Pembukaan:
Pernahkah Anda melihat rekan kerja di kantor atau di kampus yang secara akademis sangat cerdas? Gelarnya berderet, hafal banyak teori, bicaranya tinggi, dan kalau ada celah untuk menambah penghasilan pribadi, mereka paling cepat mengamankannya.
Tapi anehnya, giliran organisasi butuh solusi, butuh dikerjakan sesuatu yang sifatnya gotong royong, atau butuh pengorbanan waktu... mereka mendadak hilang! Ujung-ujungnya, beban pekerjaan kembali lagi ke orang-orang yang mau "turun tangan". Kenapa fenomena "Cerdas tapi Zonk" ini banyak terjadi?
Perspektif Sistem Informasi ala Prof Ahda
Sebagai orang yang bergerak di bidang Sistem Informasi (SI), saya melihat fenomena ini murni karena masalah Arsitektur Sistem.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (khususnya pada Kitab Al-'Ilm / Bab Ilmu) membagi ilmu menjadi dua: Ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak bermanfaat itu ibarat tumpukan data (raw data) di dalam memori komputer yang sangat besar, tapi tidak pernah diproses oleh processor untuk menghasilkan sebuah Output yang berguna bagi sistem keseluruhan.
Mari kita bedah kenapa sistem mereka bisa "macet":
Bug pada Sistem Niat: Al-Ghazali selalu menekankan pentingnya niat. Banyak orang pintar yang mencari ilmu hanya untuk input dirinya sendiri (mengejar jabatan, puji-pujian, atau sekadar menambah pundi-pundi rupiah). Ketika niatnya hanya untuk diri sendiri, sistem di kepalanya otomatis mem-blokir segala aktivitas yang tidak menghasilkan keuntungan pribadi.
Ketiadaan 'Action Script' (Amal): Di dunia pemrograman, kode sebagus apa pun tidak akan menghasilkan aplikasi keren kalau tidak pernah di-compile dan dijalankan (execute). Orang-orang pintar ini punya kode-kode teori yang hebat di kepalanya, tapi mereka malas mengeksekusinya menjadi aksi nyata karena takut lelah atau tidak ada bayaran tambahannya.
Kembalinya Sistem ke 'Core Processor': Ketika sistem organisasi mengalami masalah atau crash, kepintaran teori mereka biasanya tidak bisa diandalkan. Kenapa? Karena menyelesaikan masalah nyata butuh empati, keberanian mengambil keputusan, dan kerja keras. Akhirnya, sistem kembali mencari orang-orang yang punya nalar taktis dan mau berkorban untuk menjadi penyelamat.
Penutup:
Kepintaran tanpa kontribusi nyata hanyalah kesia-siaan. Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa ilmu itu dinilai dari buahnya (amal dan kemanfaatannya), bukan dari seberapa banyak tumpukan teorinya.
Jadi, mari kita introspeksi diri: Apakah kita sudah menjadi manusia yang memberikan output solusi bagi lingkungan sekitar, atau baru sebatas menjadi monitor yang menyala terang tapi mesinnya tidak memproses apa-apa?
#
Kembali ke Daftar Isi Perspektif Prof. Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment