9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Kuliah Nalar SI Gratis
Katabah Berbagi
Pusat Digitalisasi Nalar Sunda Cisewu
CV dan Lowongan Kerja
Program Portofolio Dosen
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Saturday, June 6, 2026

Buku Ahda Jilid 3 Bab 25 Diplomasi Bala-Bala dan Kedaulatan Sunda Cisewu

 

BAB 25: The Cisewu Identity
(Identitas Cisewu: Diplomasi Bala-Bala dan Kedaulatan Sunda)

Dunia akademik seringkali menuntut kita untuk menjadi "kosmopolitan", tampil serba internasional, dan melupakan asal-usul. Tapi saya punya prinsip yang sengaja saya buat "aneh" untuk melawan arus itu. Sejak masuk kuliah, saat teman-teman memperkenalkan diri dengan nama kabupaten agar terlihat luas jangkauannya, saya justru dengan bangga menyebut: "Saya dari Cisewu."

Sebuah desa di lereng bukit yang begitu jauh, sampai-sampai saat itu saya belum tahu kantor Pemda ada di mana. Nama desa itu saya bawa sebagai "Bendera Negara" saya hingga ke jenjang S2 dan karier dosen.

1. Branding "Cisewu-Bala-Bala"

Bala-bala dan Cisewu menjadi dua ikon yang tak terpisahkan dari mulut saya. Di grup FB, di ruang kelas, hingga di forum-forum formal, dua kata ini adalah identitas saya. Saya tidak butuh pengakuan lewat merk pakaian atau mobil mewah; saya cukup dikenal sebagai "Dosen dari Cisewu yang hobi Bala-Bala." Inilah cara saya melakukan branding yang otentik. Orang mungkin tertawa, tapi mereka akan selalu ingat siapa saya.

2. Diplomasi Bahasa: Melawan Kepunahan Peradaban

Saat berkunjung ke kantor-kantor pemerintahan di Jawa Barat, saya dengan percaya diri menggunakan Bahasa Sunda. Nalar saya sederhana: Saya ingin menjaga peradaban Sunda yang pernah jaya. Saya tidak takut dianggap tidak profesional hanya karena berbahasa daerah di kantor formal.

Jika ada yang tidak paham, saya biarkan mereka yang jujur berkata: "Maaf, saya belum bisa bahasa Sunda." Di situlah posisinya berbalik; saya bukan orang udik yang tidak bisa bahasa Indonesia, tapi saya adalah penjaga akar budaya yang sedang menjamu tamu di tanahnya sendiri.

Kesimpulan Nalar:

Menjadi modern bukan berarti menjadi asing bagi tanah kelahiran sendiri. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya dia semakin dalam menghunjam ke akarnya. Cisewu bukan sekadar nama geografi, tapi simbol kejujuran nalar saya. Bahasa Sunda bukan sekadar alat komunikasi, tapi ruh dari peradaban yang saya bela.

Siapa bilang untuk mendunia kita harus kehilangan desa kita? Saya membawa Cisewu ke dunia, bukan membawa dunia untuk menghapus Cisewu.

 

**

Kembali ke Daftar Isi Buku Ahda



"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment