BAB 23: The Infinite Connection
(Koneksi Tanpa Putus: Dzikir Melampaui Sajadah)
Ada sebuah pesan dari Almarhum Ayah yang baru saya sadari sepenuhnya sekarang: Dzikir itu harus selamanya, bukan cuma saat duduk memutar tasbih. Kalimat ini bukan sekadar nasehat agama, tapi sebuah arsitektur kesadaran. Jika dzikir hanya saat duduk diam, maka saat kita berdiri, kita kehilangan Tuhan. Tapi jika dzikir adalah kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap garis yang saya gambar, setiap langkah yang saya ambil, dan setiap keputusan yang saya buat, maka itulah dzikir yang "selamanya".
1. Tahajud "Tanpa Proposal"
Saya sering merasa bingung saat Tahajud. Orang lain punya daftar permintaan yang panjang seperti proposal proyek, sementara saya? Saya bingung mau minta apa. Bukan karena saya sudah punya segalanya, tapi karena saya sudah punya Allah.
Saya sampai curhat ke Allah: "Gusti, saya ini belum cukup ilmu tentang doa-doa yang istimewa. Saya shalat Tahajud mah shalat saja, sebagai tanda saya sayang dan rindu pada-Mu. Soal kebutuhan saya, Engkau kan Arsiteknya, Engkau lebih tahu material apa yang saya butuhkan sebelum saya sempat memintanya."
2. Ibadah adalah Pertemuan, Bukan Transaksi
Bagi saya, Tahajud bukan lagi pasar tempat saya menukar rakaat dengan keinginan. Tahajud adalah waktu kencan pribadi. Saya tidak perlu membawa daftar belanjaan; saya hanya perlu membawa diri saya yang utuh.
Logika saya sederhana: Jika kita sudah mencintai Sang Pemilik, apakah mungkin Dia akan membiarkan kita kekurangan? Keyakinan inilah yang membuat ibadah saya menjadi sangat rileks. Saya tidak lagi stres mengejar "keajaiban" doa, karena bagi saya, bisa bangun dan sujud di hadapan-Nya adalah keajaiban itu sendiri.
**
Kembali ke Daftar Isi Buku Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment