Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan FB Gratis | Sunda | Kontak | Gmail | Uang Adsense
Kuliah Sistem Informasi,
Jurnal Ilmiah Sistem Informasi
STMIK JABAR
LP3I Tasikmalaya
Jurnal STAI al Falah
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Saturday, June 28, 2014

Ini Pandangan Keliru Tentang Dilarang Golput

Momen Ramadhan dan kampanye berbarengan? Mantaaap! Moga saja tim kampanye dan Capres tidak saling menjelekkan. Biasanya begini: “Ini bulan Puasa, kita tidak boleh marah-marah.” Atau “Kalau bukan bulan Puasa, sudah saya marahin dia!”

Melihat kebiasaan masyarakat ngomong seperti di atas jadi lucu juga, bahkan geli. Memangnya di bulan lain dibolehkan marah-marah. Hiks…hiks…

Kembali ke Golput. Ini beberapa alasan orang-orang melarang Golput:

1.      Golput itu tidak berhak demo terhadap pemerintah
Ini geli juga. Masa yang Golput tidak boleh demo, tapi yang milih Capres kalah bisa demo. Hiks…hiks…

Misal, ada Capres A dan B. Si A jadi presiden, masa pendukung Capres B boleh demo? Kan harusnnya ia demo ke Capres B, sementara pemerintah dipegang oleh Capres A.


2.      Golput itu bisa bentuk protes atau sudah percaya
Setidaknya ada dua kemungkinan Golput:
a.      Masyarakat sudah muak dan tidak memiliki calon yang diinginkannya. Kalau calon pemimpinnya enggak dikenal, koruptor, atau ‘gila’, kenapa harus dipilih?

b.      Bisa juga, masyarakat sudah sangat percaya kepada KPU. Capres kan diverifikasi KPU, maka tidak mungkin ada Capres yang akan meruntuhkan negara Indonesia ini. Kalau ada Capres yang akan merusak bangsa ini, mungkin KPU tidak akan meloloskan, MUI akan menerbitkan fatwa haram, presiden akan menginstruksikan rakyat untuk milih sebagai wajib militer. J


Kalau KPU meloloskan Capres atau Caleg dari kalangan penjahat, kita bubarkan saja KPU. Mau???


3.      Golput itu bukan warga yang baik
Memangnya yang nyoblos itu pasti warga yang baik. Ini beberapa alasan orang yang nyoblos:
a.      Karena tahu rekam jejaknya (bagus)
b.      Karena keluarganya jadi calon (nepotisme)
c.       Karena dibayar calon legislatif atau presiden (suap/korupsi)
d.      Karena takut dikucilkan warga sekitar (munafik, lebih halusnya tidak memiliki keberanian)
e.      Ikut ramai saja (orang enggak jelas)

Yang Golput memiliki alasan antara lain:
a.      Tidak peduli
b.      Merasa tidak dipedulikan pemerintah
c.       Tidak memiliki calon yang sesuai hatinya, bukan yang ideal ya…
d.      Ingin protes. Seharusnya pemerintah itu mengambil sikap terhadap orang-orang yang Golput, kenapa sih mereka Golput? Tampung alasan mereka, kemudian jadikan masukan dalam pembuatan kebijakannya.

Begitu teman-temanku sekalian. Jadi, kalau ada ustadz mengatakan “Golput itu haram, memilih pemimpin itu wajib” memang benar. Tapi konteksnya seperti apa dulu. Masa memilih pemimpin dengan ngitung kancing seperti ngisi lembar Jawaban Komputer (LJK) UN tidak diharamkan? Itu namanya pemahaman kontekstual, padahal kita harus tahu penafsirannya.

Jadi, Golput enggak Golput enggak perlu dipersalahkan kok. Namun kalau sudah ada pilihan berdasarkan rekam jejak, sebaiknya milih agar Indonesia lebih baik lagi.

Sebaliknya, kalau enggak tahu rekam jejak Capres, lebih baik enggak milih deh! Agar Indonesia tahu keadaan masyarakat sebenarnya, sehingga tidak akan mengklaim bahwa partisipasi masyarakat Indonesia dalam menegakkan demokrasi sangat bagus, padahal masyarakat hanya asal coblos aja. Malu, kan? Hikss..hiks…

Golput = OK
Milih = OK

Ha…ha…ha…

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
Belajar Bahasa Inggris dan Arab di WA dan FB Gratis!

No comments:

Post a Comment