KATA PENGANTAR: Tentang Nalar, Kesabaran, dan Sebuah Klik di BBM
Jika Anda mengharapkan sebuah memoar asmara yang penuh dengan rayuan gombal, puisi mendayu-dayu, atau drama pengejaran di bawah rintik hujan, maka saya sarankan Anda menutup buku ini sekarang juga. Karena di sini, Anda hanya akan menemukan kisah seorang pria yang lebih mencintai tumpukan buku dan kuliah daripada seni merayu wanita.
Buku ini adalah catatan perjalanan seorang "Ustadz Sejati" (begitu teman-teman menyebut saya) yang memiliki prinsip cukup ekstrem di masanya: Anti-Pacaran. Bukan karena saya tidak laku—percayalah, pesona Ketua OSIS merangkap Ketua PMR itu nyata—melainkan karena nalar saya sudah ter-instal dengan target yang lebih besar: Masa Depan.
Di dalam halaman-halaman ini, saya bercerita dengan jujur tentang:
- Bagaimana saya menggunakan teknik "Bertanya di Kelas" bukan hanya untuk ilmu, tapi untuk melindungi teman-teman dari tugas tambahan.
- Bagaimana seorang Dosen muda di puncak kegantengannya (menurut saya, wkwk) justru lebih tergila-gila pada gelar Doktor daripada pada mahasiswi yang menyapa "Akang".
- Dan puncaknya, tentang sebuah kekalahan telak seorang Arjuna yang ditolak mentah-mentah lewat pesan BBM, hingga akhirnya ia menyadari bahwa jalur diplomasi terbaik adalah melalui "Admin Pusat" alias Ibu Mertua.
Buku ini saya tulis bukan untuk pamer keberhasilan, tapi untuk berbagi bahwa menjaga prinsip itu mungkin terasa sepi di awal, namun akan berbuah manis di akhir. Cinta bagi saya adalah sebuah sistem yang harus dibangun di atas pondasi adab, bukan sekadar perasaan yang meluap-luap.
Terima kasih untuk istri saya tercinta, yang pernah menolak saya namun akhirnya luluh oleh nalar Sokratik saya. Dan untuk putra saya, yang kecerdasannya menjadi bukti bahwa investasi kesabaran di masa muda tidak pernah sia-sia.
Selamat membaca, semoga Anda tidak tertawa terlalu keras saat sampai di bab penolakan saya.
Sumedang, Februari 2026
Profesor Ahda
**
SINOPSIS
"Ditolak BBM, Menang di Ruang Tamu: Memoar Sang Arjuna yang Terlalu Banyak Nalar."
Bagaimana rasanya menjadi seorang pria yang menyandang status Ketua OSIS, Ketua PMR, hingga Dosen Muda di usia 28 tahun, tapi tidak pernah sekalipun mencicipi dunia pacaran?
Bagi Ahda, cinta bukan tentang bunga dan cokelat, melainkan tentang prioritas dan instalasi niat. Sejak SMA hingga duduk di kursi Pascasarjana, ia membangun firewall yang sangat ketat: Tidak ada sinyal asmara sebelum target Sarjana dan Doktor tercapai. Pesona "Ustadz Sejati" yang someah ini memang memikat banyak hati—dari adik tingkat hingga mahasiswi cerdas—namun semuanya terpental oleh satu kalimat sakti: "Cinta pertama saya adalah kuliah."
Namun, setinggi-tingginya nalar seorang Profesor, ia tetap harus berhadapan dengan "Bug" yang tak terduga.
Buku ini menceritakan perjalanan jenaka dan inspiratif tentang:
- Strategi "Nalar Sokratik" dalam menghadapi kakak kelas saat ospek.
- Rahasia tetap populer di kelas tanpa harus dibenci teman (Tips: Jangan nanya pas jam pulang!).
- Dan momen paling antiklimaks: Saat sang Arjuna akhirnya "turun gunung" untuk melamar melalui chat BBM, namun berakhir dengan status REJECTED.
Ikuti kisah bagaimana diplomasi tingkat tinggi dilakukan bukan kepada sang gadis, melainkan langsung kepada "Admin Pusat" alias sang Ibu Mertua. Sebuah catatan asmara yang membuktikan bahwa adab dan kesopanan adalah algoritma terbaik untuk mendapatkan cinta yang paling hakiki.
Sebuah buku tentang integritas, kegigihan, dan bukti bahwa menjadi "jomblo prinsipil" itu bukan berarti tidak laku, tapi sedang menunggu waktu yang tepat untuk "Lillah".
**
Legendaris! wkwkwk
