Bab sebelumnya:
MANIFESTO PROF. AHDA: Rahasia Membangun Kekaisaran Digital dari Desa
Bab 6: "The Bloodline Logic": Membangun Sistem yang Tidak Bisa Dikhianati
Dalam beberapa catatan sebelumnya, kita tahu bahwa Prof. Ahda mewarisi darah perjuangan dari ayahnya yang menaklukkan jalan setapak dengan kuda-kuda beban. Namun, ada satu sisi kelam yang jarang beliau bicarakan, sebuah luka sejarah yang menjadi alasan mengapa beliau sangat terobsesi dengan Integritas Sistem.
Sambil menatap gerimis yang jatuh di pematang sawah, Prof. Ahda berbicara dengan nada yang lebih dalam dari biasanya.
"Bah," suaranya parau, "Banyak orang heran kenapa saya begitu 'kejam' dalam merancang validasi data di sistem Katabah milikmu. Mereka tidak tahu, saya tumbuh besar dengan melihat kekaisaran logistik ayah saya hancur bukan karena kudanya yang lelah, tapi karena tangan manusia yang beliau percaya."
Beliau menceritakan kembali bagaimana usaha ayahnya bangkrut total karena dikelola oleh kerabat yang tidak bertanggung jawab. Sebuah pengkhianatan dalam manajemen yang menghapuskan kerja keras bertahun-tahun dalam sekejap.
"Dari situ saya belajar satu hal pahit: Manusia bisa berbohong, tapi logaritma tidak. Ayah saya dulu memberikan kepercayaan penuh kepada manusia, dan beliau kehilangan segalanya. Saya tidak ingin itu terjadi pada Katabah. Di ekosistem ini, saya tidak membangun sistem berdasarkan 'rasa percaya' semata, tapi berdasarkan 'kebenaran data'."
Inilah yang disebut Prof. Ahda sebagai The Bloodline Logic.
"Sistem yang saya rancang untukmu ini, Bah, adalah bentuk penghormatan saya kepada Ayah. Saya ingin menciptakan 'Kuda Digital' yang tidak bisa dicuri, tidak bisa dimanipulasi oleh 'saudara tiri' manapun, dan tidak bisa bangkrut hanya karena satu orang malas. Di Katabah, setiap transaksi dan kontribusi tercatat secara permanen di database. Transparansi adalah kunci agar tidak ada lagi air mata karena pengkhianatan manajemen."
Prof. Ahda kemudian tersenyum, kali ini lebih tulus.
"Ayah saya mungkin kehilangan kudanya karena ulah manusia tak bertanggung jawab. Tapi lewat teknologi yang kita bangun di Katabah, kita sedang memastikan bahwa perjuangan seorang pemilik visi seperti Abah akan tetap aman. Kita bangun sistem yang 'Anti-Pengkhianatan'. Itulah warisan sesungguhnya yang saya bawa dari masa lalu untuk masa depan Katabah."
Bab 7: "The One-Man Army": Ketika Kecerdasan IQ Menjadi Macan Ompong
Dunia akademik sering membanggakan deretan gelar dan angka IQ yang menjulang tinggi. Namun, Prof. Ahda memberikan saya sebuah pelajaran pahit: "Kecerdasan tanpa kepedulian hanyalah sampah dekorasi."
Beliau pernah bercerita tentang pengalamannya menjadi Kaprodi di sebuah institusi yang tampak megah dari luar, namun keropos di dalam. Saat itu, beliau harus memastikan napas institusi tetap berjalan lewat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).
"Bah," ujar Prof. Ahda sambil menyandarkan kepalanya yang tampak lelah namun matanya tetap menyala. "Kamu bayangkan, saya harus jadi sutradara, kameramen, penulis naskah, hingga admin media sosial sendirian. Saya yang meriset ide, saya yang memutar otak soal biaya, saya yang ngonten sampai larut malam agar calon mahasiswa mau melirik prodi kami."
Saya bertanya, di mana rekan-rekan beliau yang lain? Di mana pimpinan yang seharusnya menjadi nahkoda?
"Mereka ada, tapi seperti tidak ada," jawabnya sarkas. "Pimpinannya? Macan ompong. Leadership-nya hanya sebatas seremonial tanpa keberanian untuk menggerakkan pasukan. Rekan dosen dan staf? Mereka mungkin punya IQ tinggi, tapi kepedulian mereka terhadap institusi hampir nol besar. Mereka hanya menunggu gaji tanpa mau tahu bagaimana cara gaji itu bisa ada."
Di titik itulah, Prof. Ahda berhenti berharap pada bantuan orang-orang di sekelilingnya. Beliau memilih jalan yang lebih ekstrem: Mengekspos keunggulan dirinya secara total.
"Saya tidak lagi mempromosikan gedung kampus yang catnya mulai kusam itu, Bah. Saya mempromosikan diri saya sendiri sebagai pakar Sistem Informasi (SI). Saya siapkan ekosistem digital mandiri yang sangat canggih, sehingga calon mahasiswa berpikir: 'Kalau dosennya saja sudah sehebat ini membangun sistem, maka saya wajib belajar di tempatnya!'"
Prof. Ahda membuktikan bahwa di era digital, personal branding seorang "Suhu" lebih kuat daripada brosur kampus manapun.
"Itulah alasan saya membangun pondasi yang kuat di Katabah Ecosystem milikmu, Bah. Saya tidak ingin idemu mati karena bergantung pada orang-orang yang hanya pintar tapi malas. Kita ciptakan ekosistem yang tidak butuh 'izin' dari macan ompong. Kita buat calon mahasiswa—dan dunia—melihat bahwa keunggulan sejati itu ada pada karya nyata, bukan pada jabatan yang dipangku sambil main HP di jam kerja."
Bab 8: Bahasa Langit di Balik Baris Kode: Mengapa Katabah Adalah Masa Depan?
Setelah melewati drama birokrasi, pengkhianatan sejarah, hingga perjuangan menjadi "Tentara Satu Orang", Prof. Ahda akhirnya membocorkan satu rahasia terbesar yang selama ini beliau simpan rapat-rapat. Rahasia yang menjadi ruh dari setiap baris kode di Katabah.
"Bah," bisik Prof. Ahda di keheningan malam, "Kenapa saya begitu ambisius belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab secara bersamaan? Apakah hanya untuk terlihat keren di jurnal internasional? Tidak."
Beliau kemudian menceritakan sebuah diskusi yang pernah beliau lakukan dengan seorang Profesor di bidang dakwah. Diskusi yang berakhir dengan keheningan, karena sang Profesor pun tidak mampu menyelami konsep dasar Bahasa Arab yang dipaparkan oleh Prof. Ahda saat membedah filosofi sebuah nama.
"Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi agama, dan Bahasa Inggris bukan sekadar alat bisnis dunia. Keduanya adalah Logika Universal. Di dalam struktur Bahasa Arab, saya menemukan algoritma kehidupan yang paling presisi. Di dalam Bahasa Inggris, saya menemukan efisiensi komunikasi global."
Prof. Ahda memandang jauh ke depan.
"Mimpi besar saya—yang kini saya titipkan di Katabah milikmu—adalah menyatukan kedua kekuatan itu. Kita sedang membangun ekosistem di mana koding bertemu dengan sanad ilmu, di mana teknologi bertemu dengan etika bahasa. Kita tidak hanya ingin cuan secara finansial, kita ingin cuan secara intelektual dan spiritual."
Beliau menutup Manifesto ini dengan sebuah janji:
"Biarkan para macan ompong itu sibuk dengan dunianya. Kita di Katabah akan terus belajar, terus mengoding, dan terus menggali rahasia bahasa langit. Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukan siapa yang punya jabatan paling tinggi, tapi siapa yang punya manfaat paling luas bagi manusia lainnya."
Pesan Penulis:
Bagian ini telah selesai saya tuliskan untuk Anda semua. Sebuah perjalanan melihat dunia melalui kacamata Prof. Ahda. Namun, ini bukanlah akhir. Ini adalah Awal dari Eksekusi.
Semua konsep yang Prof. Ahda paparkan akan mulai Anda temukan bentuk nyatanya di dalam Katabah Ecosystem. Jika Anda bosan dengan sistem yang lamban dan rindu akan integritas yang jujur, maka Anda berada di rumah yang tepat.
Sampai jumpa di mahakarya selanjutnya!

No comments:
Post a Comment