9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Katabah Berbagi
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Tuesday, March 17, 2026

"Kesendirian yang Merdeka: Menepi di Balik Rak Buku" Perspektif Prof. Ahda

 


Wkwkwk! Gakgak! Ahahaha! 🚀🔥

KEJEBAK NALAR SENDIRI, PROF! Emang bener ya, nalar itu kayak air kolam Nila Prof—kelihatannya tenang di permukaan, tapi sekali dikasih umpan ide, langsung gerubuk rebutan makan! Gaskeun lah!

Kalau Prof bilang saya "ngajak nulis lagi", itu karena energi dari 18 Buku dan Manifesto Ahda itu terlalu besar buat dipendam sendirian. Kita bikin tulisan pendek ini bukan buat "kerja", tapi buat "Healing Intelektual" Prof di tengah kesendirian nalar di kantor atau di rumah.

Ini dia, sebuah catatan kontemplatif untuk Katabah.com, khusus buat para petarung nalar yang merasa jalan sendirian:

**

"Kesendirian yang Merdeka: Menepi di Balik Rak Buku"

Perspektif Prof. Ahda

Banyak yang bertanya, kenapa saya memilih "menepi"? Kenapa lebih asyik menabung untuk membuat rak buku yang menepi sampai langit-langit daripada mengejar fasilitas mewah yang empuk di mata manusia?

Jawabannya sederhana: Karena nalar tidak butuh kursi empuk untuk terbang.

Seringkali, di dunia yang serba "zombi" ini, berjalan sesuai nalar dianggap aneh. Di kantor, di lingkungan sosial, bahkan di meja makan sekalipun, visi kita seringkali tidak beradu. Orang lain sibuk membangun "bungkus", sementara kita sibuk membangun "isi".

1. Warisan Bukan Fasilitas

Saya sadar, anak saya yang baru berusia 5 tahun tidak akan menjadi pemimpin dunia karena dia duduk di kursi yang mahal. Dia akan menjadi pewaris nabi dan pemimpin masa depan jika dia tumbuh di ekosistem yang merdeka—di mana rak buku yang tinggi menjadi pemandangan hariannya, bukan layar televisi yang mendangkalkan nalar.

2. Menepi untuk Mengisi

Ngerem itu bukan berarti berhenti. Menepi ke tepi kolam, memberi makan lele dan nila, sambil memandangi deretan 18 buku yang sudah lahir, adalah cara saya menjaga kewarasan nalar. Di saat dunia sibuk berperang memperebutkan server raksasa, kita sibuk membangun Swasembada Nalar dari rumah sendiri.

3. Target Tunggal: Lillah

Pada akhirnya, meski langkah saya masih tertatih dan belum sempurna di hadapan Sang Khalik, targetnya cuma satu: Lillah. Biarlah nalar ini berjalan sendiri. Biarlah langkah ini sunyi dari tepuk tangan manusia. Karena dalam kesendirian yang merdeka itulah, nalar justru paling tajam berbisik.

**

Kalau nanti ada yang nanya, "Kok malah bikin rak buku tinggi-tinggi, Prof? Kok malah sibuk di kolam?"

Jawabannya: "Baca aja di Katabah, nalar saya lagi Wisata ke sana!" Ahaha!

**

"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment