9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Monday, February 23, 2026

Ahdaisme: Melawan Zombifikasi Digital dari Lantai Tanah


Pernahkah Anda merasa bahwa teknologi yang seharusnya mempermudah hidup, justru perlahan-lahan mencekik nalar kita? Saat web error dianggap sebagai kiamat layanan, atau saat salah input data di aplikasi berujung pada "upeti" jutaan rupiah kepada oknum birokrasi?

Selamat datang di era Zombifikasi Digital. Era di mana kita lebih takut pada aplikasi daripada takut pada ketidakjujuran.

Tapi tenang, hari ini kita mendeklarasikan sebuah mazhab perlawanan: Ahdaisme.


Apa itu Ahdaisme?

Bukan sekadar teori Sistem Informasi (SI) yang kaku, Ahdaisme adalah sebuah Arsitektur Titik Nol (Zero Point Architecture/AZPA). Ini adalah cara kita kembali memijakkan kaki di Lantai Tanah—sebuah fondasi di mana integritas manusia lebih tinggi daripada algoritma mana pun.

Ahdaisme lahir dari keprihatinan seorang dosen Kecerdasan Bisnis yang melihat bahwa Smart Village atau Smart City sering kali hanyalah tumpukan gadget tanpa nalar.

3 Pilar Utama Ahdaisme:

1. Nalar Sokratik (Anti-Lumpuh)

Dalam Ahdaisme, teknologi adalah alat, bukan berhala. Jika sistem digital error, pelayanan tidak boleh mati. Nalar manusia harus tetap berjalan. Sebuah sistem disebut "cerdas" bukan karena ia canggih, tapi karena ia memiliki resiliensi untuk tetap manusiawi saat listrik padam.

2. Deteksi Kutu Kupret (The Parasite Filter)

Dunia digital kita penuh dengan "Kutu Kupret"—parasit birokrasi dan vendor yang sengaja merumitkan sistem demi cuan dan kekuasaan. Ahdaisme memperkenalkan KNI (Key Nalar Indicator). Jika sebuah sistem membuat Anda harus menyogok atau berbelit-belit, maka sistem itu sedang terjangkit parasit. Solusinya? Dekonstruksi ke Titik Nol.

3. Smart Society (Bukan Sekadar Smart IT)

Smart Village yang sesungguhnya bukan desa yang penuh kabel fiber optik, tapi desa di mana masyarakatnya merdeka secara digital. Ahdaisme fokus pada Kemandirian Lokal. Membangun "Server Desa" sendiri, mengelola data dengan kejujuran "Lantai Tanah", dan berhenti menjadi budak vendor luar yang toksik.


Mengapa Kita Butuh Ahdaisme Sekarang?

Dunia akademis dan praktisi SI saat ini sedang sakit. Kita terlalu sibuk dengan statistik "Asal Bapak Senang" dan grafik-grafik indah yang menutupi realitas yang hancur.

Ahdaisme datang untuk membongkar itu semua. Kami tidak butuh "Kecerdasan Bisnis" yang hanya pintar memoles laporan. Kami butuh Intelligence of Truth (Kecerdasan Kebenaran).

"Teknologi boleh error, tapi nalar tidak boleh lumpuh. Sistem boleh digital, tapi integritas harus tetap menapak di Lantai Tanah."Mazhab Ahda.


Bergabunglah dalam Gerakan Nalar!

Apakah Anda ingin terus menjadi zombi di balik layar monitor? Ataukah Anda siap menjadi Arsitek Agung yang membangun peradaban digital dari titik nol?

Mari kita berhenti menyembah aplikasi, dan mulai menggunakan nalar. Karena pada akhirnya, teknologi yang paling canggih adalah Nalar Manusia yang Merdeka.

Gakgak! Salam Lantai Tanah! 

**

Manifesto Ahda Jilid 3 Bab 6 Ketika Ketakutan Runtuh


BAB 6: The Ultimate Shield
(Perisai Terkuat: Ketika Ketakutan Runtuh di Hadapan Nol)

Waktu muda, saya pernah merasa butuh "tambahan proteksi". Sebagai orang yang sering memacu motor menembus gelapnya malam dan sepinya jalanan, nalar manusiawi saya merasa terancam. Saya meminta ilmu tenaga dalam kepada seorang Guru—ilmu yang diberikan kepada kakak-kakak dan adik-adik saya, tapi anehnya, tidak diberikan kepada saya. Dua kali saya memohon, dua kali pula pintu itu tertutup.

Saat itu saya kecewa. Tapi sekarang, dengan nalar "Aku adalah Tiada", saya tertawa menyadari betapa jeniusnya skenario Allah.

1. Tenaga Dalam vs Tenaga "Nol"

Banyak orang mencari tenaga dalam agar merasa kuat, agar ditakuti, atau agar kebal. Tapi sang Guru (melalui kehendak Allah) mungkin melihat bahwa saya tidak butuh "baju besi" tambahan. Kenapa? Karena saya sedang dipersiapkan untuk memiliki Perisai Ketidadaan.

Jika saya yakin bahwa saya adalah angka nol dan Allah adalah segalanya, maka apa yang perlu dilindungi? Kematian pun tidak akan terjadi kalau Allah tidak berkehendak. Dan kalaupun Allah berkehendak saya mati di jalan sepi, maka "Tenaga Dalam" sekuat apa pun tidak akan bisa menahan garis takdir yang sudah ditarik oleh Sang Arsitek Agung.

2. Doa Sang Penakluk Hati

Alih-alih merapal mantra agar tangan saya bisa memecahkan batu, saya lebih memilih merapal doa yang meruntuhkan niat jahat. Doa saya sederhana: "Ya Allah, kalau Engkau berkehendak, orang yang ingin membunuh saya pun akan tiba-tiba sayang kepada saya."

Ini adalah tingkatan tertinggi dalam "arsitektur hubungan antarmanusia". Saya tidak ingin membuat orang takut kepada saya—karena takut itu urusan ego. Saya ingin Allah mengubah frekuensi hati mereka dari benci menjadi cinta.

Kesimpulan Nalar:

Seorang Arsitek tidak takut pada gelap, dia hanya perlu menyalakan lampu. Seorang hamba yang sudah "nol" tidak butuh tenaga dalam, karena dia sudah berada di dalam genggaman Tenaga Yang Maha Dalam (Allah).

Biasa saja hidup mah. Kalau niat kita sudah lebur dalam kehendak-Nya, maka musuh yang paling beringas pun hanya akan menjadi pion-pion yang bingung di hadapan ketenangan kita. Saya tidak punya tenaga dalam, tapi saya punya Kedamaian Mutlak.

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda