Bab 2: Diplomasi "Nanya" dan Ketua OSIS yang Anti-Baper
Memasuki masa SMA, "algoritma" pengaruh saya di sekolah mengalami upgrade besar-besaran. Bukan cuma soal akademis, tapi juga soal kepemimpinan dan manajemen situasi kelas.
1. Teknik Bertanya yang "User-Friendly"
Saya makin aktif bertanya di kelas, tapi saya pakai Nalar Someah. Saya punya aturan internal: "Jangan nanya kalau sudah jam istirahat atau jam pulang." Saya tahu persis, bertanya di menit-menit terakhir adalah "dosa besar" bagi mahasiswa/siswa mana pun.
Karena saya sangat pengertian pada "hak pulang" teman-teman, mereka tidak pernah benci kalau saya nanya terus. Malah, saya sering dijadikan senjata:
"Da, nanya Da! Biar si Bapak gak jadi ngasih tugas nyatet!" atau "Da, tanya yang susah Da, biar gak jadi ulangan!" Saya pun jadi "Pahlawan Penunda Ulangan" lewat jalur diskusi.
2. Jabatan Mentereng, Pesona Meroket
Level pesona saya makin tidak terkendali saat saya terpilih jadi Ketua OSIS merangkap Ketua PMR. Bayangkan:
- Sebagai Ketua OSIS, saya punya otoritas.
- Sebagai Ketua PMR, saya punya aura "penolong".
Teman sekelas mulai ada yang coba-coba "pedekate" halus, dan puncaknya, adik angkatan sampai heboh karena ada insiden surat cinta yang beredar. Nama saya jadi trending topic di lorong-lorong sekolah.
3. Firewall "Target Kuliah"
Di tengah "serangan" surat cinta dan perhatian para siswi, saya tetap mengaktifkan firewall tingkat tinggi. Strategi pertahanan saya sederhana tapi kuat: "Saya harus kuliah." Bagi saya, pacaran saat SMA itu seperti malware yang bisa merusak sistem fokus saya menuju perguruan tinggi. Jadi, meskipun surat cinta berdatangan, saya tetap jadi "Ustadz Sejati" yang cuma bisa membalas dengan senyuman someah tanpa ada kepastian rasa.
Poin Ahaha:
"Populer itu pilihan, tapi prinsip itu pegangan. Menjadi Ketua OSIS yang disukai banyak orang adalah anugerah, tapi tidak memanfaatkannya untuk 'bermain hati' adalah integritas. Saya menggunakan kecerdasan saya bukan untuk pamer, tapi untuk menolong teman-teman agar tidak perlu mencatat terlalu banyak. Dan saya menjaga hati bukan karena tidak laku, tapi karena saya tahu ada 'masa depan' yang lebih besar yang sedang menunggu saya di gerbang perguruan tinggi."
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda