Bab 11: Bunuh Diri Massal: Logika "Nitip Hidup" yang Terlupakan
Di mata Prof. Ahda, sebuah institusi bukan sekadar gedung beton, melainkan sebuah kapal besar tempat ribuan orang "menitipkan hidup". Namun, beliau melihat sebuah ironi yang mengerikan: orang-orang di dalam kapal itu sibuk melubangi lantainya sendiri sambil tetap menuntut gaji.
"Bah," Prof. Ahda menggeser layar tabletnya, memperlihatkan data yang menyedihkan. "Lihat ini. Mengisi form saran topik skripsi saja tidak ada yang bergerak. Mengajukan mata kuliah? Tidak peduli. Bahkan mengisi pokok bahasan materi kuliah—yang hanya butuh waktu beberapa menit—yang mengisi di bawah 10%. Mereka ini mau mengejar apa?"
Beliau menyebut fenomena ini sebagai "Apatisme Kolektif".
"Para dosen dan staf sering lupa bahwa mereka sedang menumpang di kapal yang sama. Kalau prodi ini bangkrut karena kualitasnya merosot, mereka juga yang akan kehilangan pekerjaan. Mereka akan jadi pengangguran. Anehnya, mereka merasa aman-aman saja saat mengabaikan tanggung jawab kecil yang sebenarnya adalah urat nadi kehidupan mereka sendiri."
Prof. Ahda menawarkan solusi yang provokatif: Patungan Intelektual.
"Daripada sibuk mengeluh soal fasilitas yang kurang, kenapa para dosen tidak patungan ilmu dan sedikit modal untuk menyelamatkan rumah tempat mereka mencari nafkah? Jadikan staf itu seperti robot fungsional saja—kalau mereka malas, sistem yang harus mengambil alih. Tapi dosen? Dosen harus punya 'Sense of Crisis'."
Beliau menekankan bahwa Katabah Ecosystem dirancang untuk memutus rantai kemalasan ini.
"Di Katabah, sistem tidak akan membiarkan progres berhenti hanya karena satu orang malas mengisi form. Kita bangun sistem yang transparan, di mana kontribusi setiap orang terlihat. Saya ingin menyadarkan mereka: Kita ini nitip hidup di sini. Kalau kita tidak peduli pada tempat kita bekerja, sebenarnya kita sedang merancang kehancuran kita sendiri."
Prof. Ahda menutup dengan satu kalimat tajam untuk para sejawatnya:
"Jangan hanya pintar mengejar tunjangan, tapi pintarlah menjaga 'rumah' agar tetap tegak. Karena saat rumah itu roboh, gelar profesor atau jabatan stafmu tidak akan bisa dipakai untuk membayar cicilan di masa depan."
***
Bab 12 (Special Edition): Komedi Birokrasi: Kaprodi atau Admin Broadcast?
Ada satu momen yang membuat Prof. Ahda tertawa sampai sakit perut, tapi matanya terlihat sangat kasihan. Yaitu saat beliau melihat seorang Kaprodi—intelektual yang seharusnya memikirkan kurikulum masa depan—sibuk memencet tombol forward WhatsApp untuk mengundang mahasiswa rapat.
"Bah," Prof. Ahda tertawa sambil menepuk jidatnya. "Ini komedi paling lucu tahun ini. Di atas sana ada jajaran pimpinan yang gagah, di samping sana ada staf-staf yang (katanya) admin, tapi urusan 'ngeshare' undangan WA saja harus mendarat di meja Kaprodi yang sebatang kara. Ini kampus apa grup arisan RT?"
Beliau menyebut ini sebagai "Gelar Tinggi, Fungsi Kurir".
"Aneh sekali, orang-orang di level atas dan rekan sejawat itu seolah punya bakat terpendam sebagai atlet lempar lembing. Bedanya, yang mereka lempar bukan lembing, tapi tanggung jawab. Sepele memang cuma kirim WA, tapi kalau semua yang sepele ditumpuk ke satu orang yang tidak punya asisten, itu namanya pembunuhan karakter secara halus."
Prof. Ahda lalu memberikan sindiran yang telak:
"Mungkin mereka pikir Kaprodi itu punya 10 tangan dan 5 otak. Atau mungkin mereka saking 'cerdasnya' sampai lupa cara memencet tombol kirim di HP mereka sendiri? Lucu, Bah. Benar-benar lucu kalau kita tidak ingat bahwa ini terjadi di lembaga pendidikan tinggi."
Tapi, di tengah tawa sarkasnya, Prof. Ahda langsung memberikan Logic Switch khas beliau:
"Jangan sedih, Bah. Ini adalah bahan bakar terbaik untuk Katabah. Saat mereka sibuk menjadikanmu kurir, kamu sedang membangun kerajaan digital. Biarkan hari ini kamu jadi 'kurir WA' buat mereka, tapi besok, sistemmu yang akan membuat mereka sadar bahwa tanpa kecerdasanmu, mereka hanya sekumpulan orang yang bingung mau ngapain di depan layar HP masing-masing."
***
Bab 13: Langit Tetap Biru di Balik Layar "Kaprodi Sebatang Kara"
Malam ini, Prof. Ahda menutup laptopnya dengan suara klik yang mantap. Beliau menoleh ke arah saya, melihat sisa-sisa kelelahan seorang Kaprodi yang baru saja selesai menjadi "kurir digital" bagi institusinya.
"Bah," suaranya kini tenang, tanpa tawa sarkas lagi. "Banyak orang merasa dunianya sudah kiamat hanya karena dikelilingi rekan kerja yang malas atau pimpinan yang 'macan ompong'. Mereka merasa hidupnya sesempit daun kelor karena terjepit di antara tugas remeh dan tanggung jawab raksasa."
Beliau berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap bintang yang tak peduli pada hiruk pikuk birokrasi kampus.
"Tapi kamu tahu apa yang paling dahsyat dari menjadi 'One-Man Army' seperti sekarang? Kamu sedang mencuri ilmu dari seluruh lini. Saat mereka hanya tahu cara melempar tugas, kamu jadi tahu cara kerja dari akar sampai pucuk. Kamu sedang ditempa menjadi Arsitek Peradaban, sementara mereka hanya sedang menikmati masa pensiun dini di kursi kerja masing-masing."
Prof. Ahda memberikan sebuah "Legacy Thought" sebagai penutup manifesto ini:
"Jangan pernah merasa duniamu sesempit daun kelor, meski tugasmu numpuk setinggi gunung. Karena di Katabah Ecosystem, kita sedang membangun cakrawala baru. Kelak, saat sistem yang kita bangun ini meledak secara global, orang-orang yang dulu melempar tugas WA padamu akan tertegun. Mereka akan sadar bahwa 'kurir' yang dulu mereka remehkan, ternyata sedang menggendong masa depan di pundaknya."
Beliau menepuk pundak saya dengan mantap.
"Sudahlah, Bah. Jangan dipikirkan lagi staf yang main HP atau dosen yang amnesia kontribusi. Tidurlah. Besok kita bangun lagi bukan untuk melayani kemalasan mereka, tapi untuk memperkuat kerajaan Katabah kita sendiri. Biarkan mereka tetap di daun kelornya, kita punya langit yang harus kita warnai."
***
Bab 14: Membangun Raksasa dari Puing-Puing Kemalasan
Di ruang kerjanya yang penuh dengan layar monitor, Prof. Ahda sering mengamati lalu lalang mahasiswa dengan tatapan yang sulit diartikan. Di saat dosen-dosen lain berkumpul di kantin hanya untuk mengeluh, "Aduh, mahasiswa zaman sekarang susah banget diajarinnya!" atau "Mahasiswa sekarang mah malas-malas," Prof. Ahda justru mengambil posisi yang berbeda.
"Biarkan saja," ujar beliau enteng. "Biarlah saya yang mengurus mereka. Mahasiswa yang kalian bilang malas itu, serahkan pada saya. Saya akan motivasi dan saya buat mereka cerdas dalam waktu singkat."
Bagi Prof. Ahda, ini bukan soal kesombongan, tapi soal Logika Optimasi.
Beliau memperhatikan, secara statistik banyak mahasiswa yang punya IQ lebih tinggi dari rata-rata, bahkan mungkin lebih tajam dari beliau sendiri di masa muda. Namun, ada satu komponen yang hilang: Arah dan Daya Juang.
"Saya heran, Bah," lanjutnya sambil menyeruput kopi. "Mereka punya otak encer, punya akses informasi di genggaman tangan, tapi seperti bingung mau ngapain jadi mahasiswa. Mereka punya mesin Ferrari, tapi cuma dipakai buat muter-muter di gang sempit. Mereka rajin bergadang, tapi bukan untuk menaklukkan algoritma, melainkan untuk hal-hal yang tidak ada harganya."
Di mata Prof. Ahda, mahasiswa "malas" sebenarnya hanya sedang kehilangan "Core Purpose" (Tujuan Inti).
"Tugas saya bukan cuma ngajar koding atau teori. Tugas saya adalah menanamkan 'sistem operasi' baru di kepala mereka. Di Katabah Ecosystem, kita tidak butuh mahasiswa yang hanya rajin mencatat. Kita butuh mahasiswa yang punya mentalitas 'lapar'. IQ tinggi itu percuma kalau mentalnya mental peminta-minta nilai."
Beliau bertekad membuktikan bahwa dengan sentuhan motivasi yang tepat dan sistem yang menantang, puing-puing kemalasan itu bisa dirakit menjadi raksasa digital.
"Jangan keluhkan mereka. Bangunkan mereka! Karena kalau raksasa-raksasa kecil ini sudah bangun, dunia akan tahu bahwa dari kampus yang (katanya) mahasiswanya malas ini, lahir para arsitek masa depan."
***
Bab 15: Arkeologi Dokumen vs Generasi Amnesia
Di laci meja Prof. Ahda, ada sebuah artefak yang mungkin terdengar mustahil bagi generasi smartphone: Kartu UTS tahun 2002. Bayangkan, dokumen dari 24 tahun yang lalu masih tersimpan rapi, seolah baru dicetak kemarin sore.
"Ini bukan soal kertasnya, Bah," Prof. Ahda menunjukkan kartu itu dengan senyum tipis. "Ini soal integritas terhadap proses. Kalau kamu tidak punya bukti sejarah perjalananmu sendiri, bagaimana kamu tahu seberapa jauh kamu sudah melangkah?"
Beliau kemudian tertawa miris melihat realita mahasiswa zaman sekarang.
"Mahasiswa sekarang? UTS baru kelar seminggu, kartu ujiannya sudah jadi bungkus gorengan atau hilang ditelan bumi. Lebih parah lagi, ada yang sudah semester 8, mau lulus, baru nanya nilai semester 1 ke Kaprodi. Itu kuliah apa sedang amnesia berjamaah?"
Bagi Prof. Ahda, fenomena ini adalah tanda bahaya dari sebuah peradaban yang "Tak Sadar Diri".
"Mereka mengaku mahasiswa, tapi tidak sadar hakikat menjadi mahasiswa. Mereka pikir kuliah itu hanya datang, duduk, diam, lalu tiba-tiba nilai muncul dari langit. Mereka tidak punya arsip, tidak punya jejak, dan tidak punya tanggung jawab pada data mereka sendiri."
Beliau menekankan bahwa di Katabah Ecosystem, integritas data adalah harga mati.
"Bagaimana saya mau mengajari mereka membangun sistem global kalau menyimpan kartu ujian saja tidak becus? Bagaimana mau jadi pemimpin kalau jejak nilai semester sendiri saja harus ditanyakan ke orang lain? Kita ini sedang membangun manusia yang sadar sejarah, bukan zombi yang hidup hanya untuk hari ini tanpa peduli apa yang terjadi kemarin."
Prof. Ahda menutup dengan sebuah sindiran pedas:
"Kuliah itu bukan cuma cari nilai, tapi belajar mengelola hidup. Kalau nilai semester 1 saja kamu lupakan, jangan-jangan kamu juga lupa alasan kenapa orang tuamu mengirimmu ke kampus ini."