Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Friday, August 5, 2016

Desaku Cisewu Garut Kesepian



Hello Katabah!
Hingar bingar dana desa rupanya belum membuat desa Cisewu tercinta tempat kelahiranku ikut ramai lagi. Bahkan seorang warga mengaku sudah bertahun-tahun Cisewu sepi kreativitas walaupun dipimpin oleh kepala desa yang berbeda (sudah melalui 3 kepala desa).


Desa Cisewu di mata warganya mirip Indonesia di mata rakyatnya. Sebagian orang suka berkata: “Lebih enak di jaman Soeharto”. Salah satu warga Cisewu juga berkata: “Lebih enak Pak Lurah ‘ic’.”. Maaf namanya menggunakan inisial saja ya.

Semasa Abah kecil (sebelum masuk SD), banyak perlombaan dan hiburan di Cisewu. Beberapa kakak Abah juga ada yang ikut lomba keagamaan hingga tingkat kabupaten, padahal yang satu baru usia SD. Ia tampil dengan hapalan Quran (tahfidh). Yang satu lagi usia SMA, ia tampil dalam lomba pidato.

Selain itu, pertandingan sepak bola bukan hanya terjadi antar RW, tapi antar sekolah juga ada, minimal antar MAN Cisewu (Dulu masih swasta) vs SMAN Cisewu. Ini sempat menjadi persaingan sengit hingga ada yang kecelakaan fisik karena terlalu semangat nendang bola, eh malah kena betis dan pinggang. Ha..ha…

Abah tahu cerita persaingan sengit antar MAN dan SMAN Cisewu itu dari kakak yang menceritakan ayah saat berjuang menumbuhkan semangat sepak bola kepada para siswa SMA walaupun bukan guru olah raga.

Saat istirahat dari sepak bola, orang lain dijamu minuman instan, anak-anak MA diberi minum telur campur madu. Pas masuk ke babak 2, mereka tampil lebih fit dan energik.

Tidak hanya itu, panggung hiburan pun ramai. Film, wayang, calung dan dangdut dari Bandung masuk ke Cisewu pula. Walaupun ayah pernah menolak kedatangan sebagian acara hiburan karena terlalu seksi, setidaknya ada sebagian hiburan yang lolos sensor lokal untuk warga di kampung tercinta.

Pas Abah remaja, keadaan semakin sepi. Masa usia SD, pertandingan sepak bola anak-anak dan dewasa masih ada, terutama dalam rangka memperingati Agustusan. Akan tetapi, perlombaan lain, seperti cerdas cermat, pidato, dll. nyaris tidak ada (rasanya, benar-benar tidak ada sih…, bukan nyaris lagi).

Seorang warga yang sempat ngobrol saat mudik Lebaran tahun 2016 kemarin menilai: “Sepinya lapang sepak bola Cisewu sejak seorang Lurah memagar lapang tersebut dan mengharuskan warga membeli tiket untuk menyaksikan acara sepak bola.”

Di satu pihak, hasil penjualan tiket memang bisa untuk pengembangan lain. Di pihak lain, warga dari ekonomi lemah tidak bisa menikmati acara gratisan yang biasanya mendatangkan para penonton berduyun-duyun dari berbagai kampung, bahkan dari desa yang berbeda.

Kini, lapang sepak bola desa Cisewu yang biasa dikenal sebagai Lapang Lemah Luhur Cisewu tampak kurang terurus. “Pertandingan sepak bola pun sangat jarang diadakan dan tidak seseru di masa lalu.”

Duh, desaku, kampungku…. Semoga engkau segera ceria kembali.

Baca juga:

"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...

No comments:

Post a Comment