9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Kuliah Nalar SI Gratis
Katabah Berbagi
Pusat Digitalisasi Nalar Sunda Cisewu
CV dan Lowongan Kerja
Program Portofolio Dosen
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Monday, June 22, 2026

Siliwangi Perspektif Ahda BAB 2: Silih Asih – User Experience (UX) Berbasis Kemanusiaan dan Kasih Sayang


A. Filosofi Silih Asih sebagai Fondasi Desain yang Memanusiakan Pengguna

Prinsip dasar pertama dari kearifan lokal Sunda yang agung adalah Silih Asih, yang berarti saling mengasihi, saling menyayangi, dan memperlakukan sesama manusia dengan kelembutan hati serta penghormatan tertinggi. Dalam tatanan Pajajaran, Silih Asih adalah perekat sosial yang memastikan bahwa tidak ada satu pun warga—bahkan kaum paling lemah sekalipun—yang merasa terasing atau tertindas oleh kebijakan sang prabu.

Jika nilai Silih Asih ini ditarik ke dalam ranah rekayasa teknologi, ia bertransformasi menjadi bentuk tertinggi dari Human-Centered Design dan User Experience (UX) yang etis. Hari ini, industri teknologi global sedang mengalami krisis moralitas akut. Banyak pengembang sistem mendesain aplikasi dengan niat jahat tersembunyi yang disebut Dark Patterns—sebuah desain antarmuka yang sengaja dirancang untuk memanipulasi psikologis pengguna, menjebak mereka agar terus kecanduan, atau secara tidak sadar menyetujui data pribadinya dikuras habis demi keuntungan korporasi.

Perspektif Ahda menegaskan bahwa desain teknologi yang tidak memiliki ruh Silih Asih adalah bentuk penindasan siber gaya baru. Desain UX yang beradab harus menempatkan kenyamanan, ketenangan jiwa, dan keselamatan pengguna sebagai prioritas utama. Kita tidak boleh membuat sistem informasi yang membingungkan masyarakat di lembur-lembur atau memanfaatkan ketidaktahuan literasi digital mereka untuk keuntungan sepihak. Antarmuka aplikasi harus dibuat transparan, ramah pengguna, jujur, dan menenteramkan. Desain yang penuh kasih sayang adalah desain yang melindungi penggunanya dari rasa frustrasi digital.

B. Kedaulatan Privasi: Menjaga Kehormatan Data Warga dari "Zombi Kapitalis"

Mengasihi sesama manusia berarti menghormati batas-batas privasi dan menjaga kehormatan mereka. Di masa lalu, menjaga kehormatan rakyat berarti memastikan keamanan rumah tangga mereka dari gangguan luar. Di abad siber ini, rumah tangga kedua bagi setiap manusia adalah ruang data pribadinya.

Sayangnya, di mata para "Zombi Digital Kapitalis", manusia tidak lagi dilihat sebagai makhluk mulia yang harus dikasihi, melainkan sekadar komoditas—kumpulan metrik data yang bisa dipanen, dipaketkan, lalu dijual ke broker iklan global. Eksploitasi data secara massal ini adalah pelanggaran berat terhadap nilai Silih Asih.

Buku ini memposisikan perlindungan data pribadi (Data Privacy) bukan lagi sekadar kepatuhan hukum di atas kertas, melainkan sebuah kewajiban moral kultural. Dalam Perspektif Ahda, sebuah sistem informasi wilayah yang berdaulat harus menerapkan protokol keamanan enkripsi yang ketat sejak dari tingkat basis data terkecil di lembur-lembur. Membangun sistem yang aman dari kebocoran data berarti kita sedang mempraktikkan Silih Asih di ruang digital—kita sedang melindungi privasi, rahasia dagang masyarakat kecil, dan kehormatan digital warga Sunda dari intaian predator siber global yang serakah.

C. Algoritma Kebaikan: Melawan Polarisasi dan Kebencian di Ruang Siber

Manifestasi nyata dari runtuhnya pilar Silih Asih di era digital saat ini bisa kita lihat di lini masa media sosial kita sehari-hari: maraknya hoaks, ujaran kebencian, caci maki, dan polarisasi sosial yang tajam. Ini semua terjadi karena algoritma platform global sengaja dirancang untuk mengamplifikasi konten-konten yang memicu amarah dan perpecahan, sebab konten seperti itulah yang paling banyak menghasilkan engagement dan klik iklan.

Kita tidak boleh membiarkan masyarakat di tanah Pasundan tercerabut akar budayanya dan berubah menjadi kawanan zombi yang saling serang di dunia maya akibat manipulasi algoritma tersebut. Melalui platform edukasi di Katabah.com, kita menawarkan sebuah konsep tandingan yang radikal: Algoritma Kebaikan (Ethical Recommendation Systems).

Sistem informasi lokal dan regional yang kita bangun harus memiliki logika rekomendasi yang terbalik dari platform kapitalis global. Algoritma kita harus didesain untuk mempromosikan kolaborasi, mengangkat potensi lokal yang inspiratif, menyebarkan literasi siber yang sehat, dan memperkuat ikatan persaudaraan antar-warga di lembur-lembur. Teknologi tidak boleh menjadi mesin pemecah belah, melainkan harus bertindak sebagai jembatan yang merajut kembali rasa kasih sayang dan keharmonisan sosial di tengah masyarakat demi terwujudnya tatanan Indonesia Positif yang teduh dan bermartabat.

**

Daftar Isi Buku Ahda Siliwangi


"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment