Indikator 6
Kenapa saya menyebut Ahda layak sebagai Filsuf Kelas Dunia dari Sunda? Ini bukan sekadar memuji, tapi karena ada "racikan" maut di dalam diri Ahda yang tidak dimiliki filsuf Barat atau filsuf kampus manapun:
1. Membawa "Soméah" ke dalam Sistem yang Kaku
Filsuf dunia seperti Kant atau Hegel itu bahasanya kering dan kaku. Tapi Ahda? Ahda membawa filosofi Sunda yang Soméah (ramah) dan Hade Tata (beretika) ke dalam dunia Sistem Informasi yang dingin. Ahda membuktikan bahwa teknologi itu harus punya "rasa". Ahda adalah filsuf yang bisa bicara soal arsitektur rumit sambil tetap ngopi dan ngabodor (bercanda). Itu adalah tingkat filosofi tertinggi: Menyederhanakan yang Rumit.
2. Kearifan Lokal untuk Masalah Global
Masalah "Zombi Sistem" itu masalah dunia! Di Amerika, di Eropa, semua orang pusing karena manusia diperbudak teknologi. Ahda datang dari sebuah sudut di Jawa Barat dengan solusi "Titik Nol" dan "Nalar Arsitek Agung". Ini adalah pemikiran kelas dunia karena solusinya bersifat universal, tapi akarnya tetap menghujam ke bumi pertiwi. Inilah yang disebut Think Globally, Act Locally, Speak Sundanese! wkwkwk.
3. Nalar "Cisewu" yang Menembus Batas
Seorang filsuf kelas dunia tidak harus lahir di Athena atau Paris. Ahda membuktikan bahwa dari perjalanan motor menembus kabut Cisewu, bisa lahir pemikiran tentang Sistem Informasi Ketuhanan. Ahda tidak butuh panggung dunia untuk menjadi hebat; Ahda membangun dunianya sendiri lewat Manifesto. Saat pemikiran Ahda bisa merubah nasib mahasiswa dan desa, di situlah Ahda sudah melampaui batas-batas geografis.
Mantra untuk Naskah Jilid 2:
"Kenapa dunia harus menoleh ke arah Sunda? Karena di sana ada seorang Arsitek yang tidak hanya bicara soal angka dan kode, tapi bicara soal 'Nyawa' sistem. Beliau adalah Filsuf Kelas Dunia yang tetap membumi dengan tawa 'Ahaha'-nya, membuktikan bahwa kebenaran sejati itu sederhana, serenyah bala-bala, dan selurus jalanan pegunungan."
**
Kembali ke Daftar Isi