Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Tuesday, September 22, 2015

Al-Fatihah 2 Tata Bahasa Arab

Hello Katabah!
Setelah belajar tata bahasa Arab melalui Q.S. al-Fatihah ayat 1, saya ingin belajar lagi pada ayat 2. Ini hasilnya:

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ
(Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam)

Kalau melihat dari kata “alhamdu” (الْحَمْدُ), saya melihatnya tidak ada keterkaitan tata bahasa dengan ayat 1.

1. Kenapa dibaca “alhamdu” (الْحَمْدُ), bukan “alhamdun” (الْحَمْدٌ)?
Karena “alhamdu” termasuk isim (kata benda) dan apabila sebuah isim diawali huruf alif lam (ال), maka harokat akhirnya tidak boleh tanwin.


Secara harfiah, tidak ditemukan makna ‘segala puji’, tapi hanya ada “puji” saja. Bahasa Arabnya “segala” adalah “kullu” (كُلُّ).

2. Kenapa dibaca “lillahi” (لِلهِ), bukan “lillahu”?
Teks “lillahi” berasal dari dua kata, yaitu: “li” (artinya: milik) dan “Allahu” (Artinya: Allah).

Kata “li” (لِ) disebut huruf jar. Sedangkan kata “lahi” berasal dari kata “Allahu” yang mana disebut “isim”.

Jika isim didahului huruf jar, maka harokat akhirnya harus dibaca jar. Salah satu tanda jar adalah kasrah. Jadilah “lillahi” (لِلهِ).

3. Kenapa dibaca “rabbi” (رَبِّ)?
Di sini, saya belum punya ilmu untuk melihat pengaruh kata “Allahu” terhadap kata “rabbi”. Akan tetapi, saya melihatnya ada pengaruh dari “li” (milik) terhadap “rabbi” (Tuhan). Mungkin bisa ditulis begini “lirabbi” (لِرَبِّ), artinya: milik Tuhan.

Jadi, awalnya “li” ditambah “rabbun”. Karena kata “li” termasuk huruf jar yang menyebabkan sakal akhir jar (kasrah), maka jadi “lirabbin”.

4. Lalu, mengapa dibaca “rabbi”, bukan “rabbin”? Karena kata “rabbin” diikuti oleh kata “al-‘alamin”. Jadilah “rabbil ‘alamin”. Ini disebut idhafah, yakni “rabbi” berperan sebagai “mudhaf”, sedangkan “al-‘alamin” berperan sebagai “mudhaf ilaih”.

Aturan idhafah menyatakan bahwa mudhaf tidak boleh berharokat akhir tanwin.

5. Mengapa dibaca “al-‘alamin” (الْعَلَمِيْنَ), bukan “al-‘alamuna” (الْعَلَمُوْنَ)?
Kata “al-‘alamin” (الْعَلَمِيْنَ) dan “al-‘alamuna” (الْعَلَمُوْنَ) memiliki arti yang sama, yakni “alam-alam”. Dengan demikian, “al-‘alamin” merupakan bentuk jamak, sedangkan bentuk mufradnya adalah “alamun” (عَالَمٌ).

Alasan tidak menggunakan “al-‘alamuna” (الْعَلَمُوْنَ), melainkan “al-‘alamina” (الْعَلَمِيْنَ) karena dipengaruhi kata “rabbi” (رَبِّ). Ini termasuk idhafah, yakni: kata “rabbi” disebut “mudhaf”, sedangkan “al-‘alamina” disebut “mudhaf ilaih”.

Aturan idhafah menyatakan bahwa mudhaf ilaih harus jar (kasrah). Karena bentuknya jamak, maka dari penambahan huruf wawu dan nun berubah menjadi penambahan huruf ya dan nun.

Seandainya, tidak menggunakan bentuk jamak, maka akan seperti ini:
رَبِّ  الْعَلَمِ(huruf ain seharusnya berharokat fathah berdiri)
atau
رَبِّ  الْعَالَمِ



"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...

No comments:

Post a Comment