9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Katabah Berbagi
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Friday, May 8, 2026

Kritik KDM BAB 1: SINDROM REPORTER SEPAK BOLA & PARADOKS KTP


1.1. Menonton dari Tribun Nyaman

Dalam dunia sistem informasi, ada istilah User Acceptance Testing (UAT). Tapi dalam dunia politik Jawa Barat, kita menemukan fenomena unik: Tribun Acceptance Testing.

Banyak pejabat dan tokoh yang perilakunya persis seperti reporter atau penonton sepak bola di tribun. Mereka duduk manis, memegang mikrofon (media sosial), lalu berteriak menyalahkan pemain yang sedang lari tunggang langgang mengejar bola.

  • "Harusnya oper ke kiri!"

  • "Kenapa tendangannya meleset?"

  • "Itu strategi kuno!"

Padahal, jika si reporter itu disuruh turun ke lapangan, lari 5 menit saja mungkin sudah butuh oksigen tambahan. Inilah wajah pengkritik KDM: Kaya akan retorika, miskin akan portofolio.

1.2. Kasus Pajak Motor: "Syntax Error" vs "User Experience"

Baru-baru ini, sebuah langkah revolusioner diambil: Membayar Pajak Motor tanpa syarat KTP asli. Para "Penonton" di tribun birokrasi langsung berteriak: "Ini pelanggaran prosedur! Ini bertentangan dengan UU! Ini Syntax Error!"

Mari kita audit secara nalar Ahda:

  • Logika Penonton: Mereka lebih mencintai Prosedur (Syntax) daripada Hasil (Output). Bagi mereka, membiarkan rakyat menunggak pajak karena kesulitan administrasi lebih "benar" daripada memudahkan rakyat tapi sedikit melenturkan aturan.

  • Logika KDM (The System Architect): Beliau fokus pada User Experience (UX). Beliau tahu bahwa sistem dibuat untuk memudahkan manusia, bukan untuk membelenggu manusia. Jika syarat KTP menghambat aliran dana masuk ke kas negara (pendapatan daerah), maka syarat itu adalah "Bug" yang harus di-bypass.

1.3. Fleksibilitas di Tangan Orang Baik

Seorang Profesor hukum mungkin benar secara tekstual bahwa aturan itu kaku. Namun, sejarah peradaban membuktikan bahwa "The Good Leader is the Best Algorithm".

Aturan bisa menjadi fleksibel bukan karena ingin melanggar hukum, tapi karena pimpinannya memiliki Nalar Solutif. Ketika KDM memutuskan untuk mempermudah pajak motor, beliau sedang melakukan "Performance Tuning" terhadap birokrasi yang selama ini lemot dan berkarat.

**

Vonis Nalar Bab 1:

Kritik dari para pejabat nyinyir itu sebenarnya hanyalah "System Noise". Mereka berisik bukan karena sistemnya rusak, tapi karena mereka malu. Mereka malu karena selama bertahun-tahun memegang kendali, mereka tidak pernah punya keberanian untuk melakukan update sistem yang memihak rakyat kecil.

"Kritik tanpa aksi adalah polusi. Jika Anda tidak pernah turun memegang sapu, jangan pernah mengajari orang yang sedang membersihkan selokan cara memegang gagangnya."


 "Kritikus sibuk meratapi 'miliaran' yang keluar untuk subsidi, sementara pemimpin bervisi besar sedang menjemput 'triliunan' yang akan menghidupi rakyat di masa depan. Perbedaan antara negarawan dan pecundang adalah pada jarak pandang nalarnya."

** 

Daftar Isi Kritik KDM


"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment