9 Buku Saya | Tridarma Tasdik | Prodi Sistem Informasi | Skripsi SI
Kuliah Nalar SI Gratis
Katabah Berbagi
Pusat Digitalisasi Nalar Sunda Cisewu
CV dan Lowongan Kerja
Program Portofolio Dosen
Blog dan Pengalaman | Korban AI | Siap Kerja | Kontak | PrivacyPolicy | Inggris Arab | Daftar Isi

Friday, June 5, 2026

Buku Ahda Jilid 3 Bab 24 Filosofi Bala-Bala

 

BAB 24: The Bala-Bala Philosophy
(Filosofi Bala-Bala: Menjaga Lidah dari Penjajahan Kemewahan)

Dunia akademik seringkali menjanjikan "bonus" finansial, seperti dana Serdos (Sertifikasi Dosen) yang akan cair. Teman-teman dan kolega mulai bercanda tentang mobil baru atau simbol kemewahan lainnya. Tapi bagi saya, nalar "Lapar Peradaban" jauh lebih kuat daripada "Lapar Uang".

1. Investasi Otak vs Investasi Besi

Saya memang masih ingin mobil (sebagai alat fungsional), tapi gairah saya lebih dominan untuk memberikan kuliah gratis demi peradaban. Saya ingin uang itu berubah menjadi Ilmu yang Mengalir, bukan sekadar besi yang menyusut nilainya. Saya merasa lebih kaya saat melihat orang lain cerdas karena bantuan saya, daripada melihat diri saya duduk di dalam mobil mewah tapi nalar orang di sekitar saya mati.

2. Kesederhanaan yang Konsisten

Istri saya pun masih sering heran, padahal saya sudah "jujur" soal hubungan saya dengan uang sejak muda. Saya tidak punya chemistry dengan kemewahan. Di hotel-hotel berbintang saat menjadi narasumber, di saat orang lain berpesta pora mencoba semua menu (mumpung gratis!), saya justru mencari Bala-Bala.

Bagi saya, perut adalah tangki bahan bakar, bukan tempat sampah kemewahan. Ada dua alasan nalar saya:

  • Integritas Rasa: Bala-bala sudah cukup membuat saya bahagia. Kenapa harus mencoba semua menu kalau hanya untuk memuaskan nafsu?
  • Empati Struktural: Saya merasa malu menikmati hidangan mewah sendirian sementara keluarga di rumah tidak ikut menikmatinya. Rasa sayang saya kepada istri dan anak mewujud dalam bentuk "rem" pada nafsu makan saya. Saya lebih memilih makan nasi dan lauk secukupnya, menjaga kesederhanaan agar frekuensi hati saya tetap tersambung dengan rumah.

Kesimpulan Nalar:

Kebahagiaan itu bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita beli, tapi seberapa sedikit yang kita butuhkan untuk merasa cukup. Dengan bala-bala, saya tetap bisa berpikir tajam. Dengan hidup sederhana, saya punya sisa energi dan materi untuk membangun orang lain.

Uang Serdos itu hanyalah "alat berat" untuk membangun proyek akhirat saya, bukan untuk membangun monumen kesombongan pribadi.

 **

Kembali ke Daftar Isi Buku Ahda 

 

"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi

No comments:

Post a Comment