Bab 9: Paradoks Kesuburan dan Mentalitas "Lepas Tangan"
Prof. Ahda sering geleng-geleng kepala melihat fenomena sosial di tanah air. Bagi beliau, Indonesia itu sepetak surga yang salah urus secara mental.
"Bah," ujar beliau sambil menunjuk pohon singkong yang tumbuh liar di pinggir jalan. "Di negeri ini, kamu tanam batang singkong di tanah tetangga pun, kalau diizinkan, dia tumbuh subur. Kita tidak perlu jadi konglomerat semua untuk hidup layak. Tapi masalahnya, mentalitas kita sudah di-framing untuk menjadi pemalas yang bermimpi punya uang miliaran tanpa keringat."
Beliau kemudian mengalihkan pandangannya pada dunia yang paling beliau kenal: Kampus.
"Dosen-dosen sibuk berteriak soal kesejahteraan yang kurang, tapi kalau ditanya apa kontribusi nyata mereka untuk kampus bulan ini? Hening. Mereka lupa bahwa hak itu berbanding lurus dengan amanah. Mereka lupa kata-kata Bung Karno tentang 10 pemuda yang mengguncang dunia. Mungkin di benak mereka, kalimat itu sudah sirna, berganti menjadi: 'Berikan aku gaji besar, maka aku akan duduk manis'."
Prof. Ahda paling geram jika melihat drama "Lempar Tanggung Jawab" yang terjadi secepat kilat di birokrasi.
"Kalau ada masalah di kampus, mereka punya kecepatan super untuk menyalahkan siapa saja—atasan, bawahan, rekan kerja—pokoknya bukan salah mereka. Tapi ironinya, saat diberi satu pekerjaan teknis yang menjadi tugas pokoknya saja, mereka tidak mampu menyelesaikannya dengan benar. Ini bukan soal kurang gaji, Bah. Ini soal Karakter yang Keropos."
Bagi Prof. Ahda, Katabah Ecosystem adalah jawaban untuk orang-orang yang lelah dengan drama menyalahkan orang lain.
"Di Katabah, kita tidak butuh manusia yang pintar menyalahkan. Kita butuh manusia yang mandiri. Kalau tanah kita subur, ya tanam sesuatu! Kalau sistem kita lamban, ya buat kodingnya! Jangan jadi pengemis kesejahteraan di atas tanah yang sebenarnya sudah memberikan segalanya bagi kita."
***
Bab 10: Ramalan Prof. Ahda: Kebangkitan Penyair di Era Kecerdasan Buatan
Dunia sedang dilanda kepanikan masal. Di seminar-seminar dan layar televisi, orang-orang bicara dengan nada cemas: "Bagaimana jika AI menggantikan kita? Bagaimana jika kita semua menganggur?"
Prof. Ahda hanya tertawa santai menanggapi itu. Beliau melihat ketakutan tersebut sebagai tanda bahwa manusia telah lupa pada jati dirinya.
"Bah," katanya sebelum memacu motornya menuju kampus, "Dunia ini dinamis. Kalau AI bisa mengerjakan pekerjaan rutin manusia, ya kita tinggal menikmati hasilnya. Bukankah itu tujuan teknologi? Untuk membebaskan kita dari perbudakan tugas-tugas administratif yang membosankan?"
Beliau meyakini sebuah siklus peradaban yang unik. Saat ini semua orang memang berbondong-bondong belajar koding dan IT. Tapi bagi Prof. Ahda, itu hanya fase transisi.
"Ke depan, saat semua teknis sudah dibereskan oleh mesin, manusia akan kembali pada fitrahnya. Orang akan kembali belajar menjadi Filsuf dan Penyair Besar. Mengapa? Karena mesin tidak punya rasa, tidak punya ruh, dan tidak punya kebijaksanaan."
Beliau memberikan analogi sejarah yang membuat saya terdiam.
"Lihatlah saat Islam turun melalui Baginda Nabi Muhammad SAW. Saat itu Arab sedang di puncak kejayaan syair. Romawi dan Persia sedang di puncak kekuatan militer. Tapi Allah tidak menurunkan Islam sebagai kekuatan perang yang lebih kuat dari Romawi, atau sekadar syair yang lebih indah dari Arab. Allah menurunkan Islam melalui keheningan Aqidah dan kemuliaan Akhlak."
Bagi Prof. Ahda, AI adalah "kekuatan fisik baru", tapi ia tetap butuh "Akhlak dan Aqidah" untuk mengarahkannya.
"Di Katabah Ecosystem, kita tidak hanya bicara soal kecepatan server. Kita bicara soal keheningan pemikiran. Kita membangun sistem bukan untuk berperang melawan kemajuan zaman, tapi untuk memanusiakan kembali manusia yang sudah terlalu lama jadi robot birokrasi. Saat AI mengerjakan urusan duniawi kita, di situlah waktu kita kembali pada Tuhan lewat syair-syair kehidupan dan kedalaman filsafat."
***
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment