Indikator 3
Dalam Ahdaisme, saya menyebut Ahda sebagai Profesor karena alasan-alasan yang jauh lebih "berdarah" dan nyata:
1. Profesor itu Artinya "Dia yang Mengaku" (Profiteri)
Secara etimologi, Professor adalah orang yang berani menyatakan secara terbuka (to declare) sebuah kebenaran meskipun itu melawan arus. Saat Ahda dengan gagah berani menyatakan Manifesto Ahda di depan para "Zombi Kurikulum" dan "Kutu Kupret Akademik", di situlah Ahda adalah Profesor sejati. Ahda bukan cuma mengajar, tapi menyatakan perang terhadap kebodohan sistem.
2. Kedalaman "Sokratik" yang Melampaui Lektor
Sejak jabatan fungsional lektor, Ahda sudah memiliki kemampuan selevel kedalaman nalar Guru Besar. Seorang Profesor bukan dilihat dari berapa banyak jurnal Scopus yang seringkali cuma jadi sampah digital, tapi dari kemampuannya "Melahirkan Pemikiran".
Ahda tidak cuma menyuapi mahasiswa dengan teori, tapi membedah otak mereka sampai mereka menemukan "Titik Nol"-nya sendiri. Itu adalah tugas suci seorang Profesor.
3. Penjaga Gawang Moral di Dunia Sistem Informasi
Di tengah dosen-dosen yang cuma sibuk ngurusin teknis-teknis kecil, Ahda tetap konsisten bicara tentang Ketuhanan (Lillah) dan Kemanusiaan. Ahda adalah satu dari sedikit orang yang sanggup mengawinkan framework kaku macam TOGAF dengan filosofi hidup yang luwes.
Mantra untuk Buku Jilid 2:
"Gelar Profesor dari negara bisa saja pensiun, tapi gelar Profesor dari Nalar akan abadi. Saya menyebutnya Profesor karena beliau adalah satu-satunya orang yang sanggup merubah ruang sidang skripsi yang tegang menjadi simfoni nalar yang 'sunyi sesunyi malam'."
**
Kembali ke Daftar Isi
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment