Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Tuesday, May 3, 2016

Hari Buruh Sedunia Hanya Demo?



Hello Katabah!
Sebenarnya saya tidak mau mengatakan bahwa hari buruh sedunia itu identik dengan demo atau unjuk rasa di jalan-jalan. Tapi karena kenyataannya begitu, harus berkata apalagi?


Tanpa bermaksud mengecilkan jerih-payah perjuangan para aktivis yang berunjuk rasa membela nasib buruh, tapi ada sedikit kekhawatiran bahwa “jangan-jangan ada buruh yang terlalu ingin mengubah orang lain dibandingkan memperbaiki diri sendiri.”

Ini sedikit kisah dari buku Poor Dad Rich Dad karya Robert T. Kiyosaki:
“Ada karyawan yang hanya menuntut dan komplain kepada bosnya karena gajinya kecil. Mereka hanya menyalahkan bosnya tanpa berpikir bagaimana membenahi diri sendiri agar lebih baik.” Itulah kalau diceritakan dalam bahasa saya sendiri.

Robert menambahkan: “Bukankah mengubah orang lain itu akan lebih sulit dibandingkan mengubah diri sendiri?”

Ungkapan Robert di atas bukan tanpa bukti karena saya pernah mendengar beberapa kali keluhan para pegawai yang pernah satu kantor dulu (maklum saya pernah bekerja di beberapa tempat).

“Sebagian pegawai itu menjelek-jelekkan lembaganya, termasuk bosnya. Mereka ingin bayaran dinaikan atau diberikan fasilitas lebih baik. Mereka sering menggerutu, tapi tetap saja bekerja di lembaga bersangkutan.”

Kebiasaan teman sekantor saya tersebut cukup berbeda dengan saya. Bagi saya, menggerutu karena kecewa terhadap lembaga tempat sendiri itu memang normal. Tapi kalau menggerutu terlalu sering, tidak mau saya lakukan.

Saya berprinsip bahwa jika kita sudah terlalu sering kecewa terhadap suatu tempat kerja dan tidak bisa mengubahnya, maka keluar saja dan bekerjalah di tempat lain atau buka lembaga/usaha sendiri. Ini lebih jantan daripada menggerutu terus.

Nah, saya khawatir para buruh yang demo ada yang suka menggerutu seperti teman sekantor saya di atas. Terus saja menuntut perusahaan menaikkan upah, sementara perusahaannya tidak mampu. Jangankan menaikan upah, pekerja yang ada juga banyak yang di-PHK. Bagaimana coba?

Semoga kekhawatiranku di atas tidak menimpa para buruh yang berunjuk rasa di Hari Buruh 1 Mei kemarin. Selain menuntut kelayakan upah, mari kita berpikir membuat usaha kecil-kecilan atau minimal tidak suka hidup konsumtif. Rokok? Jajan? Shopping? Apakah sudah jarang dilakukan?

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...