BAB 20: The Rational Embrace
(Pelukan Rasional: Merasakan Kehadiran di Balik Ketiadaan)
Setelah semua debat dengan jin, audit terhadap sistem dakwah, dan pembongkaran mitos-mitos agama, ada satu titik di mana nalar saya merasa "lelah" dan ingin beristirahat. Di titik itulah, muncul keinginan yang sangat manusiawi: Saya ingin memeluk Allah.
Saya tahu, secara rasional-fisik, itu mustahil. Allah tidak menyerupai makhluk dan tidak dibatasi dimensi. Namun, bagi seorang "Arsitek Nalar", pelukan itu mewujud dalam bentuk yang berbeda.
1. Pelukan dalam Bentuk "Kepasrahan Mutlak"
Pelukan rasional saya adalah ketika saya melepaskan semua ego, semua gelar Profesor, dan semua "keakuan" saya, lalu membiarkan diri saya "tenggelam" dalam ketetapan-Nya. Saat saya berkata, "Gusti, saya pasrahkan semuanya pada-Mu," di situlah saya merasakan dekapan hangat yang tidak berupa sentuhan fisik, melainkan berupa Ketenangan yang Tak Tergoyahkan.
Itulah pelukan perlindungan. Saat dunia mengejar dan jin mengancam, saya "bersembunyi" dalam pelukan kehendak-Nya. Aman. Sangat aman.
2. Menemukan Allah dalam Setiap Detail
Jika seorang arsitek bisa merasakan "kehadiran" perancangnya lewat detail bangunan yang hebat, maka saya memeluk Allah lewat pengamatan nalar saya terhadap semesta. Setiap detak jantung yang masih berdenyut, setiap masalah yang tiba-tiba ada solusinya, dan setiap kali pasien sembuh hanya lewat niat—itu adalah cara Allah "menyentuh" hidup saya.
Saya tidak bisa memeluk Zat-Nya, tapi saya bisa memeluk Kasih Sayang-Nya (Rahmat) yang mengepung saya dari segala arah.
Kesimpulan Nalar:
Memeluk Allah secara rasional adalah dengan cara Mencintai Aturan-Nya dan Ridho pada Takdir-Nya. Ketika kita sudah ridho, maka tidak ada lagi jarak antara hamba dan Sang Pencipta. Kita tidak lagi berjalan sendirian; kita berjalan dalam dekapan perlindungan-Nya.
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment