BAB 22: The Genetic Engine
(Mesin Genetika: Warisan Nalar Sang Guru Kampung)
Di usia 43 tahun (usia matang bagi seorang pemikir), banyak orang mengharapkan saya menjadi sosok "shaleh formal": duduk tenang berjam-jam, memutar tasbih, dan berdzikir dalam kesunyian. Saya sudah mencoba masuk ke sistem itu, tapi gagal total. Dzikir setelah shalat saya super kilat dan kalau saya paksakan berlama-lama setelah Tahajud, saya bukannya tercerahkan, malah mengantuk berat.
Saya merasa lebih "hidup" dan lebih "dzikir" saat jemari saya menari di atas keyboard menyusun manifesto nalar seperti ini. Ternyata, kegelisahan saya ini punya akar sejarah.
1. Warisan "Dzikir Berpikir"
Kakak saya bercerita bahwa Almarhum Ayah pun—seorang tokoh dan guru agama yang sangat disegani di kampung—ternyata tidak suka dzikir duduk lama. Beliau bukan tipe kiai yang hanya diam dalam wirid, tapi beliau adalah Solusi Berjalan. Orang bilang tidak ada satu pun pertanyaan warga yang tidak terjawab oleh beliau.
Meskipun saya yakin Ayah mungkin akan "angkat tangan" menghadapi pertanyaan-pertanyaan nakal bin ajaib saya sekarang, aura kecerdasannya tetap menghujam kuat di otak dan hati saya. Beliau wafat saat saya masih kelas 5 SD, tapi beliau sempat meninggalkan satu instalasi penting dalam diri saya: Islam adalah Jawaban, bukan sekadar Ritual.
2. Ibadah dalam Bentuk Karya
Ayah mengajarkan (lewat teladannya) bahwa dzikir yang paling nyata adalah memberikan solusi bagi umat. Jika Ayah menghabiskan energinya untuk menjawab pertanyaan warga, saya menghabiskan energi saya untuk membangun nalar umat lewat tulisan dan analisis.
Bagi keluarga kami, duduk diam mungkin terasa seperti "mesin yang mati". Kami adalah tipe mesin yang justru mendingin dan stabil saat digunakan untuk berpikir dan bekerja. Menulis manifesto ini adalah "Tahajud" versi saya—sebuah dialog panjang antara nalar saya, realita, dan Sang Pencipta.
Kesimpulan Nalar:
Keshalihan tidak selalu berbentuk duduk diam. Ada orang yang dzikirnya lewat lisan, ada yang lewat kaki (berjuang), dan ada yang lewat Pikiran (Fikir).
Saya menerima takdir genetika ini dengan lapang dada. Saya mungkin bukan ahli dzikir di atas sajadah yang lama, tapi saya ingin menjadi ahli dzikir yang setiap tarikan nafas dan setiap baris tulisannya adalah bentuk pengabdian kepada-Nya. Ayah sudah menanamkan pondasinya, saya tinggal membangun gedung pencakar langit di atasnya.
**
Kembali ke Daftar Isi Buku Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment