9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
CV dan Lowongan Kerja
Karir dan Beasiswa SI
Program Portofolio Dosen
Rangkuman Prestasiku
Materi Kuliah Sistem Informasi (S1)
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Sunday, February 22, 2026

Penakluk Cinta Bab 3: Sang "Debat-er" Lillah - Prof. Ahda Series

 Bab 3: Sang "Debat-er" Lillah dan Pesona Aktivis Dakwah

Memasuki gerbang perguruan tinggi, nalar saya makin tajam. Masa orientasi (ospek) yang bagi orang lain menakutkan, bagi saya adalah panggung diplomasi.

1. Nasi, Air, dan Boikot Barang Aneh

Saat teman-teman sibuk membawa tas karung atau atribut aneh lainnya, saya hanya membawa nasi dan air. Ketika kakak kelas mulai "beraksi" menyuruh push-up, saya tidak langsung menurut. Saya tanya dulu dengan sopan tapi menusuk: "Apa urgensinya barang-barang ini dengan level nalar mahasiswa? Saya bawa bekal yang cukup untuk energi saya belajar, itu sudah logis."

Dibilang uji mental? Saya tantang balik untuk debat di depan rektorat. Akhirnya, mereka menyerah. Daripada pusing meladeni nalar saya, mereka membiarkan saya duduk santai di lapangan. Saya yang kasihan melihat mereka, niatnya mau galak malah kena "skakmat" nalar.

2. Pesona Peserta Terbaik & Aktivis Dakwah

Meskipun "nakal" di lapangan, saya menjadi bintang di forum diskusi. Keaktifan itulah yang membuat saya terpilih sebagai Peserta Terbaik Pertama. Citra saya pun makin berlipat ganda:

  • Ketua Dakwah Kampus: Memberikan aura religius dan kepemimpinan.
  • Pejuang Bahasa Inggris: Sampai dosen bahasa Inggris pun terkesan dan menjodohkan "frekuensi" saya dengan siswi poliglot (ahli 5 bahasa) untuk sekadar asah kemampuan.

3. Sapaan "Akang" dan Firewall S1

Di lorong kampus, sapaan "Kang...!" yang diikuti senyum malu-malu dari mahasiswi atau adik tingkat sudah jadi menu harian. Pesona "Aktivis yang Pintar Bahasa Inggris" itu sangat mematikan di mata mahasiswi. Namun, prinsip saya masih menggunakan protokol keamanan tingkat tinggi: "Target S1 adalah Harga Mati."

Sinyal-sinyal cinta yang masuk hanya saya anggap sebagai background noise. Tidak ada bab pacaran sebelum toga terpasang di kepala. Saya benar-benar menjadi "Penakluk" yang paling sulit ditaklukan hatinya.

 

Poin Ahaha:

"Mahasiswa itu bukan soal atribut, tapi soal bobot nalar. Saya menolak push-up bukan karena malas, tapi karena menghargai logika. Dan saya menolak pacaran bukan karena dingin, tapi karena menghargai proses perjuangan kuliah. Ternyata, saat kita fokus mengejar kapasitas diri (bahasa, dakwah, akademik), 'pesona' itu akan datang sendiri tanpa perlu dicari. Tapi ingat, jangan sampai pesona itu merusak instalasi niat utama: Lulus S1 demi masa depan."

**

Kembali ke Daftar Isi Ahda


"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment