BAB 18: The Divine Assignment
(Tugas Ilahi: Menjadi Alamat yang Salah di Mata Jin)
Banyak orang menyangka saya membuka "praktik" atau punya ambisi menjadi praktisi ruqyah. Padahal, saya selalu curhat kepada Allah dengan jujur: "Gusti, saya tidak minta pasien, saya juga tidak sok tahu ingin meruqyah. Tapi saya yakin, pasien-pasien ini dikirim oleh-Mu." Bagi saya, pasien bukan objek untuk menunjukkan kesaktian, tapi sebuah Amanah. Jika saya biarkan mereka menderita sementara Allah sudah mengarahkan mereka kepada saya, maka itu adalah dosa kelalaian struktural.
1. Protokol "Penitipan" Total
Inilah kunci kenapa saya bisa tidur pulas dan jin-jin itu bosan menghadapi saya. Saya menggunakan protokol "Titip Balik".
- Pasien datang dari Allah, maka saya urus dengan kekuatan dari Allah.
- Diri saya dan keluarga saya adalah milik Allah, maka saya titipkan kembali semuanya kepada Pemilik-Nya.
Ketika seseorang sudah menitipkan segala miliknya kepada Sang Pemilik Semesta, maka "asuransi"-nya langsung dari Langit. Jin mau menyerang lewat mana? Semua pintunya sudah dikunci oleh Allah karena kita sudah menyerahkan "kunci rumah" kita kepada-Nya.
2. Menjadi Saluran, Bukan Sumber
Saya sadar saya hanyalah pipa. Airnya (kesembuhan) dari Allah. Saya tidak perlu merasa hebat saat air itu mengalir, dan saya tidak perlu takut saat pipa itu diguncang jin, karena yang memasang dan menjaga pipa itu adalah Allah sendiri.
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment