya jawab yang harusnya soal hardware dan software, kadang melipir sedikit ke urusan hati. Tapi saya tetaplah saya: menjawab dengan bijak tanpa memberi harapan.

2. "Desakan" Para Ustadz

Melihat cara saya membawa diri, rekan-rekan guru yang juga para Ustadz senior mulai "gerah". Mereka sering memberikan saran—yang sebenarnya lebih mirip desakan—agar saya segera menikah. "Sudah pantas, Pak. Sudah mapan jadi guru, wajah juga menunjang," begitu kira-kira narasinya.

3. CPU Masih Loading S1

Namun, saran para Ustadz itu mental di hadapan nalar saya. Logika saya saat itu sangat sederhana: Saya baru lulus D3. Di dalam "processor" kepala saya, instruksi utamanya adalah "Upgrade ke S1". Bagi saya, KUA (Kantor Urusan Agama) adalah aplikasi yang belum kompatibel dengan sistem operasi saya yang masih fokus mengejar gelar sarjana. Jadi, sesemangat apa pun siswi menyambut saya, dan sekeras apa pun kode dari para ustadz, saya tetap teguh pada pendirian: Belajar dulu, Akad kemudian.


Poin Ahaha:

"Menjadi guru idaman itu adalah ujian integritas. Sangat mudah untuk baper ketika disambut senyuman di setiap lorong sekolah, tapi seorang guru sejati tahu bahwa tugas utamanya adalah mencerdaskan, bukan menebar pesona. Saya memilih untuk 'menutup folder' asmara rapat-rapat karena saya tahu, investasi terbaik saat itu bukan pada pelaminan, melainkan pada ijazah S1 yang sedang saya perjuangkan."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda