9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Friday, February 27, 2026

Katabah Berbagi kecil-kecilan

 Alhamdulillah awal tahun ini, Katabah masih bisa berbagi kecil-kecilan, antara lain doorprize dalam acara Gebyar MAN 4 Garut (MAN Cisewu). Di samping itu, ada sedikit berbagi untuk beberapa orang yang rajin ngoding.

Harapan ke depan, semoga minimal konsisten berbagi, apalagi bisa lebih besar.😊Program baru juga saya melanjutkan cita-cita saat pertama kali membuat buku, yakni berbagi jajan walaupun hanya seharga satu bala-bala.

Mudah-mudahan ada rizkinya, saya rencanakan nanti borong bala-bala untuk pedagang kecil, apalagi nenek-nenek yang masih harus jualan di usia senjanya. Ya Rp 100.000 untuk sekali jajan juga kan lumayan meringankan buat mereka.

Akhir kata, terima kasih kepada para pembaca Katabah. Semoga ilmu yang saya share di blog ini bermanfaat dan blog ini bisa terus menjadi jalan agar saya bisa berbagi untuk sesama. Semoga menjadi amal jariyah untuk kita semua. Aamiin...😊 

Menertawakan Kegagalan Bab 3 Liku-liku Menjelang Kuliah S1 - Prof. Ahda Series

 

Bab 3: Loop 3 Tahun dan Obsesi "MI"

Ternyata, "Delay" (penundaan) dalam hidup saya bukan dimulai saat S2, melainkan jauh sebelumnya. Hidup saya adalah rangkaian "Antrean Panjang" yang melelahkan namun penuh prinsip.

1. Komputer: Cinta yang Dipaksakan?

Awalnya saya ingin jadi diplomat (HI) atau penguasa (Ilmu Pemerintahan). Tapi sistem menolak saya. Akhirnya, dengan modal "tiga kali kursus" di rental komputer Kakak, saya memberanikan diri masuk D1 Manajemen Informatika (MI). Jujur saja, ada rasa ngeri pada matematika, tapi kaki sudah melangkah.

2. Kesetiaan pada Jalur "Manajemen Informatika"

Anehnya, setelah D1, saya tidak "balik kanan" ke politik. Saya justru makin dalam masuk ke labirin MI dengan lanjut ke D3. Di sinilah prinsip saya diuji. Setelah lulus D3, kampus menawarkan penyaluran kerja, tapi saya menolaknya. Kenapa? Karena saya hanya ingin S1 Komputer. Titik.

3. Guru Honorer: Memelihara Idealisme dalam Kemiskinan

Demi mengejar S1 yang mahal, saya memilih jadi guru honorer. Secara ekonomi, ini adalah keputusan yang "Error". Pendapatan guru honorer mana mungkin cukup untuk biaya kuliah S1 Komputer yang selangit?

Ada banyak tawaran jurusan lain: murah, cepat, mudah. Tapi saya bilang: "No." Saya tidak mau "ganti mesin" hanya karena biaya. Saya rela Idle (diam/menunggu) selama 3 tahun demi mengumpulkan modal. Usia dewasa saya seolah "tertunda" dibanding teman-teman seangkatan yang sudah mulai running karirnya.

 

Analisis Nalar Ahda:

"Banyak orang gagal karena mereka terlalu cepat menyerah dan pindah ke jalur yang lebih mudah. Saya memilih menjadi guru honorer yang pas-pasan selama 3 tahun hanya untuk memastikan saya tetap berada di jalur 'Informatika'. Saya belajar bahwa Kecepatan itu penting, tapi Konsistensi Jalur adalah segalanya. Saya rela telat start, asalkan saya tidak salah jalan."

**