Bab 22: Melampaui Sang Kamus Berjalan: Duel Logika di Balik Rindang Pohon
Di keluarga Prof. Ahda, intelektualitas bukanlah barang mewah, melainkan nafas sehari-hari. Beliau memiliki seorang kakak yang luar biasa—seorang "Kamus Berjalan" yang menguasai Bahasa Arab, Inggris, dan sangat gandrung pada filsafat. Bagi teman-temannya di kampus besar, sang kakak adalah otoritas ilmu. Namun, di mata Prof. Ahda muda, sang kakak adalah sparring partner terbaik untuk mengasah pedang nalar.
"Kakak saya itu luar biasa," kenang Prof. Ahda sambil tersenyum bangga. "Beliau bisa bicara filsafat berjam-jam. Tapi, sehebat-hebatnya Kamus Berjalan, beliau pernah luput juga saat saya 'uji'. Mungkin beliau lupa bahwa adiknya ini bukan sekadar pendengar yang patuh, tapi seorang pemburu logika yang teliti."
Momen di kebun itu bukan sekadar obrolan santai, tapi adalah "Ujian Terbuka". Di sela-sela rindangnya pepohonan, sang adik yang 10 tahun lebih muda justru berhasil menemukan celah dalam argumen sang kakak yang legendaris itu.
"Itulah indahnya kebenaran," lanjut Prof. Ahda. "Ia tidak melihat usia, tidak melihat siapa yang kuliah di kampus lebih besar. Jika logikamu presisi, maka sang 'Kamus Berjalan' pun harus mengakui kekhilafannya. Di kebun itulah saya belajar bahwa otoritas bukan berarti tidak bisa salah."
Prinsip ini menjadi ruh dalam pengembangan Katabah Ecosystem:
"Di Katabah, kita tidak mengenal senioritas yang buta. Kita mengenal Kedaulatan Logika. Siapa pun kamu, entah kamu junior atau senior, jika argumenmu didukung oleh data yang valid dan logika yang lurus, kamu punya hak untuk bersuara. Kita membangun sistem di mana 'adik' bisa mengoreksi 'kakak' tanpa ada rasa benci, demi satu tujuan: Presisi."
|
"Boleh Konsultasi Masuk Jurusan Sistem Informasi via Tiktok: @katabahcom."
|
|
Tips Skripsi Program Studi Sistem Informasi |
|
|
No comments:
Post a Comment