9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Saturday, February 21, 2026

Penakluk Cinta Bab 2: Prof. Ahda Series

 Bab 2: Diplomasi "Nanya" dan Ketua OSIS yang Anti-Baper

Memasuki masa SMA, "algoritma" pengaruh saya di sekolah mengalami upgrade besar-besaran. Bukan cuma soal akademis, tapi juga soal kepemimpinan dan manajemen situasi kelas.

1. Teknik Bertanya yang "User-Friendly"

Saya makin aktif bertanya di kelas, tapi saya pakai Nalar Someah. Saya punya aturan internal: "Jangan nanya kalau sudah jam istirahat atau jam pulang." Saya tahu persis, bertanya di menit-menit terakhir adalah "dosa besar" bagi mahasiswa/siswa mana pun.

Karena saya sangat pengertian pada "hak pulang" teman-teman, mereka tidak pernah benci kalau saya nanya terus. Malah, saya sering dijadikan senjata:

"Da, nanya Da! Biar si Bapak gak jadi ngasih tugas nyatet!" atau "Da, tanya yang susah Da, biar gak jadi ulangan!" Saya pun jadi "Pahlawan Penunda Ulangan" lewat jalur diskusi.

2. Jabatan Mentereng, Pesona Meroket

Level pesona saya makin tidak terkendali saat saya terpilih jadi Ketua OSIS merangkap Ketua PMR. Bayangkan:

  • Sebagai Ketua OSIS, saya punya otoritas.
  • Sebagai Ketua PMR, saya punya aura "penolong".

Teman sekelas mulai ada yang coba-coba "pedekate" halus, dan puncaknya, adik angkatan sampai heboh karena ada insiden surat cinta yang beredar. Nama saya jadi trending topic di lorong-lorong sekolah.

3. Firewall "Target Kuliah"

Di tengah "serangan" surat cinta dan perhatian para siswi, saya tetap mengaktifkan firewall tingkat tinggi. Strategi pertahanan saya sederhana tapi kuat: "Saya harus kuliah." Bagi saya, pacaran saat SMA itu seperti malware yang bisa merusak sistem fokus saya menuju perguruan tinggi. Jadi, meskipun surat cinta berdatangan, saya tetap jadi "Ustadz Sejati" yang cuma bisa membalas dengan senyuman someah tanpa ada kepastian rasa.


Poin Ahaha:

"Populer itu pilihan, tapi prinsip itu pegangan. Menjadi Ketua OSIS yang disukai banyak orang adalah anugerah, tapi tidak memanfaatkannya untuk 'bermain hati' adalah integritas. Saya menggunakan kecerdasan saya bukan untuk pamer, tapi untuk menolong teman-teman agar tidak perlu mencatat terlalu banyak. Dan saya menjaga hati bukan karena tidak laku, tapi karena saya tahu ada 'masa depan' yang lebih besar yang sedang menunggu saya di gerbang perguruan tinggi."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda

Penakluk Cinta Bab 1: Pesona "Ustadz Someah" - Prof. Ahda Series

 Bab 1: Pesona "Ustadz Someah" dan Benteng Hati yang Kokoh

Secara objektif, saya tidak akan bilang saya ini setampan bintang film. Tapi kalau dibilang lumayan ganteng? Ya, nalar dan cermin saya setuju dengan pendapat orang-orang. Namun, saya tahu bukan hanya wajah yang membuat radar para siswi di sekolah berbunyi tit-tit-tit.

1. Algoritma "Someah" yang Mematikan

Senjata utama saya adalah sifat marahmay (ramah tamah). Saya tidak pernah membeda-bedakan siapa yang saya sapa. Mulai dari siswi yang kutu buku, bintang kelas, sampai model sekolah yang jadi idola murid-murid. Saya sapa semuanya dengan senyum yang sama tulusnya.

  • Efeknya: Mereka merasa dihargai.
  • Resikonya: Mereka sering salah mengartikan keramahan saya sebagai "lampu hijau".

2. Paket Komplet: Pintar dan Sholeh

Sudah mah someah, saya juga masuk jajaran Top 3 juara kelas. Di dunia sekolah, kombinasi "Pintar + Ramah + Ganteng" itu ibarat magnet super kuat. Ditambah lagi, citra saya sudah melekat sebagai "Sang Ustadz Sejati". Di mata remaja putri, ini adalah profil "Calon Menantu Idaman Ibu" yang sangat sempurna.

3. Prinsip "No-Entry" untuk Pacaran

Meski disapa kiri-kanan oleh berbagai kalangan—dari yang paling pintar sampai yang paling modis—saya punya sistem firewall yang tidak bisa ditembus. Di dalam hati, saya sudah memantapkan prinsip: Tidak ada bab pacaran dalam kurikulum hidup saya. Saya adalah ustadz yang "kelu" dalam urusan cinta monyet. Bukan karena tidak punya rasa, tapi karena saya sedang menjaga instalasi hati agar tetap murni untuk masa depan. Maka, jadilah saya sang "Penakluk Cinta" yang tidak pernah mau menaklukan hati siapa pun kecuali lewat jalur yang diridhai.


Poin Ahaha:

"Menjadi ramah kepada semua orang itu adalah kewajiban sosial, tapi memberikan hati hanya kepada satu orang adalah kewajiban iman. Saya mungkin dikenal dan disapa banyak wanita, tapi saya memilih untuk menjadi 'kelu' dalam urusan cinta agar suara hati saya tetap jelas terdengar saat saatnya tiba nanti. Lebih baik dianggap 'dingin' daripada memberikan harapan palsu lewat senyuman yang terlalu hangat."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda