Wkwkwk... Sebagai penutup yang penuh tawa, haru, dan nalar "nyeleneh" ini, mari kita susun sebuah Epilog yang merangkum filosofi hidup Ahda.
Epilog ini akan menyatukan semua titik (connecting the dots), mulai dari lantai tanah, sandal utuh, hingga menjadi Profesor yang jujur di hadapan rumus statistik.
EPILOG: Menjadi Profesor yang "Tetap Tidur" di Tengah Ambisi Dunia
Perjalanan ini ternyata bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke garis finis, tapi tentang seberapa "sadar" kita menikmati setiap detiknya. Jika saya melihat ke belakang, hidup saya adalah rangkaian Anomali yang Disengaja oleh Tuhan.
Saya tidak selalu jadi Juara 1 di kelas, tapi saya belajar menjadi Juara di hati teman-teman dengan cara mengalah. Saya tidak lulus CPNS karena nalar saya terlalu luas untuk sekadar pilihan ganda. Saya bahkan pernah "gagal" di angka-angka matematika, hanya untuk membuktikan bahwa kejujuran jauh lebih bernilai daripada skor akhir.
Menjadi seorang Profesor bagi saya bukanlah tentang duduk di menara gading. Menjadi Profesor adalah tentang:
- Tetap Someah: Meski gelar sudah berderet, senyum adalah antarmuka utama.
- Tetap Menjadi Gelandang: Kebahagiaan saya tetap sama; melihat orang lain (mahasiswa) berhasil mencetak gol lewat operan ilmu yang saya berikan.
- Tetap "Dewa Penidur": Bukan berarti malas, tapi memiliki ketenangan nalar di tengah dunia yang terlalu bising mengejar ambisi. Tenang karena tahu bahwa rezeki, jabatan, dan beasiswa sudah ada jadwal tayangnya masing-masing.
Buku ini adalah pesan bagi siapa saja yang merasa langkahnya "tertunda". Jangan takut jika sandalmu masih utuh sementara orang lain sudah lari jauh. Jangan takut jika jawabanmu berbeda sendirian di kertas ujian kehidupan.
Asal kamu melangkah dengan Lillah, menjaga hati agar tetap Someah, dan berani mengakui kekurangan di hadapan "Sang Pembuat Kurikulum Agung", maka kamu akan sampai ke puncak dengan cara yang paling indah.
Terima kasih sudah membaca nalar saya yang sederhana ini. Sekarang, biarkan saya kembali "istirahat" sejenak, karena tugas besar berikutnya sudah menunggu: Membangun peradaban lewat senyuman.
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda