Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Friday, April 10, 2015

Hadits Shahih Pun Tak Dijamin 100% Benar!

Sebagian orang suka sekali mempertahankan pendapatnya tentang Islam seolah-olah hanya dia atau kelompoknyalah yang paling benar.

Dengan berbekal koleksi buku atau hapalan Quran dan Hadits, mereka seolah tak mau mengalah terhadap pendapat orang-orang yang berpendapat tanpa menukil hadits. Menurut saya, ini tidak benar!

Mari kita perhatikan pendapat sangat berani dari guru Cak Nur, Fazlur Rahman yang menyatakan bahwa “Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi oleh kaum muslimin sendiri.” Lebih sederhananya Rahman berkata: “Hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat Muslim di masa lampau.”

Kalau orang yang menganut paham primitif dan taklid buta mungkin membaca pendapat Fazlur Rahman akan terperanjat. Wah, ini keterlaluan nih! Tidak menghargai para perawi hadits!!! “Hadits itu bukan komentar kaum Muslimin, tapi perkataan Nabi tahu!!!”

Yang saya perhatikan banyak orang menganggap bahwa hadits shahih itu benar 100%. Namun saya belum yakin kalau benar 100% karena penulisan hadits itu merupakan hasil dari penelitian para perawinya.

Kalau yang menulis hadits itu Rasulullah sendiri atau Rasulullah mendiktekan langsung kepada sahabatnya mungkin saya akan percaya bahwa hadits shahih itu benar 100%.

Berangkat dari kemungkinan adanya kesalahan dari kumpulan hadits, maka tidak dibenarkan kalau kita merasa paling benar dalam memahami Islam walaupun kita sudah mampu menghapal semua Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Jangankan hadits, ‘kebenaran’ Quran pun tidak dijamin 100% sehingga menjadikan kita menyombongkan diri. Kok bisa?

Maksudnya begini…
Bukan Qurannya yang salah, tapi…
Meskipun kita sudah hapal dalil Quran dan tafsirnya tentang suatu masalah yang kita sedang perdebatkan, belum tentu kita termasuk yang paling benar. Kenapa?

Karena makna Quran dan Tafsirnya itu sangat tergantung pada kemampuan  kita yang memahaminya. Meskipun tafsir yang kita baca berada dalam kelas tafsir terbaik di dunia, namun belum tentu kemampuan kita untuk memahami tafsir tersebut sama bagus (sekelas) dengan ahli tafsirnya, bukan?

Misal, kita membaca tafsir Almisbah karya Quraish Shihab. Maka pemahaman saya, Anda, para ustadz dan para anggota MUI mungkin berbeda, kan? Apalagi kalau dibandingkan antara pemahaman saya dan Pak Quraish Shihab kemungkinan besar berbeda, padahal yang dibaca sama “Tafsir Almisbah”.

Jadi, hindarilah merasa diri paling benar meskipun dalil Quran dan Hadits sudah hapal di luar kepala! Karena Quran dan Hadits itu tidak cukup dihapal, namun harus dipahami. J

Sumber:
Fauz Noor. Berpikir Seperti Nabi.



"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...

No comments:

Post a Comment