9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Katabah Berbagi
CV dan Lowongan Kerja
Digitalisasi Cisewu dan Sunda
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Tuesday, May 26, 2026

Manifesto Prof. Ahda Bab 43: Sebuah Renungan untuk Sang Nakhoda

 

Bab 43: Surat Cinta yang Tak Terkirim: Sebuah Renungan untuk Sang Nakhoda

Dalam sebuah perjalanan organisasi, ada kalanya seorang Arsitek harus meletakkan cetak birunya sejenak dan mengambil pena untuk menuliskan apa yang tidak tertangkap oleh radar rapat-rapat formal. Tulisan ini adalah sebuah potret realitas, sebuah "Surat Cinta" yang ditujukan kepada siapapun yang memegang kemudi, agar tidak lupa pada detak jantung kapal yang dipimpinnya.

 

Yth. Sang Nakhoda di Menara Gading,

Bismillah. Saya menulis ini dengan takzim, sebagai bagian dari awak kapal yang masih percaya bahwa kapal ini bisa berlayar melampaui samudera, bukan sekadar berputar-putar di pelabuhan yang sama.

Namun, izinkan saya menyampaikan kegelisahan dari ruang mesin:

  1. Tentang Mesin yang Bekerja Sendiri: Tahukah Anda bahwa selama ini ada bagian-bagian kapal yang hanya digerakkan oleh satu-dua orang? Mulai dari merancang peta perjalanan (kurikulum), memastikan logistik penumpang (transkrip), hingga menjaga kestabilan sinyal komunikasi (server jurnal pribadi). Ini bukan lagi tentang loyalitas, tapi tentang sistem yang mulai keropos karena membiarkan beban tertumpu pada satu pundak saja.

  2. Heningnya Respon di Geladak: Beberapa waktu ini, saya mencoba menguji sistem komunikasi kita. Saat "jembatan hati" ditarik, respon di geladak seketika sunyi. Ini adalah data nyata bahwa saluran komunikasi resmi kita sedang tersumbat oleh kabut kemalasan. Para petugas yang seharusnya sigap, justru terlihat asyik dengan dunianya sendiri sementara penumpang kebingungan mencari arah.

  3. Diplomasi di Luar Protokol: Di saat birokrasi gemetar menghadapi otoritas di daratan, saya melangkah dengan cara berbeda. Bukan dengan ancaman atau surat berstempel kaku, tapi dengan kejujuran dan "nasi bungkus" ketulusan. Karena saya percaya, masalah sistemik tidak akan selesai di tangan orang-orang yang hanya berani di balik meja, tapi di tangan mereka yang mau turun dan memanusiakan manusia.

  4. Menolak Menjadi Pabrik Kertas: Kapal ini tidak boleh hanya dikenal karena mampu mencetak tiket (ijazah). Kita harus dikenal karena mampu mencetak manusia. Jika para pengelola lebih mencintai kenyamanan daripada pelayanan, maka jangan salahkan jika saya memilih jalur alternatif untuk menyelamatkan nalar para penumpang.

Nakhoda yang saya hormati, etika saya tetap menjunjung tinggi kehormatan Anda. Saya tetap akan bersalaman dengan hormat setiap kali kita bertemu. Namun, loyalitas tertinggi saya adalah pada kebenaran dan masa depan mereka yang mempercayakan mimpinya pada kita.

Saya tetap di sini, menjaga api di ruang mesin. Namun, jangan biarkan api ini padam karena ketiadaan udara keadilan dan kerja sama yang nyata.

Tertanda,

Sang Arsitek di Balik Layar

 

***

Kembali ke Daftar Isi Ahda 

 

"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment