Bab 8: Kompensasi Langit — Jalur VVIP S2
Semua penundaan tadi—tiga tahun menunggu S1, pendaftaran CPNS yang hilang, hingga perubahan syarat dosen—ternyata hanyalah cara semesta untuk membuat saya tetap "kosong" (available) saat tawaran emas itu datang.
1. Beasiswa Full: Upah Kesabaran
Di saat kawan-kawan yang lain sibuk dengan urusan administrasi CPNS yang macet, saya justru meluncur masuk ke jenjang S2 dengan Beasiswa Full. Tidak keluar uang, tapi dapat ilmu dan gelar yang kelak akan menjadi "senjata utama" saya. Ini adalah bukti bahwa sistem Lillah itu nyata: Jika kita menjaga niat, Tuhan yang akan membiayai prosesnya.
2. Sinkronisasi Waktu yang Sempurna
Kalau saya lulus CPNS saat itu, mungkin saya tidak akan sempat ambil S2 secepat itu. Kalau syarat dosen tetap S1, mungkin saya akan malas lanjut sekolah. Regulasi yang tadinya terlihat seperti "penghambat", ternyata adalah "Traffic Controller" yang mengalihkan saya dari kemacetan karir biasa menuju jalur ekspres akademisi.
Poin Aha Bab Ini:
"Jangan pernah mengutuk pintu yang tertutup di depan matamu. Seringkali, pintu itu dikunci karena di balik sana ada jalan buntu, sementara Tuhan sedang membukakan pintu lain yang berisi beasiswa dan fasilitas penuh. Saya berangkat S2 bukan dengan modal uang, tapi dengan modal sabar yang iurannya sudah saya bayar lunas selama bertahun-tahun jadi honorer."
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda
No comments:
Post a Comment