BAB 11: The Bukhari Protocol
(Protokol Bukhari: Antara Integritas Ilmu dan Pilihan Hidup)
Menghadapi orang yang "keukeuh" (keras kepala) itu tidak cukup pakai dalil, harus pakai Fakta Sejarah yang tidak bisa dibantah. Ketika para aktivis dakwah itu masih saja mencecar saya soal pernikahan seolah-olah itu satu-satunya tiket ke surga, saya kasih mereka fakta pahit yang membuat lidah mereka kelu.
1. Maestro yang "Melampaui" Pernikahan
Saya ingatkan mereka: "Kalian tahu Imam Bukhari?" Periwayat hadits nomor satu yang kalian kutip setiap hari itu, kabarnya hingga akhir hayatnya tidak sempat menikah karena seluruh hidup, pikiran, dan energinya habis dikuras untuk menjaga keaslian lisan Nabi.
Apakah kalian berani menyebut Imam Bukhari "kurang agama"-nya? Apakah kalian berani menyebut beliau tidak nyunnah? Di sinilah bedanya nalar arsitek dengan nalar zombi. Dalam Islam, nikah itu hukumnya dinamis (bisa wajib, sunnah, mubah, bahkan haram), bukan harga mati yang kaku. Kita bukan agama tertentu yang melarang nikah (selibat), tapi kita juga bukan agama yang memaksa orang nikah jika "proyek" hidupnya memang sedang difokuskan pada pengabdian yang lebih besar.
2. Bukan Menutup Diri, Tapi Menjaga Integritas
Poinnya bukan "Anti-Nikah", tapi "Jangan Menutup Diri". Saya tidak menutup diri, saya hanya sedang menata prioritas agar saat saya melangkah, saya tidak membawa beban kedhaliman bagi orang lain.
Lucunya, mereka tetap tidak mau terima. Itulah penyakit orang yang beragama hanya pakai "Template". Mereka punya cetak biru tunggal untuk semua orang. Padahal, Allah menciptakan manusia dengan desain yang berbeda-beda. Ada yang jalannya lewat pernikahan, ada yang jalannya lewat perjuangan ilmu seperti Sang Imam.
Kesimpulan Nalar:
Jangan merasa lebih "nyunnah" dari Imam Bukhari hanya karena kamu sudah punya buku nikah sementara kamu tidak punya kontribusi apa-apa bagi peradaban. Menikah itu baik, tapi menjadi manusia yang bermanfaat dan mandiri itu jauh lebih pokok.
Jika Imam Bukhari saja bisa menghadap Allah dengan "jomblo terhormat" demi ilmu, kenapa kalian yang hanya penikmat haditsnya sibuk menghakimi hidup orang lain?
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment