KATA PENGANTAR: Nalar di Balik Tawa dan Penundaan
Buku yang Anda pegang ini bukanlah tutorial menjadi Profesor dalam semalam. Bukan pula panduan sukses berisi langkah-langkah pasti yang membosankan. Ini adalah sebuah "Log File" dari perjalanan seorang anak manusia yang lebih sering menemui kata "Pending" daripada "Success" dalam urusan administratif dunia.
Di dalamnya, Anda akan menemukan bahwa menjadi pintar saja tidak cukup. Saya pernah gagal di S2, "alergi" terhadap soal pilihan ganda CPNS, dan seringkali menjadi yang terakhir dalam urusan ekonomi keluarga. Namun, di balik setiap penundaan itu, saya menemukan sebuah algoritma rahasia yang saya sebut sebagai Nalar Someah.
Saya menuliskan catatan-catatan ini bukan untuk pamer gelar, melainkan untuk berbagi rahasia sederhana:
- Bahwa mengalah (seperti kisah sandal saya) adalah bentuk kemenangan yang paling tenang.
- Bahwa jujur tidak tahu (seperti kisah ujian statistik saya) justru membuka pintu kolaborasi yang luar biasa.
- Dan bahwa tersenyum adalah antarmuka (interface) terbaik untuk menghadapi regulasi hidup yang seringkali berubah tanpa notifikasi.
Terima kasih kepada Ibu, Ayah sang "Sufi Modern", dan Kakak saya yang telah menjadi support system paling stabil saat hidup saya sedang crash. Terima kasih pula kepada teman-teman seperjuangan yang sudah mau "belajar berjamaah" demi menyelamatkan nalar saya yang payah di hadapan matematika.
Bagi Anda yang hari ini merasa karirnya sedang tertunda, atau merasa menjadi "anomali" di tengah kerumunan, bacalah buku ini dengan santai. Jangan terlalu serius, karena hidup ini—seperti nalar saya—terkadang butuh waktu untuk "tidur" sejenak sebelum melakukan restart menuju kesuksesan yang lebih besar.
Selamat membaca, selamat tertawa, dan jangan lupa untuk tetap Someah.
Sumedang, Februari 2026
Profesor Ahda
SINOPSIS: MEMOAR SANG DEWA PENIDUR
Apa jadinya jika seorang Profesor Ilmu Komputer ternyata pernah gagal ujian Matematika SMA?
Hidup Ahda adalah sebuah anomali. Di saat saudara-saudaranya mulus menjadi PNS, ia justru terjebak dalam labirin karir yang "pending". Dari menjadi tukang servis komputer yang tidur di lantai tanah, hingga menjadi guru honorer yang lebih sibuk membagikan senyum daripada mengejar nilai.
Ia adalah "Gelandang Pengangkut Air" di lapangan hijau dan ruang kelas—sosok yang lebih suka memberikan assist agar orang lain mencetak gol, daripada menjadi bintang sendirian. Ia menolak pilihan ganda karena nalarnya terlalu luas untuk sekadar kotak A, B, dan C.
Lewat buku ini, Profesor Ahda mengajak kita menertawakan kegagalan dan merayakan penundaan. Sebuah catatan jujur tentang:
- Bagaimana mengalah bisa menjadi senjata paling ampuh untuk menang.
- Mengapa menjadi "anomali" di lembar jawaban statistik justru bisa membawa keberuntungan.
- Dan bagaimana prinsip Lillah serta budaya Someah mampu mengubah nasib dari honorer pas-pasan menjadi akademisi masa depan.
Ini bukan sekadar memoar, tapi sebuah pengingat bahwa: Tuhan tidak sedang menghambat langkahmu, Dia hanya sedang mensinkronisasi waktumu dengan keberhasilan yang lebih besar.
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|

No comments:
Post a Comment