BAB 21: The Failed Sorcerer
(Penyihir Gagal: Antara Ajian Halimunan dan Realita Bisul)
Masa remaja saya adalah masa eksperimen sistem yang ekstrem. Di bawah bimbingan Kakak yang genius, saya mencoba menginstal "aplikasi gaib" ke dalam diri saya melalui ritual 7 hari 7 malam: shoum, dzikir di kamar, dan melakukan silent mode (tidak bicara). Ambisi saya sangat spesifik dan sangat "arsitektural": Saya ingin jadi genius matematika dan ingin bisa menghilang (Halimunan).
1. Logika di Balik Ambisi Menghilang
Alasan saya ingin menghilang bukan untuk mencuri atau melakukan kejahatan receh. Saya hanya ingin melakukan Audit Kurikulum secara rahasia. Saya ingin masuk ke ruang guru tanpa terlihat untuk melihat materi ujian, agar saya bisa belajar lebih fokus. Saya tidak mau dikasih contekan secara gaib saat ujian—itu tidak elegan dan tidak punya integritas akademik.
2. Perlawanan terhadap "Sistem Pengajaran yang Gagal"
Ketertarikan saya pada ilmu gaib sebenarnya adalah bentuk pelarian dari frustrasi akademik. Saya menilai guru matematika saya gagal; jika dari satu kelas hanya satu orang yang paham, maka yang bermasalah bukan muridnya, tapi metodenya! Saya lebih memilih menelan bulat-bulat buku Aljabar sendirian daripada mengikuti arus "nyontek massal". Bahkan guru Kimia saya pun hanya bisa tersenyum tipis saat saya menolak mengerjakan soal hitungan karena enggan nyontek.
3. Debugging System: Output Berupa Bisul
Setelah 7 hari ritual selesai, saya berharap ada update pada prosesor otak saya atau munculnya fitur invisible. Ternyata, "output" dari ritual itu bukan kecerdasan kuantum, melainkan Bisul Raksasa di dahi dan bisul-bisul kecil di kepala.
Saya mencoba melakukan User Acceptance Test (UAT) terhadap ajian halimunan saya. Saya berdiri di tengah lingkaran tanah, berharap dunia tidak melihat saya. Tapi kenyataannya pahit: tetangga yang lewat masih menyapa saya dengan santai. Ajian Halimunan saya Gagal Total. Otak saya tetap tidak bisa matematika dan tubuh saya tetap terlihat jelas oleh seluruh penduduk kampung.
Kesimpulan Nalar:
Allah sedang menegur saya dengan cara yang sangat humoris. Lewat bisul di dahi, Allah seolah bilang: "Ahda, kamu itu diciptakan untuk jadi pemikir yang berproses, bukan penyihir yang instan. Jangan coba-coba pakai jalur pintas gaib kalau tugasmu adalah membangun nalar."
Kegagalan ilmu halimunan itu adalah berkah. Karena kalau saya bisa menghilang, mungkin saya tidak akan pernah belajar tentang Integritas dan Kerja Keras. Dan soal matematika? Ternyata Allah tidak butuh saya jadi ahli hitung-hitungan rumus, Dia butuh saya jadi ahli hitung-hitungan nalar kehidupan.
**
Kembali ke Daftar Isi Ahda
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via YouTube: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment