9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Katabah Berbagi
CV dan Lowongan Kerja
Digitalisasi Nalar Sunda Cisewu
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Tuesday, June 9, 2026

10 Dekalog Sunda Ahda (Sapuluh Siloka Nalar)

 

Dekalog ini dirancang dengan memadukan kearifan lokal Sunda (filosofi kasundaan), ketajaman logika sistem informasi, dan pendekatan diplomasi Sokratik yang santun di luar namun mematikan secara argumen di dalam.

Berikut adalah 10 prinsip taktis yang bisa menjadi kompas pergerakan dan jangkar waras kita:

1. Kudu Hade Gogonjakan, Matih Silokan (Santun Bertutur, Mematikan Lewat Siloka)

  • Prinsip: Menghadapi zombi birokrasi tidak perlu dengan urat leher yang tegang atau amarah yang meledak-ledak. Gunakan humor, analogi satire, dan kalimat bersayap (siloka). Biarkan lawan bicara tersenyum di luar, namun logikanya berdarah-darah di dalam karena tersindir oleh kebenaran.

2. Teu Kudu Ngamuk, Keun Sistem Nu Ngawuruk (Automated Accountability)

  • Prinsip: Alih-alih menghabiskan energi untuk menegur SDM yang malas atau unit yang "tidur", bangunlah sebuah sistem digital yang transparan. Biarkan log sistem, visualisasi data, dan automated workflow yang menjadi cermin jujur. Sistem tidak punya rasa risih; ia akan memperlihatkan siapa yang bekerja dan siapa yang hanya menumpang nama.

3. Ulah Janten Kurir Data, Kudu Janten Nu Gaduh Rasa (Melawan Zombi Digital)

  • Prinsip: Di era AI dan otomatisasi, kasta tertinggi manusia bukan lagi sekadar menjadi pemroses data atau kurir pengirim pesan WA. Jangan biarkan jabatan akademik direduksi menjadi robot admin. Pertahankan fungsi tertinggi manusia: berpikir kritis (nalar), empati, spiritualitas, dan kebijaksanaan.

4. Ngaji Rasa, Nalar Dipake Curhat Ka Langit (Sari Pati Jalur Lillah)

  • Prinsip: Kritik sosial dan birokrasi yang kita lontarkan tidak boleh bermuara pada kebencian personal. Setiap sumbatan logika di dunia harus dilarungkan dalam kepasrahan spiritual (Jalur Lillah). Jadikan ruang sunyi—seperti menepi di pinggir jalan saat naik motor atau keheningan malam—sebagai tempat stress test batin untuk membersihkan niat.

5. Ulah Silau Ku Serat, Kudu Nyata Ku Labuh Tapak (Kedaulatan Karya vs Gila Gelar)

  • Prinsip: Gelar, sertifikat, dan kertas akreditasi sering kali menjadi berhala baru di menara gading. Jangan silau oleh formalitas administratif. Nilai sejati seorang akademisi diukur dari labuh tapak (jejak nyata) karyanya di masyarakat, tulisan yang mencerahkan, dan kemampuannya melahirkan manusia-manusia berakal budi.

6. Tukang Servis Logika: Ngomean Anu Bengkok, Lain Milari Pamuji

  • Prinsip: Posisikan diri bukan sebagai penguasa kebenaran yang minta dihormati, melainkan sebagai "Tukang Servis Logika". Tugas kita adalah memperbaiki alur berpikir yang rusak, meluruskan salah kaprah birokrasi, dan membongkar kemalasan struktural. Fokus pada perbaikan sistem, bukan pada tepuk tangan publik.

7. Tuker Guling Nilai: Ngahargaan Proses, Lain Sakenyep Kabingung

  • Prinsip: Dalam mendidik, hancurkan tirani penilaian yang hanya mengandalkan "satu jam keberuntungan" di ruang ujian. Gunakan prinsip penilaian autentik: hargai tetesan keringat mahasiswa sepanjang semester, proses mereka memecahkan masalah, dan konsistensi belajarnya. Pendidikan adalah maraton pertumbuhan, bukan sprint administratif.

8. The Dominant Learner: Kelas Dicekel Ku Nu Hanaang, Lain Ku Nu Gaduh Palu

  • Prinsip: Otoritas sejati di ruang kelas atau ruang rapat tidak ditentukan oleh palu sidang atau jabatan formal. Ruang peradaban akan selalu dikendalikan secara alami oleh mereka yang hanaang (haus) akan ilmu, memiliki nalar yang tajam, dan berani mengeksplorasi kebenaran. Jadilah magnet literasi, bukan penguasa regulasi.

9. Ekonomi Kehangatan: Nyebar Elmu Sangkan Jadi Maslahat

  • Prinsip: Di tengah gempuran dunia yang semakin dingin, mekanistis, dan transaksional, bangunlah "Ekonomi Kehangatan". Bagikan ilmu pengetahuan secara inklusif (lewat blog, video, atau buku) agar bisa diakses oleh siapa saja. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang membumi dan membawa maslahat bagi orang banyak.

10. Misteri Bab 48: Niat Sing Bersih, Catetan Cukup di Langit

  • Prinsip: Tidak semua perjuangan, kebaikan, atau pemikiran kita harus terekam dan diakui oleh dunia. Layaknya Bab 48 yang hilang secara misterius dalam Manifesto, biarkan sebagian dari ikhtiar terbaik kita menjadi rahasia antara kita dan Sang Pencipta. Kekosongan di mata manusia adalah kepenuhan di catatan langit.

Versi full bahasa Sunda
 
 
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment