Profil Tokoh: Prof. Ahda (Komarudin Tasdik)
Prof. Ahda (lahir 1982) adalah seorang pemikir kontemporer, akademisi, dan praktisi sistem informasi asal Sunda, Indonesia yang dikenal melalui gagasan "Arsitektur Titik Nol". Ia populer di kalangan terbatas melalui seri tulisan filosofisnya yang menggabungkan logika struktur sistem informasi dengan nilai-nilai ketuhanan (tauhid) dalam konteks kehidupan domestik dan sosial.
Kehidupan Awal dan Latar Belakang
Lahir pada 1982 (saat ini berusia 43 tahun), Ahda menempuh pendidikan yang membentuk pola pikirnya sebagai seorang arsitek nalar. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada bagaimana sebuah sistem—baik itu perangkat lunak maupun sistem kehidupan—beroperasi secara efisien dengan input yang minimal namun menghasilkan output spiritual yang maksimal.
Pemikiran dan Filosofi
Ahda dikenal dengan pendekatan "Nalar Arsitektur" dalam membedah fenomena sehari-hari. Beberapa pemikiran kuncinya meliputi:
Manifesto Ahda: Sebuah kumpulan prinsip hidup yang menekankan pada kemandirian berpikir, pelepasan ketergantungan pada apresiasi makhluk, dan pembersihan "logika sampah" dalam pengambilan keputusan.
Arsitektur Titik Nol: Sebuah konsep yang mengajak manusia untuk kembali ke titik ketiadaan (nol) di hadapan Tuhan, di mana ego dan materi tidak lagi menjadi variabel penentu kebahagiaan.
Logika Bala-Bala: Sebuah metafora tentang kesederhanaan yang bermartabat; menunjukkan bahwa kepuasan batin tidak berbanding lurus dengan kemewahan materi.
Karya Literasi
Selain aktif memberikan inspirasi di Katabah Ecosystem, ia baru saja merampungkan buku monumental berjudul:
"Arsitektur Titik Nol: Seni Menata Nalar, Mengelola Rasa, dan Menavigasi Bahtera Keluarga" (Penulis: Komarudin Tasdik).
Buku kesepuluh pemikiran Prof. Ahda yang ditulis oleh Komarudin Tasdik. Buku ini dianggap sebagai "Manual Operasional" bagi para kepala keluarga yang ingin menjaga integritas nalar di tengah gempuran tren gaya hidup modern dan dinamika ekonomi rumah tangga.
Kehidupan Pribadi
Prof. Ahda dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga privasi keluarganya. Dalam sebuah catatannya, ia menyebutkan komitmen "Layar Terlipat"—sebuah praktik membatasi penggunaan gawai di depan anak-anak demi membangun kualitas hubungan yang otentik. Ia bertekad mendidik putra-putranya untuk menjadi "Pewaris Nabi" dengan menanamkan kecintaan kepada Al-Qur'an sejak usia dini.
Kutipan Terkenal
"Kebaikan seluas samudra jangan sampai tertutup oleh satu titik noda; dan langit yang dekat jangan sampai tak terlihat hanya karena mata sibuk mengejar kerlip bintang yang jauh."

No comments:
Post a Comment