BAB 2: The Architecture of Zero
(Arsitektur Angka Nol: Menemukan Eksistensi dalam Ketiadaan)
Puncak kegagalan tesis S2 saya bukanlah akhir dari sebuah karir, melainkan awal dari sebuah "pencairan" ego. Di titik itu, saya menemukan sebuah kesimpulan yang bagi orang awam terdengar gila: "Allah adalah aku, aku adalah Allah."
Tunggu dulu. Jangan buru-buru menuduh saya sesat. Maknanya bukan saya yang minta disembah, justru sebaliknya: Aku ini sebenarnya tidak ada. La maujuda illallah. Tidak ada yang benar-benar ada, kecuali Dia.
1. Logika Material: Angka Nol
Dalam matematika arsitektur, angka nol adalah titik awal. Manusia itu sejatinya adalah angka nol. Kita tidak punya rasa apa-apa, tidak punya kuasa apa-apa. Jika Allah adalah Sang Pemilik angka "Satu" sampai tak terhingga, maka tanpa angka Satu di depannya, nol tetaplah nol. Kosong. Habā’an manthūrā.
Saat saya gagal total, nalar saya berbisik: "Kenapa risau? Yang gagal itu siapa? Kan kamu tidak ada." Sukses, gagal, sehat, sakit, manis, pahit—semuanya hanyalah "Fasad" (tampilan luar) yang menempel pada bangunan yang sebenarnya fana. Semuanya tiada. Jadi, buat apa merisaukan sesuatu yang tidak ada?
2. Teologi Kematian: Puncak Kepasrahan
Nalar saya sampai pada titik ekstrem: Jika gagal total, paling tidak bisa makan. Kalau tidak makan, ujungnya mati. Dan kenapa harus takut pada kematian? Dalam arsitektur takdir, kematian hanyalah proses "pindah kavling" dari dunia yang sempit ke dimensi yang luas.
Inilah puncak kemerdekaan nalar: "Biasa saja hidup mah."
Ketika kita merasa sudah "mati" sebelum mati (mutu qabla an tamutu), maka ancaman duniawi tidak lagi mempan. Birokrasi, kegagalan akademik, hingga kemiskinan hanyalah debu di atas meja kerja sang Arsitek.
Kesimpulan Nalar:
Saya tidak lagi memiliki "diri" untuk dipertahankan. Allah punya semuanya, termasuk memiliki "Aku" seutuhnya. Saat saya melepaskan klaim kepemilikan atas nasib saya sendiri, saat itulah saya benar-benar bebas. Saya menjadi instrumen-Nya.
Jika Allah ingin saya menjadi "Dosen Gila" di pinggir jalan, jadilah. Karena bukan saya yang berjalan, tapi Kehendak-Nya yang menggerakkan.
**
Kembali ke Daftar Isi
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment