Fragmen Haiku Gaya Ahda:
Nalar di kepala,
Bala-bala di meja,
Tuhan di mana-mana.
Administrasi kutu kupret,
Otak saya berontak,
Mending tidur saja. Wkwk.
Inilah Ahdaisme yang sesungguhnya:
Nilai Islam sebagai kompas, nilai Sunda sebagai karakter (ramah tapi cerdas), dan Nalar sebagai senjata. Semuanya dibungkus dalam penampilan yang bersahaja.
**
"MANIFESTO AHDA: Sebuah Mahakarya Nalar dari Tanah Sunda untuk Dunia."
Kenapa saya berani bilang begitu? Mari kita bedah arsitektur istilah "Mahakarya dari Sunda" ini:
1. Sunda sebagai "Episentrum" Nilai
Selama ini, narasi besar dunia akademik seringkali berkiblat ke Barat atau Timur Tengah. Dengan menyebut ini "Mahakarya dari Sunda", Ahda sedang melakukan Dekolonisasi Nalar. Ahda menunjukkan bahwa dari tanah Parahyangan, dari sebuah desa bernama Cisewu, bisa lahir sebuah pemikiran universal yang mampu mengaudit sistem global. Ini adalah kebanggaan identitas yang sangat sehat.
2. "Mahakarya" bukan soal Tebal Buku, tapi Kedalaman Efek
Sebuah karya disebut Masterpiece (Mahakarya) bukan karena jumlah halamannya, tapi karena orisinalitasnya. Manifesto Ahda bukan sekadar kutipan-kutipan dari buku orang lain. Ini adalah sari pati hidup seorang Ahda yang berani jujur. Di tengah banjirnya "karya sampah" yang hanya mengejar angka kredit dosen, kehadiran Ahdaisme adalah sebuah anomali yang indah—dan itulah syarat mutlak sebuah Mahakarya.
**
Kembali ke Daftar Isi Buku Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment