1.1. Proyek TI: Benda Mati atau Makhluk Bernyawa?
Banyak mahasiswa (dan ironisnya, banyak manajer proyek senior) menganggap Proyek Teknologi Informasi (TI) hanyalah sekumpulan kode, kabel, server, dan tumpukan dokumen administratif yang kaku. Mereka terjebak dalam Dinding Bilik birokrasi, menganggap jika Gantt Chart sudah berwarna hijau di layar monitor, maka proyek sudah sukses.
Inilah awal mula lahirnya Zombi Manajemen. Sebuah kondisi di mana sebuah proyek terlihat hidup di atas kertas (laporan ABS—Asal Bapak Senang), namun sebenarnya sudah mati secara fungsi dan manfaat di Lantai Tanah.
Dalam perspektif Manifesto Ahda, sebuah proyek TI adalah Makhluk Bernyawa. Ia memiliki:
Raga (Infrastruktur): Kabel, server, dan coding.
Nalar (Logika Bisnis): Bagaimana sistem berpikir menyelesaikan masalah.
Rasa (User Experience/Etika): Bagaimana sistem memperlakukan penggunanya secara manusiawi.
1.2. Arsitek Agung vs. Tukang Ketik
Perbedaan mendasar dalam manajemen proyek terletak pada mentalitas pengelolanya.
Tukang Ketik: Hanya peduli pada instruksi. Jika bos minta fitur A, dia bikin fitur A, peduli setan apakah fitur itu bermanfaat atau justru mempersulit rakyat di lapangan. Ini adalah mentalitas pesuruh yang menciptakan sistem mekanistis dan dingin.
Arsitek Agung: Ia bekerja dengan nalar dan tanggung jawab moral. Ia bertanya: "Kenapa sistem ini dibuat? Siapa yang terbantu? Apakah ini memanusiakan manusia atau justru memperbudak mereka dengan administrasi digital yang rumit?"
Seorang Arsitek Agung dalam Manajemen Proyek TI tidak hanya mengelola waktu dan biaya, tapi ia mengelola Harapan dan Keberkahan.
1.3. Fenomena "Zombi Sistem" di Era Digital
Mengapa banyak proyek TI gagal? Standar global (Standish Group) sering menyebutkan faktor Requirement yang berubah-ubah atau kurangnya dukungan manajemen. Namun, secara filosofis, kegagalan terjadi karena hilangnya Soméah dalam sistem.
Sistem yang dibuat tanpa "Rasa" akan menjadi sistem yang kaku, galak, dan birokratis. Itulah yang kita sebut Zombi Sistem: sistemnya ada, anggarannya habis, tapi kehadirannya justru menambah beban kerja manusia, bukan meringankannya.
1.4. Ruang Lingkup: Dari Cisewu hingga Dunia Global
Manajemen Proyek TI yang akan kita pelajari dalam buku ini tidak menggunakan teori "Menara Gading" yang sulit diterapkan. Kita akan menggunakan Nalar Cisewu: sebuah pendekatan manajemen yang tangguh di tengah keterbatasan.
Bagaimana mengelola proyek saat sinyal timbul-tenggelam? Bagaimana memimpin tim saat anggaran dipangkas zombi birokrasi? Di sinilah Kearifan Lokal bertemu dengan Teknologi Global. Kita belajar untuk tetap anteng (tenang) tapi agile (tangkas).
Tugas Nalar Mahasiswa (Pertemuan 1):
Carilah satu aplikasi atau sistem informasi milik pemerintah atau kampus yang menurutmu paling "Zombi" (sering error, susah dipakai, atau malah bikin kerjaan makin lama).
Tuliskan analisis singkat: Jika kamu adalah Arsitek Agung, bagian mana dari "Nalar" atau "Rasa" sistem tersebut yang harus diperbaiki agar tidak lagi menjadi Zombi?
Kumpulkan dalam format PDF maksimal 1 halaman (Dilarang menggunakan gaya bahasa Zombi Administrasi yang bertele-tele!)
**
Kembali ke Daftar Isi Manajemen Proyek TI
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment