Ekspresi | Les Private Arab-Inggris via WA dan BBM Gratis | Sunda | Kontak | Google | Gmail | Uang Adsense
Toko Baju Online Abah + Bonus
LP3I Tasikmalaya
Bahasa Arab (Kelas 1 SD sampai Universitas)
Bisnis Bitcoin | Daftar Isi | Tools Penting | PrivacyPolicy | Jago Bahasa Inggris dan Arab | Kamus | Kamus Google

Wednesday, October 5, 2016

Menanam Cabai Rawit di Pekarangan Rumah Foto

Hello Katabah!

Ada pemandangan dan pengalaman menarik bagi Abah, yaitu cabai rawit (cabai kecil) atau yang biasa dikenal cabe cengek oleh orang Sunda tumbuh di tengah bebatuan yang ada di pekarangan rumah.


Pohon cabai itu tumbuh sendiri dan tanpa pemeliharaan apapun. Saat ini, ia berbuah cukup lebat dan hampir tiap hari Abah memetik satu atau dua buah untuk dimakan, disambal atau dijadikan bumbu tumis kangkung dan bayam agar terasa agak pedas hingga lebih lezat. Hebat juga tuh cabai, paneeeen! Hehe

Abah belum berani sengaja menanam cabai karena ada isu tidak mudah menjaga agar berbuah tetap lebat dan tidak busuk.

Penjualan buah cabai juga terdengar cukup beresiko karena buah cabai kadang mengalami naik/turun (fluktuasi) harga sangat tajam. Buah cabai pun bisa busuk kalau tidak tepat waktu memanennya. Inilah isu yang membuat Abah masih enggan budidaya cabai.

Tapi kalau untuk konsumsi keluarga sendiri tidak masalah. Sekarang ada sekitar lima tangkai cabai, termasuk yang di polybag.

Yang perlu diketahui oleh para petani cabai pemula adalah jenis-jenisnya. Menurut lidah Abah, tidak semua buah cabai enak.

Yang enak itu cengek Bungbulang. Cirinya, kecil sekali dan pedas sekali. Sangat cocok dibuat sambal goang (cabai+garam+sasa) atau dimakan langsung dengan bala-bala (bakwan) atau tahu goreng.

Bungbulang itu terletak di Garut. Namun, cabai Bungbulang bisa tumbuh dan dijual di luar Garut. Abah sendiri lahir di Cisewu Garut. Sejak kecil hingga kuliah hanya mengenal cabai rawit Bungbulang (cengek Bungbulang). Yang masih hijau juga sangat pedas asalkan sudah tua (saat dipijit jari terasa keras).

Cengek yang enak saat di Cisewu Garut berwarna hijau sebelum matang. Namun, saat ini, cabai yang ada di foto di atas juga pedas dan enak, tidak peuheur. Hihi

Sedangkan cabai rawit lain biasanya berukuran lebih besar dan agak hambar (Sunda: peuheur). Abah pribadi mah tidak suka, kecuali benar-benar tidak ada cengek Bungbulang dalam waktu lama. Ya terpaksa...



"Bitcoin and Forex are high risk business. We must join them smartly."
loading...

No comments:

Post a Comment